20 December 2020, 07:28 WIB

Berbagi di Masa Pandemi, Buka Pintu Rezeki


Lilik Darmawan |

DUA pekan lalu tepatnya di hari Minggu, para penyandang disabilitas berkumpul di rumah Irma Suryati, 45, seorang difabel di Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Apri, misalnya, asal Kecamatan Gombong yang datang ke Buayan dengan rasa bahagia. Begitu juga dengan Suriah, dari Kecamatan Rowokele. Kedua difabel itu datang ke rumah Irma untuk memeringati Hari  Disabilitas Internasional (HDI). Keduanya merupakan bagian dari puluhan penyandang disabilitas yang sengaja hadir dalam peringatan HDI tersebut. 

"Saya berterima kasih, karena peringatan ini menguatkan kami sebagai penyandang disabilitas. Kami tidak sendiri, banyak teman-teman di sini. Kami tidak ingin ada diskriminasi, karena kami juga bisa berkarya," jelas Apri.

Sementara Suriah mengatakan bahwa pertemuan dengan sesama difabel menjadi momen yang menggugah semangat. Sebab, dengan adanya pertemuan itu, maka akan muncul rasa saling menguatkan di antaranya penyandang disabilitas. Penggagas acara Irma Suryati mengatakan difabel yang diundang terbatas jumlahnya, karena harus tetap mengikuti protokol kesehatan (prokes). 

"Kami sengaja menggelar peringatan HDI di rumah saya. Ini pertemuan untuk saling bertemu dan menguatkan di antara penyandang disabilitas. Selain itu, kami juga berbagi sembako untuk mereka," ungkapnya.

Irma sengaja menyiapkan paket sembako untuk mereka yang datang. Isinya adalah beras, minyak goreng, gula dan biskuit. Ia menyisihkan dari keuntungan usaha yang selama ini juga ditopang oleh warga difabel. 

"Saya merasakan pahit getirnya seorang penyandang disabilitas. Karena sejak awal mulai mengembangkan usaha, saya telah bertekad untuk memberdayakan kaum difabel," jelas Irma.

Sejak memulai usahanya di tahun 2002, Irma tidak pernah berhenti dalam berbagi. Ia menyisihkan keuntungan 20% untuk kepentingan sosial. Baginya berbagi dengan para kaum duafa dan penyandang disabilitas merupakan modal penting dalam usaha. 

"Bagi saya, bisnis itu tidak dapat dilepaskan dari sedekah. Yang saya praktikkan selama ini adalah sedekah dulu, nanti rezeki pasti datang," ujarnya.

Irma yang juga seorang difabel harus jatuh bangun untuk mengembangkan usahanya yang diberi nama Mutiara Handycraft. Ia memilih keset dari kain perca sebagai produk usahanya. Usahanya berkembang sampai sekarang. Dalam setiap langkahnya, Irma memastikan untuk mengikutsertakan  penyandang disabilitas sebagai mitra kerja. Dia gigih dalam mengajari kaum difabel agar bisa menjahit keset. 

"Kalau saya hanya memikirkan bisnis, barangkali tidak perlu repot-repot mendidik para penyandang disabilitas. Mengajari mereka harus dimulai dari memotivasi. Memang menantang, tetapi saya tidak pernah menyerah. Alhamdulillah, saat sekarang sudah banyak yang bisa menjahit dan mandiri," kata Irma yang  kini memiliki 3 ribu mitra usaha di Kebumen, Banyumas, Cilacap, 
Purbalingga, Purworejo dan lainnya.

Perempuan yang mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial tahun 2019 karena berjasa di bidang kesejahteraan sosial itu sempat ambyar pada awal-awal menghadapi pandemi Covid-19. Setelah mendapat penghargaan itu, seharusnya dia keliling Indonesia karena mendapatkan undangan di mana-mana. Tetapi pandemi datang, semua gagal total. Bahkan, pandemi 
juga memengaruhi usaha pembuatan keset, karena omsetnya menurun dtastis hingga 50%. Tetapi, kemudian mendapat ide untuk membuat masker. Usaha itu bertahan sampai sekarang dan melibatkan penyandang disabilitas. 

Jumlah pesanan masker cukup besar, sampai jutaan masker. Pembuatan masker tidak terlalu sulit, bahkan malah lebih sederhana jika dibandingkan dengan keset. Ada 1.000 perajin, sebagian adalah kaum difabel yang ikut serta dalam pembuatan masker. 

"Jadi ketika pandemi, kami malah sibuk untuk melayani pemesanan masker. Bahkan seorang difabel mampu memproduksi sebanyak 800-2.000 makser," katanya.

Buka Kesempatan

Irma memang tidak hanya merekrut difabel yang masih dapat bekerja secara mandiri seperti menjahit keset dan kini masker. Namun, dia juga tetap mempedulikan setidaknya 300 penyandang disabilitas yang memang sulit untuk bekerja karena keterbatasan fisiknya. 

"Di sekitar Kebumen, ada 300 difabel yang memang sulit bekerja. Mereka tidak dapat menjahit. Saya memiliki kewajiban untuk mempedulikan mereka," katanya.

Meski kondisi pandemi, Irma tetap harus berbagi, bahkan di saat omset mengalami penurunan secara signifikan pada awal munculnya Covid-19. Setiap bulannya, dia sisihkan minimal Rp15 juta untuk membantu kaum difabel. Wujudnya macam-macam, seperti sembako dan uang. 

"Kalau kondisi labanya merosot, maka penyaluran bantuan juga mengalami penurunan.  Karena itulah, sebisa mungkin, saya harus berusaha untuk mendatangkan laba. Paling minimal saya menyalurkan Rp15 juta, tetapi rata-rata antara Rp20 juta hingga Rp50 juta setiap bulannya," ungkap Irma.

Sejak awal pandemi, Irma memikirkan bagaimana bisa membantu sesama tidak hanya penyandang disabilitas saja, melainkan juga penduduk kurang mampu. Karena ketika wabah terjadi, banyak sekali warga yang terpuruk. Jumlah sembako yang dibagikan setiap bulannya bervariasi, minimal 1.000 paket sembako. Bahkan, pada akhir Oktober, ada juga bantuan kepada para korban banjir di sekitar Kebumen. Irma terus memotivasi difabel agar dapat mandiri dalam bekerja. Barangkali bukan menggunakan keterampilan seperti menjahit, tetapi hal lain. 

"Saya sebetulnya agak menyesal, mengapa baru melaksanakan dalam dua bulan terakhir. Jadi, selama ini, saya itu tidak melayani yang eceran baik itu keset maupun masker. Nah, ternyata ada difabel yang menyarankan supaya bisa menjual secara eceran. Akhirnya saya mau dan banyak penyandang disabilitas yang secara fisik tidak mampu menjahit, sekarang bisa menjadi tenaga pemasaran secara daring. Mereka menjual eceran produk Mutiara Handycraft. Benar-benar di luar perhitungan saya," ungkapnya.

Ia mengatakan dari sekitar 300 difabel yang belum bekerja, ada 100-an lebih penyandang disabilitas yang kini juga ikut memasarkan sebagai reseller. “Nah, ini sangat terbantu dengan adanya paket JNE. Dengan JNE, saya percaya pasti sampai dan barangnya tidak rusak. Yang lebuh penting lagi, jangkauannya sangat luas dan cepat. Inilah yang digunakan oleh para mitra termasuk penyandang disabilitas. Pilihan utamanya untuk mengantarkan produk adalah JNE. Adanya paket ini secara langsung membantu sebagai sarana pengiriman yang efektif dan efisien," jelas Irma.

baca juga: Pemkot Tebing Tinggi Antisipasi Kasus Korona Jelang Libur Nataru

Kini, meski pandemi masih terjadi, tetapi pesanan masih tetap tinggi terutama pembuatan masker. Bahkan, pihaknya menerima pesanan begitu besar jumlahnya, sampai 5 juta buah. Di sisi lain, pesanan keset juga menggeliat. Pasarnya yang ramai domestik dengan harga Rp8 ribu hingga Rp20 ribu. Kesibukannya luar biasa, tak hanya di rumahnya, tetapi juga memotivasi mitra yang bekerja di rumah masing-masing. Barangkali inilah hikmah dari berbagi, karena akan membukakan pintu rezeki. Itulah yang Irma yakini. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT