06 November 2020, 14:15 WIB

90% Pengamen dan Pengemis di Kampung Dayak Beralih Profesi


Lilik Darmawan | Nusantara

KAWASAN di belakang bekas terminal bus Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng) yang dulu disebut 'kampung dayak' kini berubah. Kampung yang diisi oleh para pengemis, pengamen, pemulung, pekerja seks komersial, waria dan lainnya. Kini, kampung tersebut telah berubah menjadi Kampung Sri Rahayu. Profesi warganya juga berubah menjadi para perajin. Hanya kurang dari 10% yang masih menjalani profesi lama seperti pengamen dan pengemis.

Ketua Pusat Studi Dakwah Komunitas (PSDK) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Bayu Kurniawan mengatakan, pihaknya mendampingi selama beberapa tahun terakhir kepada 350 atau 250 kepala keluarga (KK) di Kampung Sri Rahayu.

"Pendampingan pendidikan kepada anak-anak, orang tuanya dilatih untuk menjadi perajin, sehingga bisa beralih profesi," jelas Bayu di sela acara sarapan bareng bersama Bupati Banyumas Achmad Husein dan Rektor UMP Anjar Nugroho, Jumat (6/11).

Dijelaskan oleh Bayu, anak-anak yang diberi beasiswa dari SD hingga perguruan tinggi. Mereka harus sekolah setinggi-tingginya. "Hal ini penting sebagai langkah pemotongan mata rantai kemiskinan. Dengan pendidikan yang baik untuk anak-anak, maka setidaknya mereka tidak akan mengikuti jejak profesi orang tuanya yang dulu. Mereka juga ikut kursus Inggris dan Arab serta mengaji. Proses ini terus berjalan sampai sekarang," jelas Bayu.

Sedangkan untuk orang tuanya, kini hampir seluruhnya sudah berganti profesi menjadi perajin. Saat ini, hanya tinggal 30 orang saja yang berprofesi sebagai pengemis dan pengamen, 90% lainya telah menjadi perajin untuk memproduksi keset dan masker. "Rata-rata mereka bisa menerima penghasilan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan sebagai tukang jahit," ungkapnya.

Ada sejumlah kelompok yang dibentuk oleh PSDK UMP yakni kelompok perajin, kelompok tani dan kelompok lele. Nantinya, pihaknya akan mengajak mereka yang masih menjadi pengamen dan pengemis untuk ikut serta dalam pelatihan."Proses ini akan terus berlangsung," ujarnya.

Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku gembira karena anak-anak di Kampung Sri Rahayu hampir seluruhnya mengenyam bangku pendidikan. "Jika dulu, 10 anak ditanya, siapa yang sekolah, paling hanya satu orang. Sekarang, dari 10 anak yang ditanya, 9 di antaranya sudah bersekolah. Kampung ini sudah berubah karena campur tangan banyak orang termasuk PSDK UMP," katanya.

Sementara Rektor UMP Anjar Nugroho mengatakan selain melakukan pendampingan, UMP juga memberikan layanan kesehatan secara gratis kepada warga Kampung Rahayu. "Pelayanan ini setiap hari rutin dilakukan sebagai antisipasi pada saat pandemi. Meski demikian juga pascapandemi akan tetap dilanjutkan," jelasnya. (OL-13)

Baca Juga: Tidak lagi Milik Prancis, Merek Carrefour Segera Diganti Transmart

BERITA TERKAIT