01 December 2020, 22:10 WIB

Pemkab Lembata Sulit Terapkan Prokes Pengungsi Ile Lewatolok


Palce Amalo | Nusantara

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Lembata sulit menerapkan protokol kesehatan (prokes) covid-19 dengan maksimal terhadap pengungsi Gunung Ile Lewatolok.

Pasalnya dari 12 titik pengungsian, sampai Selasa (1/12) sore dipenuhi lebih dari 7.000 pengungsi. Lokasi pengungsian tidak hanya di Lewoleba, ibu kota Lembata tetapi ada yang ditampung di gedung sekolah di Kecamatan Lebatukan.

"Kami hanya menyediakan tempat cuci tangan dan sabun, serta membagikan masker kepada pengungsi, sedangkan untuk menjaga jarak dan imun tubuh itu sulit karena jumlah pengungsi yang sangat banyak dan makanan yang tersedia seadanya," kata Wakil Bupati Lembata Thomas Langoday saat dihubungi mediaindoesia.com, Selasa (1/12)

Dia menyebutkan saat kejadian, warga panik sehingga pergi meningalkan rumah tanpa membawa masker. Begitu pula, saat evakuasi yang dilakukan oleh pemerintah, banyak warga lupa membawa masker. Saat tiba di lokasi penampungan, relawan membagikan masker kepada pengungsi. Namun, masker yang tersedia terbatas, sehingga warga yang mengungsi ke rumah penduduk lainnya tidak memiliki masker.

Seluruh warga yang bermukim di 26 desa di kaki gunung Ile Lewotolok, jelas dia, akan dievakuasi karena gunung tersebut masih erupsi. Kemungkinan besar, jumlah pengungsi masih akan bertambah.

Selain itu, Pemkab Lembata juga kesulitan mencukupi kebutuhan pengungsi seperti alas tidur, perlengkapan bayi, anak-anak dan perempuan.

Saat ini, dapur umum sudah dibangun, namun terbatas di posko utama yang terletak di eks kantor bupati. "Kami juga sudah membangun posko kesehatan. Tenaga medis di posko mobile memeriksa kesehatan pengungsi dari satu posko ke posko lain," tambahnya. (OL-13)

Baca Juga: Dapur Umum Pengungsi Erupsi Ile Lewotolok Disiapkan

 

BERITA TERKAIT