01 December 2020, 22:15 WIB

Geliat UMKM Kopi Merapi Bangkit dari Pandemi


Abdillah M Marzuqi | Nusantara

PANDEMI covid-19 berdampak pada berbagai sektor, salah satunya usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kopi.

Padahal, sektor itu sebelumnya tampak berjaya dengan menjamurnya banyak kedai kopi maupun produk bubuk kopi kemasan.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga menyebabkan penjualan kopi merosot tajam. Pada saat ini, produksi dari UMKM tinggal 10-20% yang masih bisa diserap pasar.

Dampak itu juga dirasakan oleh petani kopi yang tergabung dalam Koperasi Kopi Kebun Makmur di Cangkringan Sleman, DIY.

Hampir semua mata rantai bisnis kopi patah, sehingga memerlukan terobosan untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi.

Tim dari Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta tergerak untuk membantu para petani melalui Program Pemberdayaan Masyarakat skema UKM Indonesia Bangkit dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (Kemenristek/Brin).

Program itu didesain untuk perguruan tinggi agar ikut terlibat dalam pemulihan ekonomi pasca-pandemi covid-19.

Program yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DPRM) tahun 2020 itu telah menyeleksi lebih dari 3700 proposal yang masuk dan mendanai 29 proposal terbaik, salah satunya tim dari Instiper Yogyakarta.

“Program ini bertujuan untuk memperluas pasar komoditas Kopi Merapi yang saat ini sudah mulai mempunyai brand, baik lokal maupun nasional, serta peningkatan kualitas produk kopi. Tim Instiper berusaha memberikan solusi yang bersifat integratif dari hulu hingga hilir. Model yang dikembangkan di koperasi ini dapat direplikasi untuk sentra kopi di daerah lain,” ujar Ketua Tim Instiper Gani Supriyanto, Senin (1/12).

Tim Instiper juga mengedukasi petani agar membudidayakan kopi mengacu ke good agricultural practices, aplikasi sistem database dan pemasaran daring, penguatan manajerial koperasi, peningkatan kualitas panen dan hasil olah, serta pelatihan dan pendampingan sistem database dan pemasaran online terintegrasi.

“Target luaran program ini adalah untuk database (kebun, pemasar, pengolah, dan penjual akhir); sistem pasar integrasi online; dan aplikasi teknologi dalam bentuk mesin sangrai (roasting) otomatis terkomputerisasi,” tambah anggota tim Andreas W. Krisdiarto.

Menurut Andreas, upaya tersebut sesuai dengan arahan DRPM Kemristek/BRIN, yakni mendorong dan membentuk UKM atau koperasi yang aktivitas ekonominya minim kontak fisik.

Selain itu tim juga telah berupaya membantu peningkatan profesionalitas melalui perbaikan mutu penyangraian kopi dan transformasi manajemen menjadi lebih modern. Saat ini, pengurus dan anggota inti koperasi Kebun Makmur sudah bersiap menghadapi era pemasaran modern, yaitu era less contact economy. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT