04 September 2019, 17:44 WIB

Warga Demak Kecam Pemelencengan Sejarah Oleh Ridwan Saidi


Akhmad Safuan |

WARGA dan pemuda Kabupaten Demak kecam penyataan Ridwan Saidi yang menyatakan bahwa Sultan Demak Raden Fatah dan Sultan Trenggono adalah yahudi. Mereka menuntut Ridwan meminta maaf dan mengklarifikasi pernyataannya itu.

Menurut pantauan Media Indonesia, Rabu (4/9), aksi unjuk rasa melawan pemelencengan sejarah yang dilontarkan oleh Ridwan Saidi berlangsung di alun-alun Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pengunjuk rasa dari mulai remaja, pemuda, mahasiswa, dan tokoh masyarakat mengecam pernyataan budayawan Betawi yang menyatakan Raden Fatah dan Trenggono, Yahudi.

Aksi unjuk rasa itu dimotori oleh Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan diawali di depan Kantor Kejaksaan Negeri Demak dan kemudian berjalan ke depan Masjid Agung Demak. Selanjutnya ziarah ke makam para sultan Demak dan berlangsung tertib. Unjuk rasa ini mengundang perhatian b anyak warga serta para peziarah sore itu.

Koordinator lapangan aksi unjuk rasa Subro mengatakan pernyataan Ridwan Saidi telah melukai warga Demak pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, karena perjuangan kedua sultan tersebut terhadap kejayaan nusantara dan Islam tidak sedikit.

''Ridwan Saidi harus memberikan klarifikasi dan meminta maaf terhadap pernyataannya. Selain ngawur dan tidak berdasar juga membuat kekacauan sejarah, kami warga Demak tidak terima,'' kata Subro.

Setelah pernyataan itu, lanjut Subro, warga marah dan resah, karena sejarah kesultanan Demak terutama jati diri sultan yang cukup diagungkan telah diplencengkan dari kenyataan yang ada. ''Sebagai orang yang sudah tua seharusnya tidak membuat pernyataan yang membuat keresahan,'' imbuhnya.

Sebagai warga Indonesia, ujar Ulin, korlap unjuk rasa lainnya, banyak pihak yang tidak mengerti tujuan Ridwan Saidi di balik itu, karena banyak pernyataan sejarah yang diputar-putar dan tidak berdasar seperti baru-baru ini tentang Kerajaan Sriwijaya.

Sementara itu Pendiri Yayasan Dharma Bakti Lestari Rerie Moerdijat menegaskan jejak sejarah abad ke-16 Raden Fatah dan penerusnya seperti Adipati Unus, Sultan Trenggana, dan Sunan Prawata telah menunjukkan eksistensi sebagai kekuatan religi, politik, sosial, dan ekonomi.

''Jejak-jejak hitoris itu terlihat nyata dalam bentuk artefak yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Bahkan berdasarkan fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa Demak mengalami kemajuan luar biasa pada periode Sultan Trenggana,'' ujarnya.

Menurut Rerie yang getol menyegarkan ingatan publik akan tokoh-tokoh sejarah di kerajaan Islam seperti keberadaan Ratu Kalinyamat di Jepara itu, bagi masyarakat Demak Sultan Trenggana adalah pahlawan kultural bagi masyarakat.

Sebagaian besar masyarakat, kata Rerie, mengetahui sejarah, eksistensi dan kiprah sultan Trenggana sebagai tokoh regional telah berkontroibusi pada perjuangan. ''Wilayah kekuasaannya saat itu meliputi hampir seluruh Jawa, sebagian Sumatera, dan pengaruhnya hingga ke Malaka,'' kata Rerie yang dalam Pileg 2019 terpilih sebagai anggota DPR mewakili Demak, Jepara, dan Kudus itu.

Dia menambahkan bahwa Raden Fatah adalah pendiri kerajaan Demak dan menganut ajaran Islam perdana di tanah Jawa. Sebelum Demak eksis, wilayah ini menjadi asal Majapahit.

''Tumbuhnya kota pusat kerajaan Demak di Bintara yang diperintah oleh Raden Patah atas petunjuk Sunan Ampel, salah seorang Wali Sanga, merupakan bukti dari cikal bakal kerajaan tersebut.''

Selama masa kekuasaan Raden Fatah hingga Sultan Trenggana, Demak merupakan peyebar agama Islam dan pusat politik yang memegang peranan penting dalam bidang perdagangan. Pada periode itu komoditi dagang antara Demak dan Malaka dan daerah lain adalah beras.

''Raden Fatah berkuasa pada akhir abad 15 atau tahun 1518, menikah dengan putri Tiongkok yang kemudian berputra 6 orang yang salah satunya Trenggono yang kelak menjadi Sultan di wilayah tersebut,'' jelas Rerie.

Menurut Rerie yang jebolan jurusan arkeologi UI tersebut, Sultan Trenggono pada 1546 telah menguasai Jawa, Angenia, Bali, dan Madura. ''Sultan juga mengirim utusan seorang perempuan ke Banten dengan tujuan meminta bantuan melakukan penyerangan ke beberapa wilyah, termaasuk melawan Portugis.''

Mengutip tulisan Pinto seorang penulis dari Portugis, Rerie menggambarkan pertempuran Demak bersama dengan Pasuruan ke Blambangan, Pacarakan, dan Panarukan. ''Dalam ekspansi ini Sultan Trenggono meninggal dunia.''

Menurut Rerie, Sultan Trenggana adalah sosok real yang telah memberi kontribusi bagi nusantara. Semangat untuk mengeliminasi pengaruh Portugis di tanah Jawa begitu kuat.

''Kolaborasi dalam membangun hubungan diplomasi dengan beberapa wilayah seperti Banten, Cirebon, Sumatera, dan Kalimantan telah dilakukan cukup intens,'' ujarnya.

Bahkan Sultan Trenggono mempunyai semangat untuk melawan Portugis mengikuti jejak pendahulunya. (AS/OL-10)

BERITA TERKAIT