22 March 2022, 17:49 WIB

Permukaan Tanah di Muara Baru Turun 7,5 Cm per Tahun


Putri Anisa Yuliani |

ANCAMAN wilayah Jakarta tenggelam semakin nyata. Hal itu tecermin dari penurunan permukaan tanah di wilayah Muara Baru, Penjaringan, hingga 7,5 cm per tahun. 

Hal itu diungkapkan Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Afan Adriansyah dalam peringatan Hari Air Sedunia. Dengan angka tersebut, Muara Baru yang berada di pesisir Jakarta, menjadi wilayah yang paling parah penurunan muka tanahnya.

Penurunan muka tanah juga berkontribusi pada ancaman tenggelamnya Jakarta, yang dibarengi dengan kenaikan permukaan air laut. "Untuk penurunan muka tanah, titik-titik terparah ada di pesisir, terutama sisi barat. Penurunannya 7,5 cm per tahun," jelas Afan, Selasa (22/3).

Baca juga: Kebijakan Pengelolaan Air di Jakarta Harus Dibenahi

Adapun penurunan muka tanah disebabkan masifnya eksploitasi pengambilan air tanah. Guna mencegah pengambilan air tanah oleh warga, Pemprov DKI menyiapkan regulasi untuk mengontrol ekstraksi air tanah. Itu dengan menerbitkan Pergub DKI Nomor 93 Tahun 2021 tentang Zonasi Bebas Air Tanah.

"Dalam pergub tersebut ditetapkan bahwa tahun depan, mulai 1 Agustus 2023, untuk jalan maupun kawasan yang memang sudah dilayani air perpipaan, sudah tidak diperkenankan lagi atau dilarang mengambil atau memanfaatkan air tanah," imbuh Afan.

Baca juga: Warga Marunda Terdampak Pencemaran Batu Bara, Dinkes DKI: Siap Layani Skrining

Beberapa kriteria atas pelarangan pengambilan air tanah, yaitu bangunan dengan luas lebih dari 5.000 meter persegi dan bangunan dengan lebih dari 8 lantai. Pemprov DKI menyadari bahwa larangan mengambil air tanah harus diiringi dengan cakupan air bersih hingga 100%. 

Saat ini, cakupan layanan air bersih lewat jaringan pipa PAM Jaya sudah mencapai 68%. Pihaknya menargetkan cakupan tersebut mencapai 100% pada 2030 mendatang. Pemprov DKI bersama PAM Jaya melakukan berbagai upaya, agar target itu dapat dipenuhi.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT