25 June 2020, 12:19 WIB

Petani Menduga Pencemaran Rumput Laut Dari Proyek Dermaga PLTU


Palce Amalo | Nusantara

PETANI rumput laut di Desa Lifuleo, Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menduga pencemaran rumput laut bersumber dari aktivitas proyek pembangunan dermaga milik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Timor 1. Pasalnya jarak antara lokasi budidaya rumput laut dengan lokasi proyek sekitar 1,5 kilometer.

Matheos Laka, perwakilan 62 petani rumput laut Desa Lifuleo mengatakan debu terbawa arus air laut dan menempel di rumput laut. Rumput laut yang tertempel debu mengalami kerusakan hingga hancur. Kondisi itu berlangsung selama tiga bulan terakhir. 

"Kami juga sudah melaporkan ke desa dan pihak perusahaan. Mereka sudah datang dan sempat foto tetapi sampai saat ini belum ada ganti rugi," kata Matheos Laka, Kamis (25/6).

Untuk mengantisipasi kerugian bertamah besar, petani terpaksa melakukan panen dini. Petani memanen rumput laut saat baru berusia tiga minggu atau 21 hari dari kondisi normal 45 hari. Panen dini mengakibatkan petani menderita kerugian jutaan rupiah.Menurut Matheos, petani rumput laut sudah sepakat  memberikan kesempatan kepada perusahaan mengganti kerugian petani terkait pencemaran tersebut. Mereka juga mengancam akan memblokir jalan menuju lokasi pembangunan proyek menggunakan rumput laut. 

"Jika tidak mengganti kerugian petani, kami akan mengambil seluruh rumput laut yang tercemar dan taruh di jalan," kata Matheos Laka kepada wartawan, Kamis (25/6).

Manajemen Proyek PLTU Timor 1 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, Dian Prihatianto Pamungkas mengatakan, dalam pelaksanaan pembangunan, perusahaan selalu mengedepankan standard operation procedures (SOP) yang baik, sesuai standar perusahaan dan aturan yang berlaku serta selalu bekerja dibawah pengawasan dan persetujuan tim pengawas dan PT PLN selaku pemilik proyek.

Selain itu, lokasi pembangunan pembangkit listrik PLTU Timor 1 ini, berlokasi di Dusun Panaf, Desa Lifuleo berjarak kurang lebih 650 meter dari permukiman warga terdekat, dan kurang lebih hampir 1,5 kilometer terhadap lokasi pertanian rumput laut warga.

"Terkait dengan isu kerusakan atau pencemaran rumput laut tersebut, dan dengan pertimbangan jarak lokasi yg cukup jauh, kurang lebih hampir 1,5 kilometer antara temporary jetty dan lokasi budidaya rumput laut masyarakat sekitar. Diharapkan semestinya akan sangat minim sekali dampak negatif aktivitas proyek tersebut terhadap pertumbuhan rumput laut petani sekitar," kata Dian Prihatianto Pamungkas lewat keterangan tertulis.

baca juga: Peran Masyarakat Berhasil Halau Penyebaran Covid-19 di NTT

Selain itu, tambah dia, di saat masa konstruksi jembatan sementara tersebut dimulai sekitar Maret 2020-Mei 2020, kondisi arus laut yang tidak terlalu besar, serta dominan arah angin berupa angin timur (dari benua Australia yg dingin menuju Asia yg panas) bergerak dari timur ke barat atau menjauhi pantai Oesina, juga memperkecil kemungkinan adanya dampak arus debu ke arah budidaya rumput laut tersebut.

"Dengan kondisi geografis jarak lokasi yg cukup jauh, serta faktor kondisi cuaca (arus laut) yang ada, kami berpendapat tidak ada (minimnya) efek secara langsung akibat pembangunan jetty temporary terhadap pertumbuhan rumput laut setempat. Dan jika diperkirakan efek yang muncul akan sangat minim akibat pembangunan jembatan," ujarnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT