14 February 2022, 23:21 WIB

Indikasi Puncak Lonjakan Omikron Jakarta Terlewati masih Perlu Pengamatan


Hilda Julaika |

AHLI epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mewanti-wanti agar DKI Jakarta tetap melakukan pengetatan pembatasan sosial. Hal itu lantaran puncak lonjakan kasus omikron belum dipastikan sudah terlewati. 

Pernyataan ini sekaligus merespons isu adanya indikasi puncak gelombang omikron sudah dilalui.

“Menurut saya masih terlalu dini untuk menyimpulkan DKI sudah sampai puncak mengingat cakupan testing dan tracing saat ini jauh lebih menantang sulitnya dari gelombang Delta,” kata Dicky kepada Media Indonesia, Senin (14/2).

Kesulitan dalam mendeteksi ini, sambungnya, karena mayoritas masyarakat yang terpapar itu tidak bergejala. Selain itu, tren kasus di kelompok berisiko cenderung masih ada potensi untuk meningkat.

Adapun terkait angka kematian sebagai indikator telat (lagging indicator) disebutnya akan timbul terlambat. Kemudian, cenderung baru mulai terlihat di empat pekan pascakasus pertama terdeteksi. “Dan ini (angka kematian) bisa bertahan 2 atau 3 pekan pasca puncak terlewati."

Oleh karena itu, ia meminta Pemprov DKI Jakarta untuk tetap menerapkan PPKM level 3. Hal ini sangat penting dilakukan sebagai payung penguatan respon 3T, 5M, dan vaksinasi.

“Juga agar semua pihak waspada. Selain itu, potensi periode puncak yang dapat membebani faskes belum bisa kita abaikan,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia mencatat jumlah kasus aktif di Jakarta per Minggu (13/2) turun sejumlah 4.921 kasus sehingga jumlah kasus aktif kini sebanyak 73.502 (orang yang masih dirawat/isolasi).

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mencatat telah dilakukan tes PCR sebanyak 77.427 spesimen. Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 57.063 orang dites PCR per 13 Februari untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 10.172 positif dan 46.891 negatif.

Untuk positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 22,4%, sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 11,8%. WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5%. (J-2)

BERITA TERKAIT