25 July 2020, 04:35 WIB

Di Balik Dimas, Ada Kebaktian Guru


Achmad Sapuan | Nusantara

DIMAS dan Rembang jadi perhatian. Di era belajar daring karena pandemi, Dimas Ibnu Alias harus tetap datang ke SMP Negeri 1 Rembang, Jawa Tengah, karena tidak mempunyai gawai.

Sendiri di kelas tidak jadi soal. Setiap pagi, anak seorang nelayan, Didik Suroyo, itu diantar ibunya, Asiatun, ke sekolah dengan sepeda. Beberapa guru sudah siap dan tetap hadir di kelas. Dari satu pelajaran ke pelajaran lainnya, mereka setia menemani Dimas meski sendiri.

“SMP Negeri 1 Rembang memberi kesempatan kepada siswa untuk tetap belajar tatap muka karena ada beberapa orangtua murid yang tidak memiliki gawai. Namun, baru Dimas yang ke sekolah tiap hari,” ujar Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Rembang Isti Chomawati.

Ketiadaan gawai juga dialami siswa di SD Negeri 01, Desa Cabak, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Saking banyaknya, Hartono, guru di sekolah itu, harus berkeliling dari rumah ke rumah mendatangi siswanya.

“Total ada 185 siswa yang seharusnya belajar daring, tapi tidak bisa melakukannya karena tidak ada gawai. Saat ini, saya hanya bisa mendatangi 32 siswa yang duduk di kelas VI saja,” kata Hartono.

Sri Sumarsih, guru SDN Kedung Waduk 1, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, juga harus mendatang i sejumlah siswanya karena alasan serupa. “Banyak yang tidak punya telepon seluler, komputer jinjing, dan sering kali sinyal internet juga sulit,” keluhnya.

Belajar pun digelar di rumah atau di musala. “Semua guru di SDN Kedung Waduk 1 harus turun ke rumah-rumah siswa,” tandasnya.

Kondisi penjangkitan covid-19 di Jawa Tengah belum memungkinkan menggelar pembelajaran dengan tatap muka. “Para guru sudah bertindak keren. Mereka peduli, mau mendatangi siswa atau tetap mengajar siswa di sekolah,” ujar Gubernur Ganjar Pranowo.

Persoalannya memang bukan sekadar punya dan tidak punya gawai. Soal area blankspot juga jadi masalah di banyak perdesaan. Siapa peduli? (AS/WJ/HT/YH/AP/N-3)

BERITA TERKAIT