13 January 2021, 04:25 WIB

Ancaman Rawan Pangan setelah Amuk Lewotolok


PT/AT/AU/Ant/N-3 | Nusantara

SETELAH erupsi Gunung Lewotolok berlalu, masalah bagi warga belum selesai. Kelaparan mengancam warga Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Fakta itu diungkapkan Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur saat mengunjungi kampung-kampung warga yang sebelumnya terdampak erupsi. Warga sempat mengungsi, meninggalkan rumah, ladang, dan ternak mereka.  “Pascapengungsian, warga akan segera menghadapi masalah gagal tanam. Ada ancaman kelaparan sehingga kita harus sudah bersiap untuk mengatasinya dari sekarang,” ujar Sunur, kemarin.

Persoalan tanam, lanjutnya, terjadi karena kebanyakan petani harus mengungsi, saat hujan sudah mulai turun. Padahal, seharusnya mereka menanam saat itu.  “Selain itu, warga memang tidak boleh menanam dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Lewotolok,” tambahnya.

Untuk mengatasi ancaman kelaparan, Sunur mengaku pihaknya memiliki cadangan beras sebanyak 100 ton untuk membantu warga. “Kepala desa harus cepat melapor sehingga kami bisa cepat mendapatkan solusinya.”  

Gunung Lewotolok meletus pada 30 November. Sebanyak sekitar 5.800 warga daai 28 desa harus mengungsi. Amuk gunung ini mereda pada awal Januari. Pengungsi pun bisa kembali ke rumah, mengurus ladang dan ternak mereka.

Sementara itu di Gunung Merapi, ancaman bahaya belum berlalu. Aktivitas vulkanis masih tinggi. “Pada Selasa (12/1), masih terjadi guguran lava pijar sebanyak 14 kali, setelah sehari sebelumnya fenomena yang sama terjadi 25 kali. Guguran dengan jarak luncur paling tinggi 600 meter itu masih mengarah ke hulu Kali Krasak,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Hanik Humaida.

Kawah Merapi juga masih mengeluarkan gempa gugur­an, gempa embusan, dan gempa vulkanis dangkal.

Di lokasi pengungsian di Kabupaten Sleman, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan pelayanan terhadap warga yang mengungsi di Glagaharjo tetap berjalan di tengah kebijakan pengetatan terbatas kegiatan masyarakat. “Kelompok rentan tetap dapat pelayanan optimal,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Biwara Yuswantana. (PT/AT/AU/Ant/N-3)

BERITA TERKAIT