26 April 2022, 23:55 WIB

Penggunaan QRIS di Jakarta Ditargetkan Capai 4,5 Juta Merchant


Putri Anisa Yuliani |

KANTOR Bank Indonesia (BI) Perwakilan DKI Jakarta menargetkan pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Ibukota bisa menembus 4,5 juta merchant dari capaian nasional 15,1 juta merchant. 

Saat ini, pengguna QRIS sebagai alat transaksi pembayaran elektronik di Jakarta mencapai 3,9 juta merchant.

Kepala Kantor BI Perwakilan DKI Jakarta, Ony Widjanarko, menargetkan tahun ini pertumbuhan merchant penyedia QRIS dapat mencapai 600 ribu merchant.

“Jadi, kalau merchant sudah menjadi 3,9 juta, saatnya kita mendorong transkaksi ke toko pakai QRIS,” kata Ony saat diskusi virtual dengan Balkoters berjudul Jakarta jadi Pusat Bisnis Global: Tantangan dan Peluang Digital Payment, pada Selasa (26/4).

Ia menjelaskan, pengguna QRIS sekarang akan semakin leluasa bertransaksi karena limit transaksi sudah ditambah dari yang awalnya maksimal Rp5 juta, sekarang menjadi Rp10 juta.

“Itu adalah angka yang dapat mendorong tambahan pertumbuhan transaksi digital yang ada di Jakarta,” ujarnya.

Di sisi lain, pangsa ekonomi di Jakarta mencapai 17,19% di tingkat nasional. Angka ini diklaim sangat tinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia, padahal Jakarta hanya dihuni 10,6 juta jiwa.

“Ini karena memang kepusatannya, Jakarta serba pusat dari pusat perdagangan, pusat informasi, pusat keuangan dan pusat ekonomi digtal,” jelasnya.

Baca juga : Ibu Kota Pindah, BI Yakin Jakarta Jadi Kota Bisnis Seperti New York

Lantaran Jakarta menjadi pusat perdagangan, transaksi digital di Jakarta cukup besar. Hingga akhir 2021 lalu, transaksi e-commerce mencapai Rp22,4 triliun dan angka ini meningkat 8% dari triwulan sebelumnya sebesar Rp21,7 triliun.

“Ini baru sumber dari empat e-commerce lokal. Nah, mestinya lebih dari ini karena angka Rp22,4 triliun baru empat e-commerce terbesar,” tuturnya.

Menurut dia, pandemi Covid-19 membuat adanya pergeseran perilaku masyarakat dalam setiap aktivitasnya. Kewajiban masyarakat menjaga jarak untuk menghindari penularan Covid-19, justru mengubah berinteraksi, berkomunikasi, dan bertransaksi melalui digital.

Ony berujar, berdasarkan riset Google pada 2021 lalu, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 146 miliar dollar AS. Angka itu mendekati cadangan devisa negara saat ini.

“Untuk Jakarta diperkirakan pangsanya tetap yang lebih besar, sekitar 65%-70% digital di Indonesia itu, adanya di Jakarta,” ucapnya.

Dia menambahkan, BI dan perusahaan penyedia jasa pembayaran (PJP) berkomitmen memperluas akseptasi pembayaran digital. Salah satunya melalui fasilitas penggunaan QRIS di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan, termasuk di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Selain itu, BI juga telah mendorong kemudahan bertransaksi secara digital melalui program sehat, inovatif dan aman pakai (S.I.A.P). Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Perdagangan RI dengan Bank Indonesia melalui pencanangan pasar dan pusat perbelanjaan demi memperluas akselerasi penggunaan QRIS dan mendisplinkan metode pembayaran yang sesuai dengan protokol kesehatan (efisiensi, praktis, dan higienis). (OL-7)

BERITA TERKAIT