30 November 2020, 20:50 WIB

Pandemi Jadi Momentum Tingkatkan Energi Bersih


Eni Kartinah | Nusantara

PANDEMI covid-19 memang telah menyusahkan kehidupan. Banyak sektor yang ambruk akibat wabah berkepanjangan tersebut. Namun sejatinya pandemi covid-19 juga bisa menjadi momentum untuk mengembangkan energi bersih di sektor kelistrikan untuk mendukung pemulihan ekonomi hijau saat ini. Penggunaan energi terbarukan seperti PLTA memberi peluang untuk tetap produktif dan sehat karena terbebas dari polusi karbon pada saat bersamaan.

Kajian dari International Hydropower Association (IHA) menurut pakar komunikasi hijau Wimar Witoelar menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah produsen energi yang memiliki ketahanan tinggi di tengah pandemi covid-19. PLTA juga memainkan berperan penting menyediakan energi bersih dan terjangkau dalam krisis pandemi yang sekarang melanda dunia. Selain itu PLTA juga baik untuk penanganan perubahan iklim.

Baca juga: Presiden Ingin Potensi PLTA Dimaksimalkan

The Hydropower Status Report menunjukkan produksi llistrik dari pembangkit listrik tenaga air mencapai rekor 4,306 terawatt hours (TWh) pada 2019. Hal ini merupakan kontribusi sumber energi terbarukan terbesar dalam sejarah. Penambahan gas-gas rumah kaca yang bisa dihindari di tahun lalu juga mencapai 80 - 100 juta metrik ton.

Itu sebabnya menurut Wimar pandemi covid-19 sebaiknya menjadi momentum transisi kepada penggunaan energi terbarukan yang lebih masif. Pengembangan energi terbarukan seperti PLTA memiliki banyak nilai positif. Antara lain, mendukung pemulihan ekonomi dunia akibat dampak pandemi dengan ekonomi hijau, dan mempercepat transisi ke energi bersih untuk mengurangi emisi karbon.

Dalam hal ini Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar mencapai 442 GW, dengan salah satunya berupa energi air mencapai 75 ribu MW. Salah satu upaya pemanfaatan energi terbarukan di program strategis nasional adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Pengembangan energi terbarukan sangat penting untuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon dari sektor energi. Selama ini penggunaan energi fosil untuk menghasilkan energi listrik menjadi salah satu sumber emisi terbesar dunia yang menjadi menjadi pemicu perubahan iklim.

Indonesia memiliki komitmen nasional untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim termasuk melalui sektor energi, dengan salah satunya memiliki  target 23% energi terbarukan dari total campuran energi primer nasional pada  2025. Saat ini pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia sekitar 10% dari bauran energi nasional.

Menurut Ketua Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air,
Riza Husni,  saat ini  potensi energi terbarukan dari hidro  di Indonesia minimal 75 giga watt. Yang skala kecil, dimana investasinya bisa dilakukan perusahaan dalam negeri itu setidaknya bisa 7 Giga Watt.  Namun setelah 16 tahun dijalankan, cuma terbangun kurang 0,4 giga watt.  

"Energi terbarukan hidro sebenarnya sudah murah. Tapi dianggap kurang untung karena jikadibandingkan energi batubara misalnya nilainya masih lebih murah," ujarnya.

Ia memberikan contoh,  saat ini biaya produksi untuk energi batubara mencapai 5 sen dollar AS (1 dolar = 100 sen). Sehingga biaya memproduksi dari batubara, hanya Rp 750  lalu Pemerintah menjual ke masyarakat Rp 1.400  per kWh.
Sementara kalau energi terbarukan air, saat ini harga produksi Rp1000. Ketika dijual Rp 1400, PLN  masih untung, tapi kurang untung bila  menggunakan energy terbarukan.  

"Padahal bila dihitung jangka panjang, investasi menggunakan energy terbarukan lebih murah dan tidak habis. Bandingkan dengan batubara yang lama kelamaan akan habis," tegasnya. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT