14 January 2021, 14:07 WIB

100 Ekor Babi Mati Mendadak di Sikka Diduga Terpapar Virus Afrika


Gabriel Langga. | Nusantara

KABUPATEN Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diterpa kasus kematian babi secara mendadak. Ada sekitar 100 ekor babi diperkirakan mati secara mendadak khusus di bulan Januari 2021. Kematian babi tersebut diduga diserang virus African Swine Fever (ASF), atau demam babi Afrika.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha kepada mediaindonesia.com, Kamis (14/1) menyatakan, masuk di bulan Januari saja, sudah sekitar 100 lebih ekor babi milik warga Kabupaten Sikka yang mati mendadak. Untuk di Sikka ada dua wilayah yang saat ini banyak kasus kematian babi secara mendadak yakni Kecamatan Koting dan Nelle.

"Dua kecamatan itu saat ini yang paling banyak kasus kematian babi secara mendadak.  Kematian babi secara mendadak ini diduga diserang virus Afrika atau disebut flu Afrika. Gejala virus afrika pada babi sama seperti gejala hog cholera pada babi, antara lain, panas tinggi, napsu makan berkurang, merah pada bagian tubuh," ungkap Moris.

Moris mengatakan, sejak kematian babi secara mendadak yang terjadi di tahun 2020 sekitar 3 ribuan ekor, pihaknya sudah melakukan berbagai kegiatan seperti melakukan sosialisasi dan memeriksa hewan ternak babi di rumah-rumah warga. Bahkan pihaknya sudah melakukan penjagaan secara ketat di setiap perbatasan antar kabupaten hingga di bulan November-Desember tahun 2020 tidak ada lagi kasus kematian babi secara mendadak.

Namun justru di bulan Januari 2021, Kabupaten Sikka kembali digegerkan dengan kasus kematian babi secara mendadak. Ia menilai kematian babi secara mendadak diakibatkan dengan ulah papalele kita yang membeli babi dari Kabupaten tetangga yang lagi naik kasus kematian babi.

"Kabupaten tetangga ini kan lagi naik-naiknya kasus kematian babi mendadak. Sementara di Sikka sudah mulai turun hingga tidak ada lagi kasus. Hal ini dimanfaatkan oleh papale kita untuk membeli babi dari luar dan dijual di Kabupaten Sikka. Babi dari luar papalele ini beli dengan harga murah. Lalu papale ini jual kembali di kita di sini. Apalagi harga jual babi di Sikka sangat mahal sekarang," tandas Moris itu.

Menurut dia, babi yang mati mendadak ini lebih banyak warga beli di pasar dan saat ini virusnya sudah menyerang babi yang ada beberapa wilayah ini. Hingga saat ini sudah ada 100 ekor lebih babi di Kabupaten Sikka yang mati mendadak yang diduga terpapar virus Afrika.

"Saat ini kita mulai turun melakukan pencegahan agar tidak lagi meningkatnya kasus kematian babi di Kabupaten Sikka. Hanya bisa dengan
Biosecurity atau pengaturan lalu lintas hewan. Biosecurity itu tujuannya kita cegah supaya virus dari luar jangan masuk ke kabupaten atau masuk ke kecamatan atau ke desa atau ke satu kandang yang lain," papar dia.

Kepala Desa Nelle Barat Paulus Alus menyampaikan ada sekitar 60 ekor lebih babi milik warganya yang mati mendadak. Jumlah ini melebihi jumlah kematian babi pada tahun 2020 lalu.

"Petugas Kesehatan Hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka sudah turun ke lokasi dan mengambil sampel babi yang mati untuk diuji di laboratorium dan untuk mengetahui penyebab kematian babi-babi tersebut," pungkas dia (GL/OL-10)

 

BERITA TERKAIT