28 October 2022, 18:23 WIB

Ekosistem Gojek Bantu Jassinta Menggapai Cita


Gana Buana |

Suparti, perempuan paruh baya itu setiap hari menggantungkan hidupnya di atas panasnya aspal jalanan. Perempuan yang tinggal di Gang Bidan Anis, Cipayung, Depok, Jawa Barat itu, memiliki seorang putri ‘istimewa’ sehingga  dia mesti banting tulang tak kenal lelah demi putri kesayangannya itu.

Jassinta, anak bungsu Suparti, didiagnosa menderita tuna-rungu ketika berusia empat tahun. Saat itu, Suparti yang bekerja sebagai buruh pabrik  terpaksa mengundurkan diri. Keputusan ini ia ambil untuk merawat anaknya yang butuh bantuan dalam segala hal.

Setelah resmi menjadi ’pengangguran’, Suparti menjalankan kegiatan sehari-hari nyambi ‘ngojek’ antar jemput sekolah. Bertahun-tahun berlalu, hingga pada 2017 dia memutuskan bergabung menjadi mitra ‘Gojek’. Ia adalah ’srikandi’ tangguh yang kadang harus mengantar pesanan customer dari Jalan Laut Arafuru, Depok ke Jalan Pangrango di Bogor.  

“Karena harus bantu menopang ekonomi keluarga jadi apa saja saya ambil, mau itu antar penumpang atau barang. Sejauh apa saya jalani saja,” tutur Suparti saat ditemui Media Indonesia, di kediamannya di Depok, Jawa Barat, Rabu (5/10).

Perempuan beranak tiga ini mengaku cukup berat melakoni berbagai peran, sebagai seorang ibu yang juga berprofesi sebagai driver ojol. Dari mengatur waktu, mengurus rumah tangga hingga merawat anak di rumah. Namun, berkat jerih payahnya itu, ia kini bisa menyekolahkan anak bungsunya ke jenjang lebih tinggi.

“Saya tidak menyangka dapat kesempatan ini. Padahal, saya saja baru mampu membelikan Jassinta alat bantu dengar saat masuk SMA (Sekolah Menengah Atas),” ujar perempuan berusia 53 tahun itu

Meski didiagnosa tuna-rungu, Jassinta tergolong cerdas. Nyatanya meski tak bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), ia tetap bisa mengikuti dan kerap memperoleh peringkat tiga besar.

Sejak Jassinta duduk di bangku sekolah dasar, Suparti ingin membelikan Jassinta alat bantu dengar. Namun karena keterbatasan ekonomi, hal tersebut urung dilakukan sampai akhirnya Jassinta duduk di bangku SMA.

Harga alat bantu dengar yang dimaksud Suparti saat itu berkisar Rp1,5 juta. Pendapatan harian Suparti kala itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara bila ditambah tabungan biaya sekolah juga tidak cukup untuk membeli alat tersebut.

“Baru pas Jassinta masuk SMA alat itu kebeli, nabung bertahun-tahun sedikit demi sedikit, karena kan alat itu mahal bagi saya yang pendapatan hariannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” terang Suparti.

Kini Suparti dengan bangga mengantarkan Jassinta kuliah di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Depok. Jassinta terpilih menjadi salah satu penerima Program Beasiswa Gojek untuk mengenyam pendidikan Diploma 3 (D3) di delapan politeknik negeri unggulan di Indonesia. Ia berharap, Jassinda yang telah kuliah semester dua di Prodi Penerbitan Karya Jurnalistik itu mampu mewujudkan cita-citanya.

“Saya hanya bisa mendoakan saja agar Jassinta lancar, cepat lulus kuliah, tanpa hambatan dan bisa menjadi apa yang Ia cita-citakan,” kata Suparti perlahan. Di sudut matanya ada setitik air mata. Ia menangis.

Jassinta, yang saat itu ikut ditemui mengaku bersyukur bisa memperoleh kesempatan belajar ke jenjang lebih tinggi. Ia yang terlahir berkebutuhan khusus namun harus bersekolah di sekolah reguler ini, tentu menemui sejumlah tantangan.

“Kesulitannya selama ini hanya saya sulit mendengar, selebihnya saya belajar di sekolah dibantu juga oleh guru-guru hingga sampai lulus tidak ada kendala,” tutur gadis remaja ini.

Perempuan berusia 18 tahun ini berharap, ke depan mampu menyelesaikan kuliah dengan lancar sehingga, cita-cita yang Ia impikan bisa terwujud.

“Syukur-syukur bisa lulus langsung dapat kerja, agar bisa nerusin lagi ke jenjang sarjana, kalau saat ini kan baru sampai D3,” ujarnya.

Dilansir dari laman Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kemendikbud, dari total 7 miliar penduduk dunia pada 2021, 15% di antaranya adalah penyandang disabilitas. Dari 15% itu, 80% tinggal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di dunia pendidikan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), akses pendidikan kepada kaum disabilitas masih tergolong rendah. BPS menyebutkan, ada 30,7% penyandang disabilitas  yang tidak tamat sekolah sampai tingkat pendidikan menengah. Sementara mereka yang berhasil tamat perguruan tinggi hanya 17,6% dari total penyandang disabilitas.

Bahkan, dalam Konferensi Nasional MOST – UNESCO yang difasilitasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) disebutkan hanya 2,8% penyandang disabilitas yang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. Padahal, pendidikan merupakan hak dasar dan inklusif bagi setiap individu.

Koordinator Fungsi Penilaian, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Kemendikbud, Aswin Wihdiyanto mengungkapkan, pemerintah terus berupaya melakukan yang terbaik. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan akomodasi yang layak, sesuai yang tertera pada Peraturan Pemerintah No. 13/2022 Pasal 4, yakni memberikan akomodasi yang layak dengan dukungan anggaran dan bantuan pendanaan, penyediaan sarana dan prasarana, penyiapan dan penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan dan juga penyediaan kurikulum yang sesuai.

“Persoalan pendidikan penyandang disabilitas adalah masih minimnya bukti ilmiah untuk mendasari penyusunan kebijakan dan perancangan program yang tepat. Ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan kebijakan dan program serta layanan penyandang disabilitas belum sepenuhnya inklusif, terpadu (lintas-sektor), dan memadai,” kata dia.

Keterlibatan Swasta

Oleh karena itu, peran swasta juga diperlukan untuk mempercapat tujuan mewujudkan cita-cita negara memberikan pendidikan yang inklusif bagi para disabilitas. Karena itu, lewat program ‘Program Beasiswa Gojek’, Gojek Indonesia memberikan beasiswa perguruan tinggi bagi anak mitra driver.

Memasuki tahun ketiga berjalannya program tersebut, sebanyak 45 anak mitra driver menerima keistimewaan tersebut, termasuk Jassinta. Rangkaian proses seleksi ketat dijalani calon penerima beasiswa. Seleksi tersebut mencakup seleksi bagi mitra driver (performa, kejujuran, dan loyalitas) dan seleksi bagi anak mitra driver (prestasi, motivasi, serta seleksi kemampuan akademis dari politeknik).

Head of Indonesia Regions Gojek Gede Manggala menyampaikan, Program Beasiswa Gojek ini konsisten diadakan setiap tahun dan merupakan bagian dari program Gojek Swadaya yang berfokus mendorong peningkatan taraf hidup mitra driver dan keluarga. Bahkan pada 2022 ini Gojek menambah wilayah jangkauan penerima beasiswa hingga 8 kota.

“Kami konsisten dengan tujuan dari beasiswa ini. Gojek bekerja sama dengan politeknik yang diyakini merupakan lembaga pendidikan yang bisa menyediakan ilmu pengetahuan sekaligus berorientasi pada praktik kerja dan membuka kesempatan bagi lulusannya untuk segera terserap sebagai tenaga kerja yang tepat guna,” ujar Gede.

Selain memberikan kesempatan pendidikan formal, kata Gede, Gojek juga membekali para penerima beasiswa dengan program pengembangan diri berupa pelatihan dan diskusi terkait dengan keterampilan non-akademis (soft skill). Keterampilan ini dipercaya bisa membantu anak mitra jadi talenta era digital yang bisa beradaptasi dengan dunia kerja masa depan.

Program pengembangan diri tersebut dibawakan secara sukarela oleh para karyawan di manajemen Gojek yang kompeten dalam bidangnya, sebagai bentuk dukungan antaranggota ekosistem Gojek. Sejak awal, program ini dirancang untuk memberikan bantuan yang komprehensif agar dapat menjadikan putra atau putri mitra driver sebagai tenaga kerja yang kompeten dan tepat guna.

“Maka dari itu, bantuan yang kami berikan berfokus kepada kualitas dibanding kuantitas, dengan harapan bisa membantu mewujudkan cita-cita anak mitra driver yang sungguh-sungguh berprestasi namun terhambat oleh faktor ekonomi,” jelas dia.

Sejak diluncurkan pada 2016, selain meringankan biaya pendidikan melalui program beasiswa untuk anak mitra pengemudi, ragam inisiatif di Gojek Swadaya diutamakan untuk meringankan beban operasional mitra pengemudi, melindungi mitra driver dengan program asuransi, serta menyediakan akses untuk mitra agar dapat merencanajkan masa depan yang lebih baik. Misalnya, melalui program tabungan, pinjaman, dan cicilan KPR terjangkau. (M-3)

BERITA TERKAIT