31 March 2019, 15:00 WIB

Harga Gabah Anjlok karena Mesin Pengering Minim


Andhika Prasetyo |

HARGA gabah terus mengalami penurunan dalam spekan terakhir. Di beberapa daerah sentra seperti Cilacap, Jawa Barat; Banyumas, Jawa Tengah; Jember, Jawa Timur dan Lombok, Nusa Tenggara Barat harga gabah kering panen sudah menyentuh Rp3.500 per kilogram (kg).

Padahal, pada pertengahan Maret, harga masih bertahan di atas Rp4.500 per kg.

Penyebabnya tidak lain karena musim panen raya yang sudah mulai memasuki puncak sehingga membuat hasil produksi melimpah. Perusahaan-perusahaan penggilingan padi pun kesulitan menyerap karena volume gabah di lapangan terlalu besar.

Alhasil, kondisi tersebut membuat nilai tawar komoditas itu menjadi jatuh.

"Kalau kita pasang harga tinggi, tidak ada yang ambil. Mau tidak mau kita jual rendah," ujar Ketua Kelompok Tani Lingko Bake Sabri Amin kepada Media Indonesia, Minggu (31/3).

Kondisi tersebut diperparah dengan curah hujan yang tinggi yang kian menyulitkan para petani.

Kalau dibiarkan terlalu lama terkena hujan di sawah, sambungnya, tanaman padi akan rebah dan itu membuat mereka tidak bisa dipanen secara manual.

"Kalau sudah seperti itu tidak bisa lagi pakai mesin dan itu butuh waktu yang sangat lama karena hanya dengan sabit," jelasnya.

Kondisi basah juga membuat gabah tidak bisa dengan cepat dikeringkan.

 

Baca juga: Petani Panen Dini Akibat Padi Roboh Diterjang Angin

 

Selama ini, sebagian besar petani, tidak terkecuali yang berkawasan di Lombok Barat seperti Sabri, hanya mengandalkan lantai jemur untuk mengeringkan gabah.

Ketika cuaca panas, gabah bisa kering dalam satu hari tetapi ketika hujan terus mengguyur, gabah baru bisa kering sampai tiga hari, itu pun dalam kualitas yang tidak baik karena mengandung banyak air dan membuat harga semakin anjlok.

Bantuan pemerintah melalui Kementerian Pertanian seperti alat pengering pun sama sekali tidak terlihat untuk memperbaiki kondisi di lapangan.

Sabri mengatakan, alat-alat pengering selama ini diberikan kepada pihak-pihak yang tidak tepat, yang tidak mampu mengelola sarana itu sehingga tidak dapat memberi manfaat secara maksimal bagi para petani.

"Ada memang yang dikasih pengering tapi tidak dipakai. Pemberiannya tidak tepat. Seharusnya yang diberikan itu kelompok-kelompok yang proaktif, yang punya banyak jaringan. Semestinya yang diberikan itu yang punya kendaraan. Mereka jalan keliling mengambil gabah petani. Mereka bisa pasang harga, kami pasti bersedia daripada menunggu kering berhari-hari," ucapnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT