01 November 2020, 16:45 WIB

Uji Coba Rekayasa lalu Lintas Pedestrian Malioboro Dimulai Lusa


Ari Teristi Hardi |

UJI coba rekayasa lalu lintas dalam rangka mewujudkan Kawasan Malioboro sebagai kawasan pedestrian akan dilakukan sekitar dua minggu, mulai Selasa (3/11) hingga Minggu (15/11). Ini disebabkan wilayah tersebut sudah dilanda kemacetan lalu lintas.

Plt Kepala Dinas Perhubungan DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti menjelaskan, penataan transportasi di Malioboro menjadi salah satu poin penting. "Kondisi sekarang kita semua tahu bahwa Malioboro adalah pusat ekonomi di Kota Yogyakarta crowded, macet, sehingga perlu penanganan rekayasa dan manajemen lalu-lintas," jelas dia dalam siaran pers, Minggu (1/11).

Rekayasa lalu lintas menggunakan skema giratori atau berlawanan arah jarum jam. Khusus di sekitar Kawasan Malioboro akan berlaku searah, yakni Jalan Mayor Suryotomo, Jalan Mataram, Jalan Abu Bakar Ali, Jalan Pembela Tanah Air, dan Jalan Letjen Suprapto.

Untuk Jalan Malioboro, kendaraan bermotor tidak boleh melintas, kecuali bus Trans Jogja, kendaraan kepolisian, kendaraan layanan kesehatan, pemadam kebakaran, dan kendaraan patroli.

Di sisi lain, kawasan Malioboro saat ini sedang diajukan sebagai bagian dari World Heritage ke UNESCO. Rekayasa tersebut bertujuan agar Malioboro bisa mendukung fungsi-fungsi dalam rangka menuju World Heritage tersebut.

"Kami mengharapkan dukungan semua masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap uji coba ini," jelas Made. Masyarakat nanti diharapkan dapat merasakan kenyamanan, khususnya yang melintas di Jalan Malioboro.

Untuk pejalan kaki di Jalan Malioboro, pihaknya juga akan mengatur alurnya. "Untuk yang ke arah selatan, berada di sisi timur. Untuk yang ke arah utara, ada di sisi barat," tambah Made.

Rekayasa lalu lintas di Jalan Malioboro pada Selasa (3/10) diterapkan mulai pukul 11.00 WIB hingga 22.00. Jalan di luar Malioboro akan berlaku selama 24 jam. Untuk Jalan Malioboro, setelah 3 November, rekayasa lalu lintas dilakukan dari 06.00 sampai 22.00.

Ia meminta aktivitas loading barang dengan kendaraan bermontor yang ada di kawasan Malioboro dapat dilakukan setelah pukul 22.00 sampai dengan sebelum 06.00. "Kami ingin tetap membantu semua aktivitas yang nanti berjalan, termasuk membantu PKL yang ada di sana," jelas dia.

Made menambahkan, area parkir di Malioboro tidak akan pernah cukup. Seberapa pun ruang parkir yang disediakan sepertinya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

Saat ini, kantong kantong parkir di Kawasan Malioboro sudah disediakan, baik yang ada di Abu Bakar Ali kemudian Ngabean, Pasar Sore dekat Beringharjo, maupun  Ramai Mall. Harapannya, masyarakat juga dapat memanfaatkan angkutan umum, tidak hanya untuk warga Yogyakarta tetapi juga wisatawan.

Selama diberlakukan uji coba tersebut, pihaknya akan melakukan monitoring dan evaluasi. "Kami yakin semua ada jalan keluarnya. Kita harus mendukung kondisi kota itu nyaman dan aman. Apalagi Malioboro berada di sumbu filosofis yang menjadi bagian dari kawasan World Heritage," pungkas dia. (OL-14)

BERITA TERKAIT