02 July 2022, 10:45 WIB

Kota Depok Kembali Terima 16.450 Dosis Vaksin Sinovac


Kisar Rajaguguk |

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Depok kembali menerima sebanyak 1.645 vial atau 16.450 dosis vaksin covid-19 Sinovac dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat untuk program vaksinasi yang terkait pelayananan publik.

Juru bicara Satgas Pemkot Depok untuk penanganan covid-19 Dadang Wihana mengatakan 1.645 vial vaksin Covovac sudah terpakai 808 vial, sedangkan yang tersisa 557 vial belum didistribusikan. Untuk saat ini pemberian vaksin jenis tersebut dihentikan sesuai dengan arahan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Dengan adanya info kemarin dari MUI terkait fatwa itu, untuk Kota Depok sementara dihentikan,” kata Dadang, Sabtu (2/7).

Ia belum tahu sampai kapan pemberian vaksin Covovac dihentikan. Sejauh ini, ujar dia, masih menunggu keterangan lebih lanjut dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

“Karena untuk vaksinasi, untuk kegiatan pencegahan penanganan itu kita satu komando dari pusat. Itu sudah dilaporkan kepada Kemenkes RI seperti apa keberlanjutannya,” ucapnya.

Penghentian pemberian vaksin Covovac di Kota Depok sejak Senin kemarin.

“Untuk sementara kami sejak hari Senin itu udah hentikan sementara untuk vaksin Covovac,” imbuhnya.

Untuk vaksin yang tersisa, lanjut Dadang, masih disimpan di tempat khusus sesuai prosedur yang berlaku. Satu vial vaksin bisa diberikan untuk 10 orang. Berarti 1.645 vial bisa untuk 16.450 orang.

Baca juga: Satgas Pastikan Booster Sinovac Efektif Hadapi Covid-19

Menurut Dadang, pihaknya menerima vaksin dari Kemenkes melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Setelah ada fatwa MUI kemudian pihaknya berkordinasi dengan Wali Kota Depok untuk kemudian menghentikan sementara pemberian vaksin Covovac.

“(satu vial) untuk 10 orang. Karena kan tadi kita kan dikirim vaksin dari Kemenkes RI melalui provinsi, kita sesuaikan dengan standar operasional prosedur (SOP). Ketika ada perkembangan baru terkait fatwa MUI untuk kejelasannya maka kita atas arahan Pak Wali untuk dihentikan sementara,” ujarnya.

Terkait dengan perkembangan kasus, Dadang menyebut saat ini masih terjadi kenaikan sebanyak 91 kasus dengan total kasus aktif 108 kasus per hari Kamis (30/6). Kenaikan diduga dari pengaruh subvarian omikron BA.5.

Saat ini jumlah warga Kota Depok yang terpapar subvarian tersebut bertambah menjadi lima orang dari sebelumnya empat orang. Dari lima orang tersebut, tiga sudah selesai isolasi. Namun untuk kepastiannya kata Dadang harus dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) dari Kemenkes.

“Ada kemungkinan subvarian Omicron BA.5 itu sendiri, karena kan tadi kalau secara faktual data yang sudah positif Omicron varian BAS.5 hanya 5 orang dari awalnya empat bertambah satu. Untuk pemeriksaan BA.5 itu harus melalui WGS Kemenkes. Hanya Kemenkes RI yang punya lab-nya,” tukasnya.

Terkait dengan bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit saat ini masih terkendali. Untuk BOR ICU yaitu 5,88 dan untuk isolasi 8,37 atau masih dibawah 10%. Kendati demikian, tiap RS memiliki SOP tertentu jika nanti terjadi lonjakan kasus. Sedangkan untuk isolasi terpadu (isoter) ada di RS ASA atau RSUD Kota Depok bagian timur di Tapos dengan kapasitas 80 tempat tidur.

“Kemarin terisi hanya 4 bed. Jadi dengan peningkatan kasus saat ini terutama untuk ke RS rata-rata banyaknya mereka (pasien) melakukan isoman karena gejalanya ringan seperti tidak harus melakukan perawatan,” pungkas Dadang.(OL-5)

BERITA TERKAIT