24 January 2019, 23:15 WIB

Dari Kelurahan Kupantau Cuaca Kotaku


(Bayu Anggoro/N-3) | Nusantara

PENGALAMAN Kota Bandung, Jawa Barat, dikepung banjir, diterpa angin kencang, dan hujan es membuat warganya waswas. Mereka kerap bertanya-tanya bagaimana kondisi cuaca hari ini. Khususnya saat menjelang peralihan musim kemarau ke hujan. Prakiraan kondisi terkini menjadi acuan warga beraktivitas. Sayang, situs Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) terlalu luas bagi mereka. Warga ingin yang simpel, info cuaca langsung terfokus pada daerahnya semata.

Hal ini yang mendasari Budi Rahardjo, Chief Information Officer Indo Cisc dan Marcelus Ardiwinata, Chief Operating Officer Cyberindo Aditama (CBN), memikirkan bagaimana mendapatkan info cuaca real time yang bisa diakses masyarakat dengan mudah dan cepat. Masyarakat tidak perlu ribet mengaksesnya, cukup dari kelurahan setempat.

“Kebetulan Pemkot Bandung memiliki layanan smart city. Kami bergerak untuk memberikan layanan cuaca,” kata Budi di sela-sela acara Hackathon 2019: Hackbdgweather yang diselenggarakan di Bandung, Kamis (24/1).

“Dimulai pada 2017, kami datangi kelurahan-kelurahan untuk menyosialisasikan tentang aplikasi cuaca ini. Semula mereka menjawab untuk apa, tapi kemudian kelurahan welcome dengan usulan aplikasi cuaca ini,” ungkap dosen ITB itu.

Respons kelurahan terbilang cepat, Budi kini sibuk memasang alat untuk pemantau cuaca di setiap kelurahan. Di dalam alat itu dikembangkan sensor untuk memantau suhu, arah angin, kecepatan angin, sensor ultraviolet, dan violet radiation. Sensor ini akan mengirim data per 30 detik yang masuk ke cloud. Data mentah ini secara terbuka bisa digunakan kelurahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan BMKG.

“Kami terbuka untuk data. Siapa pun boleh menggunakan. Namun, ini khusus untuk Kota Bandung. Saya menginginkan model yang kami kembangkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” harapnya.

Dari 155 kelurahan di Kota Bandung, baru 55 kelurahan yang dipasangi alat sensor cuaca ini. Di masa mendatang alat sensor itu akan dikembangkan untuk memantau perkembangan jentik nyamuk demam berdarah, pertanian, dan debu, atau polusi saat akhir pekan di Kota Bandung.

“Saat weekend di Bandung selalu macet karena kedatangan orang luar untuk berlibur. Jadi kita pantau debu-debu di Bandung,” terang Budi.

Sementara itu, untuk pantauan banjir dan kualitas tanah belum bisa dilaksanakan karena masih terkendala perizinan.

Marcelus menambahkan, dalam konsep smart city ini harus melibatkan publik, agar bisa terus berkembang, diadakan Hackathon: Hackbdgweather 2019 yang digelar pada 23-24 Januari di Kota Bandung. Acara tersebut mencari jawara aplikasi cuaca, yang kemudian akan dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Diikuti 38 tim dari berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia. “Kami ingin anak-anak muda bergerak dan membangun sesuai revolusi 4.0,” harap Marcelus.

Alat sensor cuaca yang sudah dipasang di kelurahan-kelurahan ini akan terus dikembangkan. Khususnya dengan menggabungkan aplikasi-aplikasi dari hasil penjurian Hackathon. (Bayu Anggoro/N-3)

BERITA TERKAIT