01 April 2023, 17:41 WIB

Penumpang KRL Maksa Masuk Gerbong Demi Kejar Waktu Berbuka


Mohamad Farhan Zhuhri  |

STASIUN Manggarai menjadi lokasi wajib bagi kebanyakan pengguna kereta rel listrik (KRL). Pasalnya, saat ini Staisun Manggrai menjadi pusat transit kereta yang akan berpindah ke tujuan.

Kondisi Staisun yang padat setiap harinya, membuat tidak sedikit para pengguna KRL atau biasa disebut Anker (anak kereta) mengeluhkan kondisi itu.

Salah satunya Ari, 29, seorang pekerja swasta asal Jatiasih Bekasi menggunakan transportasi publik KRL untuk sampai ke tempat kerja di Gondangdia, Jakarta Pusat.

Baca juga: Jumlah Penumpang KRL Jabodetabek Akhir Pekan Meningkat

Dari stasiun Bekasi menggunakan kereta tujuan Kampung Bandan untuk mencapai Staisun Manggarai. Di sana, Ia lalu lanjut menggunakan kereta tujuan Staisun Kota lalu turun di Stasiun Gondangdia.

"Setiap hari saya menggunakan KRL untuk bekerja, kalau Manggarai udah biasa padat seperti itu," kata Ari.

Baca juga: Penumpang KRL Diperkenankan Buka Puasa di Dalam Kereta

Apalagi di bulan puasa tahun ini, pasca pandemi covid-19 melandai, aktivitas luar ruangan semakin ramai tidak terkecuali di Staisun Kereta. Jam berangkat dan pulang kerja selalu padat dengan warga yang menggunakan kereta.

Ari merasakan puncak kepadatan penumpang saat pulang kantor. Ia berangkat dari Gondangdia pukul 16.00 WIB, biasanya pukul 16.30 WIB Ari sudah tiba di Stasiun Manggarai.

"Nah saat jam 16.30 itu lagi padatnya, mungkin pada mau buka puasa dirumah, jadi mereka buru-buru menggunakan kereta yang tiba," kata Ari.

Tidak sampai disitu, pada jam pulang kantor kereta hampir tidak ada yang kosong. Gerbong-gerbong kereta sudah terisi penuh sampai tidak ada jarak antar penumpang. Tak sedikit orang yang memaksa untuk naik walau sudah penuh.

"Saya juga kadang maksain aja kalau udah penuh, toh nanti saat di dalam kereta pelan-pelan muat," kata Ari.

Menurutnya, saat ini pengguna KRL semakin banyak, bukan hanya karena tarif murah. Apalagi saat ini transportasi di Jakarta sudah terintegrasi dengan transportasi lainnya seperti Bus Transjakarta.

"Saya berharap bisa lebih baik aja dari segi pelayanan dan mungkin keretanya lebih banyak, jadi bisa 5 menit sekali ada kereta, jadi tidak menumpuk," pungkas Ari. 

Penumpang lain, Muhammad Ridaf Sukri menambahkan, penumpang KRL sering kali memaksakan diri untuk masuk gerbong. Pintu gerbong bahkan kadang sudah tidak bisa ditutup. 

“Saat menjelang waktu buka puasa, penumpang KRL memang tidak terbendung. Tiap kereta lewat pasti penuh. Bahkan sudah tidak muat, banyak penumpang yang memaksa tetap masuk gerbong,” kata Ridaf. 

Ridaf mengakui, biasanya kepadatan penumpang KRL terurai setelah jam buka puasa. Namun, sekitar pukul 20.00 WIB kepadatan penumpang akan kembali lagi. 

“Biasanya, penumpang yang memaksa tetap pulang sebelum maghrib mau tetap berjamaah solat tarawih di Masjid,” kata dia. 

Untuk itu, menurut dia, pihak PT. KCJ seharusnya memiliki sistem yang membantu mengurai kepadatan penumpang selama Ramadan. Misalnya,  memberikan rangkaian kereta terpanjang, 12 gerbong selama di jam-jam sibuk. 

“Kalau kereta yang datang cuma delapan gerbong wah ya sudah padat isinya, dan penumpang juga engga mau kalah, tetap memaksa masuk gerbong,” tandas dia. (Z-10)

BERITA TERKAIT