02 July 2020, 06:30 WIB

Petani masih Sendiri Hadapi Kekeringan


(UL/BB/RF/N-2) | Nusantara

BAYANG-BAYANG kekeringan sudah ada di depan mata petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan, Sutatang, menyatakan ada empat kecamatan yang mulai terdampak bencana kekeringan.

"Selain Kandanghaur, ancaman juga terjadi di Kecamatan Terisi, Gabuswetan, dan Losarang. Saat ini, umur tanaman padi berkisar 30-50 hari dan sangat membutuhkan pasokan air," jelasnya, kemarin.

Kekeringan di depan mata karena daerah ini berada di ujung irigasi. Pasokan air dari Waduk Jatigede dan Jatiluhur tidak sampai ke empat kecamatan tersebut. Saat ini, belum ada bantuan dari pemerintah kabupaten. Petani berusaha menyelamatkan tanaman mereka dengan membuat sumur pantek. Biayanya lumayan besar men capai Rp5 juta-Rp10 juta. "Untuk menghemat biaya, petani patungan," tambah Sutatang.

Kekeringan juga mengancam Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Tidak hanya krisis air bersih, lahan persawahan juga berpotensi puso. "Kami sudah bersiap meng antisipasi kekeringan dengan mengerahkan potensi yang ada," kata Camat Cibeber Ali Akbar.

Untuk jangka pendek, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah menggulirkan perbaikan bendung irigasi Cikondang yang jebol karena banjir. "Butuh waktu 4-5 bulan, pekerjaan kelar. Bendungan akan menyelamatkan pasokan air ke persawah an di sembilan desa," lanjut Ali.

Saat ini, pemerintah kecamatan juga menggiatkan warga untuk melakukan penghijauan di kawasan perbukitan. Selain itu, pembuatan sumur bor juga dilakukan di sejumlah desa dengan dana dari pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi.

"Kami berharap dengan banyak langkah itu, pada musim kemarau ini bencana kekeringan tidak berdampak parah buat masyarakat yang juga sedang dikepung pandemi," tambahnya.

Perbaikan jaringan irigasi dan penyiapan pompa air juga dilakukan Dinas Pertanian Bangka Belitung untuk menghadapi ancaman kekeringan. "Kami akan berusaha sekuat te naga untuk membantu petani agar tidak gagal panen di musim ke marau ini," janji Kepala Dinas Pertanian Juaidi.

Ia mengakui lahan persawahan di wilayahnya dihadang sejumlah masalah. Belum maksimalnya saluran irigasi menyebabkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Karena itu, saat ini di salah satu sen tra penghasil padi, di Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan, perbaikan irigasi terus dilakukan.

Sementara itu, di areal persawahan Bangka Tengah, Bangka, dan Belitung, dinas pertanian menyiapkan pompa air yang mengalihkan air dari sungai ke persawahan.

"Musim tanam Juni-September, kami menargetkan produksi gabah kering 15.510 ton. Target ini akan kami kawal demi menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi," tegas Juaidi.

Target itu akan dicapai dari lahan tanam seluas 5.170 hektare selama Juni-September. Penanaman baru sudah dimulai bulan ini di lahan seluas 1.445 hektare. (UL/BB/RF/N-2)

BERITA TERKAIT