01 November 2020, 11:16 WIB

100 Pelari Tempuh 86 KM Demi Bangun Sarana Air Bersih di Nagekeo


Ignas Kunda | Nusantara

KEGIATAN lari amal yang digagas Plan Indonesia guna pemenuhan akses air bersih di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai garis finish.

Sebanyak 15 pelari yang berlari dari Kota Mbay, Sabtu (31/10) pukul 00.00 telah tiba dengan selamat pada tanggal tersebut.

Kurang lebih membutuhkan waktu 15 jam bagi para pelari menuntaskan misi mereka sampai di Kampung Bena.

Pelari pertama yang mencapai Kampung Bena pada Sabtu (31/10) pukul 10.50 WITA dan pelari terakhir tiba pada pukul 15.30 WITA.

Baca juga: Puting Beliung Rusak Puluhan Rumah di Bangka

Ini merupakan kali kedua Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) menggelar Jelajah Timur: Charity Run for Equality dengan misi pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan.

Bukan hanya di Kota Mbay,  kegiatan lari itu juga digelar serentak di 13 kota yakni Lampung, DKI Jakarta, Bandung, Cianjur, Yogyakarta, Denpasar, Lombok, Makassar, Sangatta, Kupang, Sorong, dan Brisbane, Australia.

Ada 100 pelari yang mencapai garis finis setelah menempuh 86 kilometer. Di antara para pelari adalah Natascha Oking dan Kaka Slank, serta dan Adita Irawati, yang ikut berlari di Kota Mbay, Nagekeo.

Melalui Jelajah Timur: Charity Run for Equality, Plan Indonesia akan membangun sarana air bersih, sedikitnya di dua desa yakni Nggolonio dan Tedamude di Kabupaten Nagekeo, NTT.

Di Kabupaten Nagekeo, Bupati Johanes Don Bosco Do secara resmi melepas 20 pelari yang telah melewati rute Mbay - Bena. Kegiatan ini berlangsung sesuai protokol kesehatan.

Minimnya akses air bersih di beberapa desa di NTT mengakibatkan masyarakat masih harus berjalan kaki hingga 2 jam untuk mendapatkan air bersih. Bahkan, tanggung jawab untuk mengambil air bersih sering kali diserahkan kepada anak perempuan. Berbagai risiko kerap menghantui anak-anak perempuan saat di perjalanan mengambil air bersih.

Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia Dini Widiastuti menjelaskan meningkatkan akses air bersih berarti membantu mengurangi beban dan risiko yang dihadapi anak-anak perempuan.

“Kesetaraan bagi anak perempuan harus diperjuangkan di seluruh aspek baik di ranah domestik maupun publik. Dengan terpenuhinya kebutuhan sarana air bersih, mereka tidak perlu kelelahan saat belajar di sekolah. Saat menstruasi, sanitasi dan kebersihan lebih terjaga. Bahkan, mereka dapat terhindar dari berbagai risiko kekerasan yang mungkin terjadi dalam perjalanan mengambil air,” katanya.

Dini mengungkapkan melalui program Jelajah Timur: Charity Run for Equality, Plan Indonesia menargetkan membangun akses air bersih setidaknya di 10 desa dampingan Plan Indonesia yang tersebar di Lembata, Flores, dan Timor Tengah Selatan.

“Kami tidak bisa bergerak sendiri. Sinergi dari berbagai pihak, pemerintah daerah, pihak swasta, dan tentunya masyarakat sangat diperlukan untuk membantu pemenuhan air bersih di NTT,” ungkap Dini.

Kementerian Perhubungan RI turut berkolaborasi dengan Plan Indonesia melalui aksi penggalangan dana virtual bertajuk ‘Donasi Insan Transportasi Untuk Akses Air Bersih Nusa Tenggara Timur’ pada Jumat (23/10).

Lebih dari Rp1,5 miliar telah terkumpul dari acara ini beserta 100 buah sepeda yang telah diberikan kepada anak-anak di NTT pada Jumat (30/10).

Adita Irawati, Staf Khusus Menteri Perhubungan, sekaligus pelari 86 kilometer termotivasi membantu masyarakat di NTT, khususnya anak perempuan melalui aktivitas positif yang Ia cintai yaitu berlari.

“Anak perempuan Indonesia adalah generasi penerus bangsa, sama dan setara dengan anak laki-laki. Maka jagalah kesehatanmu, tingkatkan pendidikanmu dan jaga semangatmu, agar kalian menjadi manusia yang memiliki arti, punya kontribusi,” ujar Adita.

Sementara, pasangan pelari Natascha Oking dan Kaka Slank yang juga mengikuti Jelajah Timur: Charity Run for Equality sejak 2019 mengatakan ingin melihat keindahan Flores sambil berdonasi.

“Kami ingin melihat keindahan Flores sambil olahraga dan mengumpukan donasi untuk sesuatu yang sangat darurat yaitu pengadaan air bersih di beberapa desa di Flores. Sehingga, anak-anak perempuan di sana tidak perlu berjauh-jauh lagi ambil air di saat jam belajar atau main mereka,” ujar Natascha dan Kaka

Sebelumnya, sedikitnya 500 pelari dan pesepeda telah berkontribusi secara virtual lewat aksi penggalangan dana melalui kitabisa.com. Mereka termasuk aktor Richard Kyle dan musisi Nugie serta beberapa komunitas antara lain  Women’s Cycling Community, Burn-Bukit Runners, X-Jimbarun, Run on Bali, Fakerunners Bali.

Richard Kyle menuturkan alasannya mengikuti Jelajah Timur secara virtual karena Indonesia Timur punya begitu banyak potensi yang bisa dijadikan daya tarik untuk pariwisata Indonesia.  

"Indonesia Timur banyak potensi dan daya tarik sangat bisa berdampingan dengan Bali dan Jawa. Terutama NTT, saya ingin mengangkat keindahannya, membagikan ceritanya melalui platform saya, sekaligus lebih mengenal dekat NTT. Itulah yang menjadi motivasi saya mengikuti Jelajah Timur,” tutur Richard.

Musisi Nugie pun tergerak berpartisipasi secara virtual dengan bersepeda agar anak perempuan di Indonesia memiliki kesempatan dan kegembiraan saat masa tumbuh kembang mereka yang setara dengan anak-anak di usia mereka.

“Pemenuhan kebutuhan dasar akan akses air dan makanan serta keamanan untuk anak-anak perlu menjadi perhatian kita semua, Bagi saya, anak perempuan mewakili sang Ibu Pertiwi yang akan terus kubela dan kujaga,” jelas Nugie.

Jelajah Timur: Charity Run for Equality merupakan salah satu kampanye tahunan Plan Indonesia untuk mendukung pemenuhan sarana air bersih di NTT.

Pada 2019, Plan Indonesia telah membangun sarana air bersih, sedikitnya di 2 desa di NTT dengan donasi terkumpul lebih dari target 300 juta rupiah.

Tahun ini, masyarakat juga dapat terlibat dalam Jelajah Timur: Charity Run for Equality dengan mengikuti jelajah virtual yaitu kegiatan berlari yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Kemudian, jarak lari yang ditempuh dikumpulkan hingga target lari tertentu.

Hasil pendaftaran melalui platform Virtuathlon akan menjadi donasi untuk pengadaan akses air bersih di NTT.

Hingga hari ini, donasi yang terkumpul telah mencapai lebih dari Rp2 miliar dari target Rp600 juta. Aksi penggalangan dana masih dibuka sampai akhir 30 November 2020 melalui kitabisa.com/jelajahtimur. (OL-1)

BERITA TERKAIT