06 February 2021, 07:58 WIB

Keluarga Pasien Covid-19 di Temanggung Dikucilkan dan Dijauhi


Tosiani | Nusantara

UNTUK kesekian kalinya, Ambarina, 53, membenahi letak masker yang hampir menutup bagian bawah mata. Warga Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah itu menjadi lebih berhati-hati setelah sempat menjalani karantina mandiri selama beberapa hari lantaran anak sulungnya, F, 26 dinyatakan positif covid-19. Hingga kini, perasaan takut dan trauma masih dirasakan Ambarina.

Kekawatirannya tidak sekedar mengenai penyakit akibat infeksi virus berbahaya tersebut. Ia juga harus menghadapi stigma buruk di masyarakat, menjadi bahan gunjingan, hingga dijauhi dan dikucilkan tetangga-tetangganya sendiri. Situasi sulit dan tertekan itu ia alami selama masa karantina.

Diceritakan Ambarina, semula F, puteri sulungnya yang bekerja di Yogyakarta pulang kampung ke Temanggung lantaran kantornya menjalankan kebijakan Work From Home (WFH), mulai Januari lalu.

Baca juga: Ganjar Senang Gerakan Dua Hari Di Rumah Diikuti Jabar-Kaltim

Namun, sebelum itu, ia telah menjalani rapid tes dan hasilnya negatif. Akan tetapi, setelah sampai di rumahnya, di daerah Parakan, F malah mengalami flu dan demam.

"Saya berpikir mungkin hanya flu biasa, sehingga saya hanya membelikannya obat flu dari apotek. Di samping itu, sebenarnya saya takut jika diperiksa dokter dan melakukan tes PCR hasilnya malah positif covid-19," ungkap Ambarina, Sabtu (6/2).

Setelah tiga hari berlalu, demam dan flu yang dialami F tidak kunjung sembuh. Malah muncul bercak kemerahan menyerupai ruam pada kulit seperti terkena demam berdarah. Ia juga kehilangan nafsu makannya.

Kondisi itu membuat Ambarina makin khawatir. Ibu dua anak ini lantas membawa anak dan suaminya untuk melakukan rapid test antigen di Puskesmas Dharmorini Temanggung. Hasilnya, F positif covid-19.

"Hasil tes untuk saya dan suami negatif. Anak saya yang kedua masih kuliah di daerah lain sehingga tidak ikut melakukan rapid test antigen," ujar Ambarina.

Dengan hasil tes antigen tersebut, Ambarina lantas berupaya memastikan kondisi anak dan keluarganya. Mereka pun berinisiatif melakukan tes usap melalui Puskesmas Traji di Kecamatan Parakan. Hasilnya masih sama, Ambarina dan suaminya negatif. Sementara F positif covid-19.

Semenjak itu, F melakukan isolasi mandiri di rumah orangtua Ambarina di daerah Parakan karena salah satu kamarnya memiliki fasilitas lengkap yang dibutuhkan sebagai ruang isolasi khusus.

Sedangkan orangtua Ambarina diungsikan sementara ke rumah keluarga lain yang tidak kontak erat dengan keluarga Ambarina.

"Selama menunggu hasil tes, saya merasa stres, panik, pokoknya sangat takut. Saya menjauhkan diri dari semua berita mengenai korona agar tidak tambah frustasi," tutur Ambarina.

Selama isolasi, sejak 12 Januari, F terpisah dari kedua orangtuanya. Sementara Ambarina yang negatif korona merawatnya.

Namun, karena harus menjaga jarak, ia memberikan makanan pada anaknya hanya melalui pintu. Ambarina juga telah meliburkan asisten rumah tangganya. Kebetulan Ambarina juga mendapat izin cuti dari instansi tempatnya bekerja guna merawat anaknya.

"Sebelum menerima hasil tes negatif, saya berbelanja kebutuhan pokok secara daring. Terkadang menitip belanja pada saudara yang tinggal di belakang rumah," katanya.

Setelah tahu dirinya negatif korona, barulah Ambarina berani keluar untuk belanja sayuran di dekat rumah. Namun, ketika itu, ia malah dijauhi tetangga lainnya dan sempat dikucilkan.

Awalnya, Ambarina tidak terlalu menyadari hal itu. Namun setelah lewat 15 hari isolasi, dan asisten rumah tangganya mulai masuk kerja, ia baru tahu bahwa dirinya tak hanya dijauhi dan dikucilkan, namun juga menjadi bahan gunjingan warga.

"Warga tahunya saya yang positif korona. Kepada pembantu saya, mereka mengakui telah menjauhi dan mengucilkan saya harena hal itu. Mungkin edukasi yang didapat masyarakat tentang covid-19 masih sangat kurang," ujar Ambarina. (OL-1)

BERITA TERKAIT