19 January 2022, 23:11 WIB

Anies Berbagi Kiat Pengelolaan Air di Jakarta dalam Konferensi Internasional UNESCO 


Mediaindonesia.com | Megapolitan

BADAN Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, dan Budaya (UNESCO) menyelenggarakan konferensi internasional tentang air, metropolitan, dan perubahan global (Second International Conference on Water, Megacities and Global Change secara hibrida pada 12-14 Januari 2022. Para pemimpin kota-kota besar di dunia menyampaikan praktik baik seputar pengelolaan air, kota besar, dan perubahan global; tak terkecuali DKI Jakarta.  

Konferensi itu dilaksanakan sebagai ajang bertemu dan diskusi para ahli air dunia dengan para pengambil kebijakan di kota-kota besar (megacities). Hadir dalam pertemuan ini, yakni Gubernur DKI Jakarta beserta pemerintahan kota lainnya di dunia seperti Bogota, Istanbul, Lahore, Lima, Los Angeles, Moscow, Mumbai, New York, Paris, Rio de Janeiro dan Niteroi, Sao Paulo, serta Tehran. 

“Megacities, kota yang menampung lebih dari 10 juta penduduk, menghadapi tantangan maha besar dalam penyediaan layanan air bagi penduduknya dengan tetap melestarikan lingkungan,” kata Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Ismunandar dalam keterangannya. 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyampaikan praktik baik yang dilakukan Pemerintah Kota Jakarta dalam menangani air pada saat penghujan dan menampungnya sehingga menjadi cadangan pada musim kering. 

Sebagaimana diketahui, efek perubahan iklim semakin besar seiring munculnya tantangan global seperti kenaikan permukaan laut, peningkatan suhu hingga urbanisasi yang menjadi tantangan bagi kota-kota besar di dunia.  

Anies pada kesempatan itu juga menampilkan hasil-hasil riset yang dilakukan sejumlah ilmuwan Indonesia dari berbagai universitas. Banyak ilmuwan mengingatkan kita tentang peningkatan temperatur udara 1,5 derajat. 

“Saya mengajak kota-kota besar (megacities) di dunia untuk mengimplementasikan apa yang telah disepakati di COP26 Glasgow hingga ke tingkat pemerintah daerah/lokal. Karena dari sana kita belajar bahwa kebijakan pengelolaan air memang sangat dibutuhkan,” ujar Anies yang juga berharap konferensi itu dapat menjadi sarana untuk menterjemahkan langkah konkret dalam pengelolaan air di kota besar.   

Perubahan iklim adalah sesuatu yang ada di hadapan kita. Dampaknya mempengaruhi kota-kota besar termasuk kita di Jakarta sebagai kota megadelta. Dari segi habitat, terdapat 12 juta orang yang ada di Jakarta dan 30 juta orang lainnya berada di kota-kota penyangga sekitarnya. 

“Posisi Jakarta dalam mitigasi perubahan iklim dan upaya adaptasi menjadi sangat krusial. Hal ini mendesak kita semua untuk mencari strategi dalam mengelola integrasi yang berkelanjutan terkait kaum urban ini,” kata Anies yang hadir secara virtual. 

Baca juga : Serikat Pekerja Bongkar Muat Minta Kenaikan Upah di Atas UMP DKI 

Menurut Anies, setidaknya ada tiga tantangan yang berhubungan dengan pengelolaan air yang tercermin berdasarkan pengalaman yang berlangsung di Jakarta. Bahkan, pengelolaan air ini menjadi isu yang harus dihadapi bersamaan dengan perubahan iklim. Pertama, saat kita bicara tentang isu air di perkotaan maka jika debit air terlalu sedikit akan menjadi isu, dan jika debit air terlalu banyak juga akan menjadi isu.  

Di satu sisi, kata dia, Jakarta harus menjadi daerah yang menyokong kebutuhan air bagi penduduk di area tersebut. Di lain sisi, tantangan yang dihadapi Jakarta adalah adalah banjir, kenaikan permukaan laut, dan penurunan permukaan tanah. 

“Untuk itu, Jakarta harus melakukan serangkaian upaya dalam hal perubahan iklim hingga tahun 2030,” tegasnya.   

Kedua, data administrasi penduduk yang hampir menyentuh batas maksimalnya. Menurut Anies, harus ada pemerintahan bertingkat pada megakota yang mengintergrasikan data tentang lahan yang digunakan, pembangunannya, dan pengelolaan airnya. 

“Jakarta berinisiatif untuk bekerja sama dengan kota-kota penyangga sekitar dalam rencana bersama terkait pengelolaan air, penyediaan air bersih, konservasi air, hingga aspek finansial,” sebutnya.  

Ketiga, paradigma pengelolaan yang berkelanjutan belum menjadi kebiasaan rutin masyarakat. Paradigma ini adalah bagaimana menjaga agar keberadaan air dapat mencukupi segala macam kondisi dan kebutuhan masyarakat di kota. Contohnya, kita menampung air hujan sebagai cadangan air di saat musim kemarau tiba. 

“Kami mempertimbangkan bahwa curah hujan bukan hanya sebagai ancaman bagi kota, melainkan ini adalah bagian dari cara baru mengamankan suplai air yang kita bisa ambil,” tuturnya.   

Kerangka pemikiran global yang diusung UNESCO perlu dipertimbangkan mengani tujuan dari sebuah kota. Pola pikir ini sangat baik untuk digunakan sebagai acuan dalam mengambil langkah terutama bagi pemerintah daerah. 

“Apapun yang telah kita lakukan dan capai, harus menjadi penghubung bagi lahirnya solusi terkait pengelolaan air sebagai kebutuhan dasar manusia yang harus didistribusikan dengan adil dengan cara yang berkelanjutan dan akses yang merata bagi seluruh generasi,” pungkas Anies.  (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT