13 January 2021, 00:05 WIB

Pilu Petani Tembakau Temanggung


Tosiani | Nusantara

MUSIM panen tembakau di wilayah Temanggung, Jawa Tengah, telah usai. Tri Supono, 35, petani tembakau asal Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, tampak menghitung kembali hasil penjualannya.

Berulang kali menghitung, bukan senyum yang terbit dari bibirnya, melainkan helaan napas panjang. Wajahnya juga sedikit muram karena harga jual tembakau kali ini menukik tajam dengan harga rata-rata hanya Rp45 ribu per kilogram.

Penyebab utama memang kualitas panen kurang bagus. Musim kemarau tidak maksimal dan diwarnai anomali cuaca. Pada saat matahari masih terik, tahu-tahu turun hujan deras.

"Kalau jumlah tonase rata-rata atau secara kuantitas memang meningkat karena curah hujan tinggi membuat pertumbuhan tanaman maksimal dan hasil panen banyak. Namun, itu tadi, kualitasnya kurang bagus," ujar Tri Supono, baru-baru ini.

Dia hitung-hitung, hasil penjualan kali ini terbilang rugi besar. Tri Supono menanam tembakau di areal pegunungan seluas 0,5 hektare. Modal yang ia keluarkan sebesar Rp35 juta.

Panen menghasilkan 20 keranjang seberat 700 kg. Jika dibandingkan dengan petani tembakau lainnya, Tri Supono sedikit lebih beruntung karena harga jual tembakaunya rata-rata Rp50.000 per kg atau lebih mahal Rp5.000 daripada petani kebanyakan.

Modal dan harga jual sebenarnya impas. Sayangnya hasil penjualan itu belum menalangi biaya angkut pupuk yang terbilang lumayan karena lahannya berada di ketinggian.

"Kami dapat sedikit untung bila harga jual pada kisaran Rp75 ribu-Rp100 ribu per kilogram," tuturnya.

Itulah muara yang membuat Tri Supono menarik napas panjang. Namun, dia tidak putus asa. Pengalaman hasil pas-pasan sudah pernah dialami sebelumnya. Menanam tembakau merupakan warisan turun-temurun dari leluhurnya.

Selama menanam tembakau, hasil tahun 2020 merupakan terendah. Harga terbaik pada 2011. Saat itu cuaca bagus serta belum ada peraturan macam-macam. Harga melesat tinggi mencapai Rp150 ribu per kilogram.

"Saya sebenarnya enggak muluk-muluk mengharapkan hasil panen. Sudah cukuplah bila semua kebutuhan hidup tercukupi. Kalau kita berkeringat dan hasilnya bagus kan keluarga juga pada senang. Tidak seperti tahun ini, harus berpikir bagaimana biaya menanam berikutnya. Sudah pasti akan menambah utang," imbuh Tri.

Kegagalan kualitas panen kali ini membuat Tri dan sejumlah petani tembakau lain mulai introspeksi diri. Mereka berniat mengembalikan masa kejayaan tembakau dengan kualitas tinggi agar harganya bagus seperti di 2011.

Tri bersama rekan-rekan petani lainnya telah sepakat mencari tahu rahasia kesuksesan petani terdahulu bagaimana cara menanam, merawat, dan mengolah dengan lebih baik.

Misalnya cara lama menyiangi rumput dengan mencangkul. Seperti diketahui, sekarang ini sudah menggunakan obat kimia yang dikhawatirkan berpengaruh pada kualitas tanaman tembakau.

"Benar, kami ingin mengembalikan kejayaan tembakau dengan meningkatkan kualitas. Untuk bibit, kami akan tetap memakai varietas lokal, kemloko," katanya.

 

Peraturan menekan

Setelah merenung-renung atas kegagalan panen kali ini, Tri merasa kendala utama yang menghalangi tembakau kembali ke era kejayaannya ialah faktor cuaca.

Kurun empat tahun terakhir cuaca memang kurang mendukung. Masalah semakin bertambah setelah kebijakan pemerintah terus menekan industri rokok yang berimbas kepada petani.

Ancar-ancar beralih menanam komoditas lain, Tri mengaku belum siap sebab lahan yang ditanami di pegunungan. Dengan kondisi pegunungan yang ketersedian airnya pas-pasan, tembakau menjadi pilihan terbaik.

Sebenarnya, dalam pandangan Humas Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Kabupaten Temanggung, Sutopo, kualitas dan kuantitas panen kali ini cukup bagus meskipun musim kemarau basah. Akan tetapi, penyerapan tembakau oleh pabrik rokok terkesan lambat. Meski begitu, nanti akan terserap semua.

Ia menduga harga jual kurang menggembirakan karena pabrik ragu menyerap tembakau menyusul regulasi kenaikan cukai rokok. Selain itu, impor tembakau yang masih mencapai 100 ton-150 ton per tahun membuat pabrik lebih memilih impor karena biaya produksi lebih rendah.

Dampaknya, tembakau grade E yang mestinya masuk kategori srinthil hanya dihargai Rp70 ribu-Rp80 ribu per kg. Mestinya grade E di kisaran Rp200 ribu-Rp250 ribu per kg.

Berbeda dengan panen di 2018 dan 2019, dengan kualitas bagus, tapi kuantitas turun. Harga tembakau grade E pada musim itu tetap tinggi pada angka Rp200 ribu per kg.

"Biasanya siklus per lima tahunan. Dua tahun hasil panen akan bagus, yang dua tahun biasa, dan setahun lagi kurang bagus. Petani sudah paham soal itu. Misal pada 2010 kemarau basah, tapi serapan industri masih bagus. Waktu itu harga grade C hanya Rp60 ribu-Rp80 ribu per kg," tuturnya.

Masa kejayaan tembakau Temanggung tercatat pada 1991, 1997, 1999, 2000, 2009, 2011, dan 2015. Namun, harga tembakau tertinggi pada 2011 dan saat itu kualitasnya juga paling bagus. Ketika itu grade G saja dihargai Rp500 ribu per kg. Grade di atasnya jauh lebih mahal.

Masalah petani tembakau terasa sejak 2009 setelah muncul bermacam-macam regulasi. Tekanan aktivis antirokok juga semakin kencang. Kemudian pada 2012 muncul Peraturan Pemerintah Nomor 109 yang memasukkan tembakau dalam kategori zat adiktif. Selanjutnya muncul peraturan tentang kawasan tanpa asap rokok. "Itu semua membebani kami," imbuhnya. (N-1)

BERITA TERKAIT