04 January 2021, 04:20 WIB

Bersinergi demi Mitigasi


Denny Susanto | Nusantara

TAHUN ini, sembilan peranti pemantau tinggi muka air dioperasikan Tim Res­torasi Gambut Daerah Kalimantan Selatan. Untuk tujuan restorasi, perangkat itu dipasang di empat wilayah kawasan hidrologis gambut.

“Alat ini bisa disinergikan dengan kebutuhan badan penanggulangan bencana daerah untuk memantau datangnya banjir. Dengan alat itu langkah mitigasi bisa lebih cepat dilakukan,” papar Se­kretaris Tim Restorasi, Mukarram Sayuti Enggok.

BPBD dipersilakan ikut memanfaatkan peranti itu dengan melihat laporan harian yang didapat Tim Restorasi dari lapangan. Alat pemantau itu dipasang di sembilan desa yang wilayahnya berdekatan dengan kawasan gambut.

Kabupaten Hulu Sungai Utara yang wilayahnya 80% adalah rawa dipasang lima alat. Sementara itu, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, Balangan, dan Hulu Sungai Tengah, setiap daerah memasang satu alat.

Seperti wilayah lain, kawasan rawa dan gambut di Kalsel juga terendam banjir. BPBD Kalsel mencatat belasan desa di Banjar dan Tanah Laut dilanda banjir.

Air menggenangi sejumlah ruas di Trans-Kalimantan, sehingga menghambat transportasi. Banjir juga merendam permukiman.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga memperingatkan adanya potensi bahaya di puncak musim penghujan di wilayah Sumatra Selatan. Stasiun Klimatologi Palembang menyebutkan puncak musim penghujan sudah terjadi di lima daerah, yakni Pagaralam, Ogan Komering Ulu Selatan, Empat Lawang, dan Lubuklinggau.

“Puncak musim penghujan berlangsung hingga Maret. Curah hujan bisa mencapai 300 milimeter dan berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor,” papar juru bicara Stasiun Klimatologi Palembang, Nandang Pangaribowo.

Kerusakan

Cuaca yang kurang bersahabat selama 2020, membuat Pemerintah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, harus menghitung ulang ketersediaan dana perbaikan infrastruktur. Pasalnya, sembilan jembatan dan sejumlah ruas jalan rusak akibat bencana alam.

“Potensi bencana masih mengancam di 2021 ini. Curah hujan yang masih akan tinggi harus kami waspadai,” ungkap Kepala Pelaksana Harian BPBD Tri Komara Sidhy.

Dari sembilan jembatan yang rusak, lanjut dia, satu di antaranya rusak parah. Konstruksi jembatan yang berada di Kecamatan Bantarsari itu hanyut dibawa derasnya aliran sungai.

Kerusakan jalan ada di 3 titik. “Bupati sudah minta agar infrastruktur yang rusak segera ditangani,” tambah Tri Komara.

Menghitung kerugian juga terus dilakukan BPBD Cianjur, Jawa Barat. Pasalnya, kejadian bencana alam selama 2020 telah menyebabkan 503 rumah rusak berat, sedang, dan ringan.

“Kebanyakan rusak karena terdampak tanah longsor,” kata Sekretaris BPBD Irfan Sofyan.

Bencana yang datang di wilayah ini terdiri dari 4 jenis, yakni banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan kekeringan. Total kejadiannya mencapai 170 kali.

Selain merusak rumah, lanjut Irfan, berbagai bencana alam itu juga mengancam sebanyak 630 rumah dan merendam 175 rumah. “Tujuh warga meninggal dunia. Kebanyakan terbawa hanyut saat terjadi banjir bandang.” (DW/LD/BB/BK/N-3)

BERITA TERKAIT