24 November 2021, 22:10 WIB

Kiat Kinclong Ala Orang Kantoran SCBD, Tampilan Glowing, Karier Moncer


Dero Iqbal Mahendra | Megapolitan

Makna dari ungkapan Don’t judge a book from it’s cover tidak selamanya  benar di dunia kerja. Sebab dalam dunia kerja, untuk bisa dianggap profesional,  seseorang membutuhkan kesempatan dan peluang untuk dapat menunjukkan kapasitas serta kemampuannya. Salah satu cara untuk memperbesar kesempatan itu adalah dengan menerapkan professional grooming. Kiat ini kini relevan dengan topik tentang tampilan orang-orang kantoran di kawasan SCBD yang belakangan ini heboh di Twitter.

Contoh paling mudah dapat kita lihat dari karakter Andrea dalam film The Devil Wears Prada. Meskipun memiliki kapasitas dan kemampuan, namun gadis yang bekerja di majalah fesyen itu kerap dipandang sebelah mata oleh bos dan lingkungan kerjanya karena tak peduli dengan penampilannya di tempat kerja. Meski film tersebut berdasarkan kisah fiksi, namun di kehidupan nyata, urusan penampilan tak bisa diabaikan.

Co-founder Publicio PR Aurellio Kaunang membenarkan bahwa dalam dunia kerja, terutama yang melibatkan banyak relasi,  professional grooming sangat penting. Sebagai salah satu kunci sukses para profesional dalam membangun karier, professional grooming merupakan satu kesatuan utuh dari beberapa lapis aspek yang perlu diperhatikan  agar seseorang dapat menampilkan nilai serta  profesionalitasnya di dunia kerja. "Salah satu bagian terpenting dari professional grooming adalah personal grooming, yang bahasa mudahnya adalah bagaimana Anda dapat merawat dan menjaga tampilan diri setiap hari," kata Aurellio.

Sayangnya, di Indonesia personal grooming masih sedikit diabaikan karena dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya gagah-gagahan atau cantik-cantikan semata. Padahal, personal grooming  sejatinya lebih dari sekadar menampilkan keindahan tubuh atau kecantikan dan ketampanan semata. Melainkan bagaimana dapat berpenampilan secara pantas, layaknya seorang profesional.

Aurellio mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa hanya mengandalkan penampilan semata tanpa memperbaiki kapasitas berpikir dan kemampuan profesionalitasnya. Kedua hal tersebut harus ada dan saling melengkapi satu sama lain. Dengan kata lain professional grooming bukan soal penampilan semata, namun juga menyangkut attitude (sikap), kemampuan komunikasi, hingga kapasitas berpikir seseorang.

“Saat kita bekerja di sebuah perusahaan, secara otomatis value corporate yang ada melekat pada diri kita dan harus kita bawa. Value tersebut juga harus tercermin dari seluruh karyawannya, bahwa ini adalah sebuah perusahaan besar dan sebuah perusahaan bonafid,” ungkap Aurellio.

Terkait penampilan fisik, personal grooming juga bukan semata rajin menggunakan skin care atau make-up. Anda juga harus pandai menjaga bentuk tubuh, memelihara kesehatan dengan berolahraga agar selalu tampil segar, sehingga dapat menampilkan diri secara profesional dalam berbagai suasana, baik profesional maupun personal.

Personal grooming maupun Professional grooming itu sangat membantu dalam aktivitas profesional. Belum lagi secara psikologis manusia selalu judgemental, yang mana kesan pertama menjadi sesuatu yang sangat penting dalam relasi bisnis. Kesan pertama kita tidak hadir dari isi otak, tetapi dari keseluruhan tampilan, sikap, serta pembawaan diri kita yang akan menarik perhatian orang lain kepada kita,” tutur Aurellio.

Setelah berhasil mendapatkan kesan pertama yang positif,  untuk dapat memaksimalkan kesempatan yang ada, semua ditentukan oleh sikap, pembawaan, kemampuan komunikasi dan kapasitas berpikir Anda. Aurellio menegaskan penerapan profesional grooming akan membuka lebih banyak kesempatan menunjukkan kemampuan Anda saat bertemu dengan orang lain. Terutama dalam kegiatan khusus seperti gala dinner, karena orang akan menyambut hangat dan ingin mingle lebih banyak dengan Anda.

Kenali Diri Sendiri

Salah satu kunci sukses dari personal grooming menurut Aurellio adalah mengenal diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, Anda dapat mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk merawat tubuh dan perawatan seperti apa yang cocok.

Bila tubuh mudah mengeluarkan aroma tidak sedap misalnya, Anda tentu wajib menggunakan deodoran. Bila tidak cukup, cologne atau parfum dengan aroma segar namun tidak menyengat dapat menjadi pilihan. Bila kulit Anda putih pastikan agar putihnya terlihat  cerah dan tidak pucat. Begitu pun bila kulit Anda agak gelap, pastikan warna yang ditampilkan cerah.

“Kebersihan diri menjadi hal yang utama dengan mandi secara rutin dengan sabun dan shampo serta memastikan aroma nafas yang segar. Perlu juga diperhatikan akan bulu di area wajah, baik itu di hidung mau pun kumis atau janggut yang harus rapih dan bersih. Setelah itu perhatikan cara berpakaian anda agar sesaui dengan image profesional yang ingin anda tampilkan,” ungkap Aurellio.

Lebih lanjut ia menekankan bahwa merawat diri bagi kaum pria tidak akan mengebiri maskulinitas mereka. Sebab perawatan diri justru menunjukkan mereka sebagai individu yang maskulin seperti yang ditampilkan oleh artis Amerika George Clooney.

Salah satu yang umumnya dikhawatirkan orang untuk melakukan personal grooming secara total adalah rasa takut akan biaya yang besar yang harus dikeluarkan untuk memoles diri mereka. Namun menurut Aurellio,  dalam hal personal grooming, budget tidak menjadi persoalan. Sebab,  personal grooming pada dasarnya tidak melakukan perawatan secara berlebihan.

“Ketika kita sudah menjadikan dan tahu bagaimana menyiasati tubuh kita, ada banyak produk yang tersedia di pasaran dengan harga yang ramah di kantong. Jadi bukan masalah branded atau tidak di sini, tetapi paham atau tidaknya kita terhadap badan kita, harus berpakaian seperti apa, dan cocok atau tidaknya dalam padu-padannya. Itu semua membutuhkan pemahaman akan diri sendiri yang utuh. Bila sudah tampil percaya diri, barang biasa pun akan seolah terlihat mewah,” terang Aurellio.

Aurellio menilai di masa pandemi seperti sekarang ini ketika hampir semua kegiatan dilakukan di rumah, termasuk bekerja alias Work from Home (WFH), bukan berarti professional grooming  tidak lagi dibutuhkan. Mereka yang sudah memiliki kesadaran bahwa perawatan diri menjadi bagian dari keseharian tentu  akan tetap melakukan perawatan diri,  baik dalam situasi WFH maupun  tidak.

Tahap Selanjutnya, Perhatikan Tata Cara Komunikasi

Setelah Anda mampu mempresentasikan diri dengan baik, langkah berikutnya adalah asah kemampuan komunikasi dan pembawan yang baik. Bagaimana kita mengenal lawan bicara dan membawa diri dalam komunikasi menjadi kunci dalam memaksimalkan kesan pertama dari personal grooming anda.

Aurellio yang pernah bekerja sebagai Public Relation rumah mode Louis Vuitton ini mengingatkan dalam berkomunikasi orang akan menilai kita. "Jangan sampai justru memberikan kesan tidak profesional, nyablak, urakan atau terlalu banyak bercanda hingga hiperbolis. Hal-hal itu akan membuat orang malas berbicara dengan kita dan menghindari berkomunikasi," katanya.

Salah satu kunci dalam berkomunikasi, menurut Aurellio, adalah kemampuan menyesuaikan gaya komunikasi dengan level lawan bicara. Misalnya dengan level yang lebih tinggi, kita harus tahu cara memilih kata dan intonasi saat berbicara. Dengan pembawaan yang profesional, atasan akan memperoleh kesan bahwa kita bisa diandalkan.

Begitu pun saat berbicara dengan rekan sejawat atau yang selevel dengan kita. Gaya berkomunikasi yang kita tunjukkan jangan terkesan mengancam atau arogan, namun tetap dapat membangun persaingan yang sehat. Untuk level di bawah kita,  gaya bahasa bisa lebih kasual, tidak berjarak, dan bersikap ramah sehingga mereka mendapatkan kesan kita pemimpin yang baik dan bisa dapat dijadikan acuan.

Kemampuan menyesuaikan diri dengan level lawan bicara menjadi salah satu keharusan dalam hubungan profesional. Cara berkomunikasi ini menjadi acuan, baik dalam komunikasi internal maupun eksternal, bahkan saat berhadapan dengan klien. Namun bukan berarti menyesuaikan komunikasi dengan setiap segmen membuat kita kehilangan karakter. Sebaliknya, karakter kita akan tercermin dari gaya kita berkomunikasi. (*/X-6)

BERITA TERKAIT