23 December 2020, 13:31 WIB

Jelang Nataru, Harga Telur dan Ayam Potong Merangkak Naik


Kristiadi | Nusantara

Harga kebutuhan komoditas bahan pokok di beberapa pasar tradisional di wilayah Priangan Timur sejak beberapa pekan telah mengalami kenaikan. Kebutuhan tersebut, menyebabkan banyak konsumen mengeluhkan dengan harga yang sangat tinggi mulai daging ayam potong, telur, bawang merah, cabai merah dan sayuran serta lainnya.

Pantauan di beberapa pasar tradisional mulai dari Pancasila, Cikurubuk, Singaparna, Ciamis harga kebutuhan pokok telah merangkak naik. Antara lain bawang merah Rp40 ribu per kg, bawang putih Rp45 ribu per kg, bawang bombay Rp35 ribu, daging ayam potong Rp36 ribu per kg, telur Rp30 ribu per kilogram. Penaikan ini juga diikuti sayuran yang naik sebesar Rp500 sampai Rp1.500 per kg. Mulai dari terung, tomat, kangkung, kembang kol, dan lainnya.

Seorang pedagang sayuran di pasar Pancasila, Iis Tisna, 50, warga Purbaratu mengatakan, kebutuhan pokok Natal dan Tahun Baru 2020 semuanya telah merangkak naik dan pasokan pengiriman dari beberapa daerah berkurang. Karena, para petani belum panen dan ada sebagian baru tanam seperti halnya cabai merah, bawang merah dan sayuran yang berupa kembang kol, terung hingga lainnya.

"Untuk sayuran berupa kangkung, pakcoy, kol, wortel, kentang, dan lainnya terbatas. Karena, pedagang telah dikirim ke pengepul berasal dari Majalengka, Garut, Ciamis, Tasikmalaya dan lainya. Kebutuhan bahan pokok tinggi tapi barang yang ada terbatas hingga berdampak pada tingginya penjualan seperti halnya wortel semula dijual Rp12 ribu per kg menjadi Rp13 ribu per kg, terung normalnya Rp9 ribu per kg menjadi Rp11 ribu per kg," katanya, Rabu (23/12/2020).

Penjual daging sapi dan ayam potong di pasar Cikurubuk, Yusuf, 55, mengatakan, kebutuhan daging sapi untuk sekarang masih terus mengalami kenaikan. Biasanya dijual antara Rp110 hingga Rp120 ribu per kg sudah naik menjadi Rp130 ribu per kg. Sedangkan, harga daging ayam ras dijual Rp28 ribu per kg naik Rp36 ribu per kg, ayam kampung hidup biasa dijual Rp60 ribu-Rp 65 ribu menjadi Rp80 ribu per kg.

"Kebutuhan yang selama ini dijualnya hanya kepada para konsumen tertentu karena ekonomi sekarang ini sulit dan mana ada pembeli yang berani membeli dengan harga tinggi. Apalagi, pemotongan sapi mengalami penurunan di tengah pandemi meski biasanya sebelum wabah korona terjadi paling banyak 20 ekor dan sekarang hanya bisa memotong antara 5 sampai 10 ekor," ujarnya.

Sementara itu, pedagang telur Dedi, 47, di Blok C Pasar Pancasila mengatakan, kebutuhan jelang natal dan tahun baru sekarang ini telah ada batasan pengiriman dari Blitar mencapai 3 kwintal dari jumlah 5 kwintal bagi distributor di wilayah Priangan Timur. Namun, kenaikan juga berimbas pada para pelanggan yang biasanya 2 sampai 3 kg kini hanya membeli 1,5 kg.

"Jelang Natal dan tahun baru, kebutuhan telur semakin merangkak naik mulai dari Rp 500 naik menjadi Rp1.500 hingga Rp2.000 dan kini harganya dari setiap penjual senilai Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. Kenaikan telur, membuat para pedagang mengeluhkan karena harus kehilangan para pelanggan dan semua telur tidak bisa bertahan lama," paparnya. (AD/OL-10)

BERITA TERKAIT