20 June 2022, 11:50 WIB

Politisi PDIP: Anies Fokus Capres Picu Polusi Udara Jakarta


Hilda Julaika |

ANGGOTA Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak mengkritik respons Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat Jakarta berada dalam tingkat polusi udara yang tinggi. Menurutnya Anies justru lebih fokus pada persoalan calon presiden (Capres).

"Pilpres masih 14 Februari 2024, dan Anies masih menjabat sampai 16 Oktober 2022. Akan tetapi saat udara Jakarta mengalami polusi terberat di dunia, fokus Anies terlihat lebih ke pencapresan," kata Gilbert kepada Media Indonesia, Senin (20/6).

Lebih lanjut dijelaskan, data terakhir pada 17 Juni menerangkan jika udara Jakarta berturut-turut paling berpolusi di dunia. Namun, Gilbert mengungkapkan tidak mendengar apa yang akan dilakukan Anies untuk menyelamatkan warga DKI.

Padahal menurutnya, polusi beracun ini bisa mengurangi angka harapan hidup sebesar 4 tahun. Angka ini lebih berbahaya dari dampak AIDS dan penyakit lainnya.

"Apakah ini bentuk ketidakpedulian karena mau nyapres; ketidakmampuan mengatasi masalah seperti banjir, perumahan DP nol rupiah, pengolahan sampah/ITF, jabatan ASN di Pemprov yang tidak diminati atau faktor lainnya, tidaklah jelas," ungkapnya.

Ia meminta, pencemaran udara yang sangat berbahaya ini harus diatasi. Pasalnya, seluruh penduduk di Jakarta terdampak.

Menurutnya, seharusnya data kenaikan kasus gangguan pernafasan sudah terdeteksi karena tingkat polusi yang berat ini sudah berlangsung lebih dari 2 pekan.

"Apa yang harus dilakukan jajarannya, termasuk pendidikan kepada masyarakat sudah harus disampaikan. Masyarakat perlu sadar agar mengurangi kendaraan pribadi, dan menggunakan masker di luar rumah," imbuhnya.

Selain itu, ia menyarankan agar kebijakan ganjil-genap yang diperluas hingga 26 jalur sebaiknya dievaluasi. Lantaran walau dinyatakan mengurangi kemacetan, tetapi membuat polusi bertambah.

"Tidak perlu menata kata untuk memberi penjelasan soal penyebab dan hal lainnya, tetapi yang diperlukan adalah tindakan. Jakarta butuh pemimpin, bukan pejabat. Seorang pemimpin seharusnya bekerja dengan hati demi rakyat, bukan harus diberitahu," jelasnya.

Sebelumnya, Lembaga data kualitas udara, IQ Air kembali menempatkan kualitas udara Jakarta pada posisi pertama di dunia sebagai kota dengan kualitas udara terburuk pada Jumat (17/6) pagi.

Lembaga data kualitas udara, IQ Air melalui laman resmi di Jakarta, mencatat kualitas udara di Jakarta hingga pukul 07.50 WIB mencapai indeks 160.

Adapun indeks kualitas udara berdasarkan standar Amerika Serikat (AQ US) menggolongkan indeks 151 hingga 200 merupakan kategori udara yang tidak sehat. Konsentrasi "particulate matter" (PM) 2.5 mencapai 14,6 kali lipat di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

PM 2.5 merupakan polutan pencemar udara yang paling kecil dan berbahaya bagi kesehatan tubuh.

IQ Air menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker, menghidupkan pemurni udara, menutup jendela dan menghindari aktivitas di luar rumah.

Sebelumnya, pada Rabu (15/6) kualitas udara Jakarta juga menduduki posisi pertama di dunia dengan indeks kualitas udara tidak sehat mencapai 188 pada pukul 11.00 WIB. (OL-13)

Baca Juga: Tidak Sehat, Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Tembus Indeks 193

BERITA TERKAIT