18 December 2020, 17:07 WIB

Luas Hutan di Jambi Makin Susut


Solmi |

LUASAN tutupan hutan di Provinsi Jambi semakin berkurang. Sampai akhir 2020, luasan hutan yang tersisa hanya sekitar 800 ribuan hektare. atau usut sekitar dua persen dibandingkan luasan tutupan hutan tahun sebelumnya.

Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rudi Syaf menyampaikan hal itu dalam diskusi catatan akhir tahun kondisi lingkungan hidup di Jambi di Markas KKI Warsi di Telanaipura, Kota Jambi, Jumat 18/12).

Rudi membeberkan, berdasarkan analisis Citra Satelit Lansat TM 8 yang dilakukan Tim Geographic Information System (GIS) KKI Warsi, tutupan hutan di Jambi saat ini tinggal 882.272 hektare. Luasan tersebut jauh berkurang tutupan hutan Jambi 10 tahun lalu yang tercatat sekitar 1,3 juta hektare.

"2020 masih tahun yang buruk bagi keselamatan lingkungan hidup di Jambi. Kondisi ini sangat merisaukan karena tutupan hutan merupakan penyeimbang ekosistem semakin terdegradasi. Yang tersisa nyaris cuma di kawasan konsevasi dan lindung. Dampak buruknya jelas, potensi kebencanaan ekologi di Jambi bakal semakin besar," kata Rudi.

Berdasarkan catatan KKI Warsi, masih maraknya kegiatan ilegal logging merupakan salah satu faktor penyebab tergerusnya tutupan hutan di Jambi. Selain itu, menggilanya aksi penambangan emas tanpa izin (PETI) yang merambah masuk jauh ke dalam kawasan hutan, ikut menjadi pemicu.

Kerusakan hutan akibat aktivitas PETI yang sampai saat in  terkesan tidak mampu ditertibkan pemerintah, makin meluas. Sepanjang 2020, luasan lahan sekitar hutan yang dicabik-cabik pelaku PETI hampir mencapai 40 ribu hektare. Kegiatan PETI yang sudah banyak merenggut korban jiwa penambang itu tersebar di beberapa kabupaten di wilayah hulu Sub-DAS Batanghari antara lain di Kabupaten Merangin, Sarolangun, Bungo, Tebo, dan sebagian kecil di Kabupaten Kerinci.

"Tambang emas illegal masih saja terjadi, bahkan temuan terbaru mereka semakin garang. Di Hutan Desa Lubuk Bedorong Sarolangun, tambang ini masuk di Sungai Sipa dan Sungai Tetek. Pengelola hutan desa dan masyarakat sudah berkali-kali mengusir penambang. Bahkan sudah dua kali alat berat penambang ini dibakar masyarakat. Anehnya penambang ini masih saja bisa kembali di lokasi yang sama, masyarakat kewalahan
menghentikan mereka," kata Rudi. (R-1)

 

BERITA TERKAIT