14 January 2021, 22:05 WIB

Wabah ASF, Ratusan Bangkai Babi Terserak di Lembata


Alexander P. Taum | Nusantara

BELUM selesai bencana erupsi Gunung Ile Lewotolok, wabah covid-19 menjadi ancaman serius eksistensi manusia, kini wabah mulai menyerang ternak dan tanaman di Kabupaten Lembata, NTT.

Wabah African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika yang menyerang wilayah Kabupaten Lembata dan sekitarnya, dua pekan belakangan ini telah menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit.

Warga mengaku ternaknya tiba-tiba kehilangan nafsu makan, kemudian keluar darah dari mata hidung dan mulut. Jika kondisi demikian, ternak babi itu langsung mati seketika.

Data dikeluarkan pemerintah Kabupaten setempat menyebutkan, hingga saat ini, sudah 466 ekor ternak babi dewasa mati. Wabah yang menyerang babi dewasa itu, mulai menimbulkan masalah ekologis dan ekonomi yang mengkhawatirkan. Sebagian bangkai ternak babi di buang begitu saja di sejumlah lokasi yang tidak jauh dari pemukiman.

Hamid Akim, Seorang nelayan di pesisir pantai Kelurahan Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Kamis (14/1/2020), mengaku dua kali menemukan bangkai ternak babi mengapung-apung di laut saat dirinya memancing di tengah laut.

"Bangkai babi itu besar sekali. Mengapung dekat perahu saat saya sedang memancing. Bangkai itu dari arah Barat. Saya tidak tau berasal dari mana. Itu hari pertama, sedangkan hari kedua turun melaut juga demikian. Saya temukan bangkai Babi mengapung di laut," ujar Hamid Akim.

Akibat penemuan bangkai babi di tengah laut, para nelayan kini kesulitan menjual ikan hasil tangkapannya. "Sekarang orang tidak mau beli ikan, karena banyak bangkai mengapung di laut. Orang takut wabah ASF. Sudah 4 hari belakangan ini, omset penjualan ikan menurun. Biasanya sehari bisa dapat Rp800 ribu, sekarang menurun drastis sampai Rp200 ribu," ujar Kadijah Taher, penjual ikan di Kelurahan Lewoleba.

Di sisi lain, warga Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat menemukan bangkai ternak babi di buang begitu saja di dalam saluran irigasi. Kondisi ternak itu sudah membengkak.

Katarina, warga Kelurahan Lewoleba Barat mengatakan, bangkai ternak itu dibuang oleh warga yang tak bertanggung jawab dan menganggu para petani sawah pengguna air.

Katarina kemudian mengontak Lurah Lewoleba Barat, Mikael Lajar, guna mengevakuasi bangkai tersebut dari saluran irigasi untuk dikuburkan. Dia bersama warga Waikomo meminta para pemilik ternak menjaga ekologi dengan menguburkan bangkai ternak yang mati akibat wabah ASF itu, bukan membuang begitu saja.

Lokasi Penguburan Masal

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq kepada mediaindonesia, Kamis (14/1/2021) mengatakan, pihaknya telah menyiapkan lokasi penguburan masal ternak warga yang mati. Pihaknya mengerahkan sebuah alat berat guna melayani penguburan masal ternak warga.

"Kita Kerjasama. Pihak Kecamatan Nubatukan urus evakuasi ternak mati bersama pemilik, kami siap kuburkan di lokasi. Posisi kemarin sudah 466 ekor ternak babi mati. Hari ini, kami akan kuburkan 22 ekor babi dewasa yang dibawa warga ke lokasi penguburan masal di Lamahora," ujar Kanisius Tuaq.

Kanisius Tuaq meminta warga yang menemukan adanya bangkai ternak babi, segera berkoordinasi dengan pemerintah agar bangkainya dikuburkan di lokasi penguburan masal yang disiapkan pemerintah.(OL-13)

Baca Juga: Gubernur Banten Klarifikasi Kisruh Vaksinasi di Tangerang

BERITA TERKAIT