11 November 2020, 10:40 WIB

Peringati Hari Pahlawan lewat Pentas Wayang Kulit Diponegoro


Ardi Teristi Hardi | Nusantara

SOSOK Pangeran Diponegoro menjadi salah satu pahlawan yang gigih melawan penjajah pada masanya. Untuk mengenang jasanya, Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi), Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Korwil DIY, dan Yudhaningratan menyelenggarakan pentas wayang kulit Pangeran Diponegoro.

"Lakon yang ditampilkan adalah Sang Kusuma Bangsa. Lakon tersebut diambil dari Babad Diponegoro yang ditulis Pangeran Diponegoro," terang Rahadi Saptata Abra, selaku Ketua Panitia.

Pentas Wayang Kulit merupakan bentuk memperingati Hari Pahlawan dan Milad Pangeran Diponegoro yang ke-235 tahun, Selasa (10/11), di Ndalem Yudhonegaran.

Baca juga: Kesultanan Ternate Sambut Sultan Baabulah Jadi Pahlawan Nasional

Sang Kusuma Bangsa bercerita mulai dari naik tahtanya Sri Sultan HB II hingga penangkapan Diponegoro oleh Belanda saat perundingan perdamaian di Magelang.

Durasi pementasan dibuat hanya tiga jam, sesuai aturan pementasan  pada masa pandemi covid-19.

"Sejak dibuat pada 2017, wayang kulit Diponegoro sudah dipentaskan sebanyak empat belas kali," kata dia.

Dalam wayang ini, ada sekitar 60 karakter, termasuk Pangeran Diponegoro, Sri Sultan HB II, dan Sentot Prawirodirjo.

Menurut dia, Babad Diponegoro patut dibaca dan dipelajari generasi  penerus. Pasalnya, selain menceritakan perjuangan Pangeran Diponegoro, pada 21 Juni 2013, UNESCO telah menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

Ketua IKPNI Yogyakarta GBPH Prabukusumo menyatakan sejarah Pangeran Diponegoro yang ditulis dalam Babad Diponegoro bisa menginspirasi kita dalam mengisi kemerdekaan.

"Cerita Pangeran Diponegoro maupun pahlawan-pahlawan yang lain dapat menimbulkan semangat jiwa nasionalis generasi muda," terang dia.

Dengan semangat para pahlawan yang beragam cerita dan latar belakang, harap dia, masyarakat dapat betul-betul bisa saling mengerti, menghormati, dan menghargai keberagaman.

"Tuhan menciptakan keberagaman dengan tujuan mulia," kata Prabukusumo.

Pentas wayang kulit malam yang digelar di Ndalem Yudanegaran ini menampilkan dalang Ki Catur Kuncoro. Pagelaran tersebut menerapkan protokol kesehat yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. (OL-1)

BERITA TERKAIT