25 June 2019, 21:20 WIB

Meredam Amuk Banyu Upas di Lereng Gunung Bromo


Bagus Suryo |

FENOMENA embun upas justru menambah keakraban dan persaudaraan, bahkan rezeki mengalir dari fenomena alam tersebut. Bagi warga Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, fenomena setahun sekali memasuki awal musim kemarau itu dimaknai bukan sebagai bencana yang mengerikan.

Kendati embun beku dinilai berpotensi mematikan tanaman pertanian, keberadaan fenomena alam itu justru dimaknai sebagai sesuatu hal yang lumrah, bahkan harus disyukuri keberadaannya.

Sebab, setelah fenomena itu berakhir, akan ada hikmah yang bisa dipetik, ialah munculnya kehidupan baru yang lebih eksotis. Vegetasi dan tanaman hortikultura dipercaya tumbuh lebih subur. Rumput-rumput yang mengering, lalu mati akibat embun upas, nantinya bakal tumbuh lagi lebih menghijau dari sebelumnya.

Embun upas, merupakan embun pagi yang membeku. Demikian definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Warga Tengger menyebut embun beku itu sebagai banyu upas (air beracun). Fenomena itu saban tahun muncul di kawasan setempat, dampaknya dirasakan langsung oleh warga setempat. Namun, akhir-akhir ini, fenomena itu semakin heboh, ramai diperbincangkan.

Menurut warga yang bermukim di daerah rawan bencana erupsi Gunung Bromo, suhu udara kali ini terasa lebih dingin ketimbang tahun lalu. Akan tetapi, di balik semua itu, ada makna lebih penting dan sakral, yakni keakraban dan persaudaraan menjadi lebih erat. Mungkin, hal itu lantaran suasana usai Lebaran. Juga pascapemilihan umum yang masih terus dibicarakan.

Kini, prosesnya hanya tinggal menunggu keputusan majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang gugatan sengketa Pemilihan Umum Presiden pada 27 Juni mendatang.

Malam itu, sejumlah warga berkumpul di pojok gang Desa Ngadisari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (24/6). Berkumpul seperti itu sudah menjadi kebiasaan, tapi akhir-akhir ini lebih intens.

Mereka berkumpul membuat api unggun. Di jalan kampung kawasan Gunung Bromo yang sepi, warga RT 5 RW 1 tersebut jagongan (mengobrol) sembari menyelimuti tubuh mereka dengan sarung. Suhu udara bertambah dingin, kabut pun mulai turun.

Tak jauh dengan Homstay Maria milik Kartono, sejumlah warga diantaranya Pak Karik, Sampetono, Noradi, Ngatimat dan Suyak, berkumpul melingkar di dekat api unggun. Mereka membicarakan seputar pertanian, embun upas hingga sidang MK. Warga berdiskusi sembari menyeruput wedang kopi dan camilan pisang goreng dan buah salak yang mereka bawa dari rumah masing-masing.

"Setelah Pemilu, siapa pun (presiden dan wakil presiden) yang terpilih harus rukun karena kita tetap akan jadi petani," tegas Kartono.

Jagongan yang diselingi dengan canda gurau itu sesekali menyerempet urusan politik. Warga Tengger mengaku rajin melihat sidang MK setelah itu mereka berdiskusi. Di Ngadas, Pilpres dimenangi paslon 01, Jokowi dan Ma'ruf Amin.

"01 yang menang," warga menimpali dalam obrolan itu.

Selama perbincangan itu, mereka berharap Indonesia tetap aman dan damai, masyarakat bertambah sejahtera. Sedangkan terkait embun upas, mereka menganggap fenomena itu biasa terjadi saban tahun.

Bagi petani, panen kentang tahun ini cukup melimpah. Satu hektare lahan bisa panen 20 ton kentang dari sebelumnya rata-rata hanya 15 ton. Harga kentang juga naik dari Rp8 ribu per kg menjadi Rp11 ribu per kg. Saat muncul embun upas, tanaman kentang sudah di akhir musim panen sehingga dampaknya tidak begitu terasa merugikan.


Baca juga: Embun Upas Ancam Budi Daya Edelweiss


Memang, ada petani yang baru tanam kentang, sebab musim tanam diawali Februari hingga Juni. Akan tetapi, petani Tengger punya cara sendiri dalam menanami lahan mereka. Saat kemarau, petani menanam di lahan yang kemiringannya ke arah matahari sore, bukan menanam di lahan yang kemiringannya ke arah matahari pagi. Sebab, awal musim kemarau ini saat siang lebih terik.

"Potensi kerusakan akibat banyu upas hanya di lahan curam, seperti di jurang. Itu pun tanaman kentang yang baru berumur 1 bulan sampai 2 bulan," tegas Kartono.

Kebanyakan petani di Ngadas, lanjutnya, jarang sekali yang menanam kentang di lahan jurang ketika memasuki awal kemarau.

"Kami sudah terbiasa dengan fenomena banyu upas."

Kearifan lokal warga Tenger memaknai keberadaan fenomena banyu upas sebagai berkah, bukan dimaknai bencana. Bahkan, fenomena itu dinilai sebagai awal kehidupan baru yang eksotis.

Benar saja, Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Syarif Hidayat mengatakan fenomena embun upas sudah merata di Ranupani, Cemorolawang dan Penanjakan, meliputi wilayah Kabupaten Lumajang, Probolinggo, Pasuruan dan Malang.

"Frost sebenarnya bisa juga sebagai media pemulihan ekosistem alami karena biasanya setelah rumput kering terkena frost akan muncul regenerasi rumput hijau yang lebih eksotis lagi," tutur Syarif.

Embun upas yang dampaknya bisa mematikan vegetasi justru mendatangkan banyak wisatawan. Dengan begitu penginapan yang dikelola warga setempat tak pernah sepi pengunjung yang artinya rezeki tak ikut membeku, justru terus mengalir.

Buktinya, meski cuaca dingin ekstrem ke titik beku, wisatawan malah semakin bergairah menikmati pemandangan alam Gunung Bromo yang dianggap tak biasa. Lautan pasir saat siang berdebu, pagi hari sangat eksotis. Embun menyelimuti semua kawasan, seperti melihat negeri di atas salju.

Alhasil jumlah wisatawan di Gunung Bromo pun meningkat sebulan terakhir. Selama Mei mencapai 53.868 orang dengan rincian 52.120 pengunjung Nusantara dan 1.748 pengunjung mancanegara. Kini mencapai 84 ribu pengunjung sejak 1 Juni sampai 24 Juni 2019.

Fenomena frost bagi pengunjung menjadi daya tarik langka dan eksotis sehingga banyak yang mengabadikan dalam bentuk swafoto atau video.

Sejauh ini, suhu dingin ekstrem juga belum berdampak serius di tetangga Desa Ngadas, yakni Gubuk Klakah. Di desa itu, memang suhu udara lebih dingin, tapi tidak sampai muncul embun upas. Gubuk Klakah sebagai desa wisata penghasil buah apel masih aman. Namun, awal kemarau 2018, banyu upas sempat merusak tanaman sayur mayur, diantaranya tomat, bawang pre dan kubis. Bunga bakal buah apel gagal mekar, lalu rontok. Luas areal tanaman di desa itu yang terdampak sekitar 25% dari total lahan apel.

"Semoga tahun ini aman," tegas Kepala Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Ngadiono.

Areal perkebunan di Gubuk Klakah sekitar 384 hektare, seluas 100 ha di antaranya kebun apel. Meskipun nantinya muncul embun upas, lanjut Nagdiono, petani sudah memiliki pengalaman mengatasi hal itu.

"Bila embun upas muncul, petani langsung menyemprot tanaman dengan air yang dicampur pupuk daun sebanyak dua kali seminggu. Upaya itu guna mencegah potensi gagal panen," katanya.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BPPD) Kabupaten Malang, Yulianti B Kuntari mengatakan sudah mendata dampak fenomena embun upas pada tanaman hortikultura. Sejauh ini, katanya, masih aman dalam artian belum ada kerusakan serius. Akan tetapi, petani diingatkan untuk mewaspadainya karena fenomena itu bisa mengakibatkan gagal panen.

"Embun upas bisa menurunkan mutu buah apel, daun keriting dan buah burik. Kalau masih tunas, membuat tunas tidak normal sehingga tidak menjadi buah," ungkap peneliti buah apel tersebut.

Solusinya ketika terkena embun upas, petani harus rajin melakukan penyemprotan.

"Menyemprotkan fungisida bertujuan untuk mencegah jamur berkembang. Pengompresan secara rutin dibutuhkan guna mencegah jamur," imbuhnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT