14 January 2021, 15:52 WIB

Pandemi Picu Penurunan Harga Karet di Sumsel


Dwi Apriani | Nusantara

DI pekan kedua Januari 2021 ini, harga karet di Sumatra Selatan terus mengalami penurunan. Saat ini harga karet turun sebesar Rp146 menjadi Rp18.217. Turunnya harga karet di tingkatan lokal menyesuaikan harga karet dunia yang juga ikut anjlok.

Penyebabnya, laporan produsen pembuat mobil menunda impor karet karena khawatir penjualan bakal turun. Setelah beberapa negara Eropa mengumumkan lockdown.

''Harga karet turun di bursa Shanghai dan Sicom. Selain itu juga, penjualan di bursa Tocom juga ikut terkoreksi,'' kata Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, Kamis (14/1).

Rudi menjelaskan, belum ada faktor yang dapat memicu kenaikan harga karet di awal 2021 ini. Meski pertumbuhan ekonomi di global tumbuh positif, namun belum bisa memicu permintaan karet di beberapa negara besar.

''Selain itu, kondisi produksi di negara produsen utama masih belum pulih pasca cuaca ekstrem La Nina dan penyakit gugur daun pohon karet,'' terangnya.

Dijelaskan Rudi, harga karet diharapkan dapat bertahan di kisaran Rp18-19 ribu per kilogram untuk kadar karet kering (KKK) 100%. Sehingga, harga yang diterima petani di tingkatan lelang UPPB bisa mencapai Rp9-10 ribu.

''Namun yang bisa menikmati harga tersebut masih sangat rendah, kebanyakan petani masih tergantung dengan harga pedagang pengumpul,'' ucapnya.

Untuk itu, Pemprov Sumsel tetap mendorong petani untuk bergabung dalam UPPB yang saat ini sudag tersebar di 14 kabupaten/kota penghasil karet. Jumlahnya hingga Desember lalu sudah mencapai 284 UPPB.

''Tahun ini, kami akan terus meningkatkan jumlah UPPB. Targetnya tahun ini sebanyak 75 UPPB baru bisa terbentuk,'' bebernya.

Turunnya harga karet dalam seminggu terakhir tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan crumb rubber ke luar negeri. Sebab, sejak awal tahun, harganya cenderung fluktuatif.

Hanya saja, yang dikuatirkan pengusaha yakni keputusan pemerintah sejumlah negara untuk melaksanakan lockdown. Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKI) Sumsel, Alex K Eddy mengatakan, keputusan lockdown diprediksi bakal berdampak terhadap penjualan karet.

''Khususnya untuk negara pengimpor karet seperti Eopa, Amerika, Tiongkok, Korea, Jepang, dan India. Jika mereka memutuskan lockdown, otomatis akan berdampak terhadap penjualan karet kita yang ujungnya juga berdampak terhadap harga,'' ujar Alex.

Ia menuturkan, situasi harga sepanjang Januari cenderung fluktuatif. Sehingga tidak akan berdampak terhadap penjualan. ''Kalau dari sisi pengusaha tentunya tidak terlalu berdampak,'' katanya.

Pengusaha saat ini sangat berharap dengan keefektifan program vaksinasi massal yang sudah dilakukan seluruh negara di dunia. Sehingga pandemi bisa berakhir. ''Harapannya di program vaksin ini. Kita berharap vaksin sukses dan pandemi bisa berakhir. Agar industri kembali aktif lagi dan ekonomi bisa berputar,'' terangnya.

Ia menuturkan, pengusaha saat ini tidak bisa mengandalkan pasar dalam negeri. Sebab, serapan produknya masih rendah. Secara nasional, pemakaian karet dalam negeri hanya sebesar 600 ribu ton. ''Tidak sampai 20% dari produk karet secara nasional,'' pungkasnya. (DW/OL-10)

BERITA TERKAIT