01 November 2021, 12:30 WIB

DPRD DKI Pertimbangkan Dorong Rombak Direksi Trans-Jakarta Akibat Rangkaian Kecelakaan


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

KETUA Komisi B DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz mempertimbangkan mendorong adanya perombakan direksi PT Trans-Jakarta sebagai buntut kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus Trans-Jakarta di Cawang, 25 Oktober lalu.

Menurut dia, sudah ada saran dari beberapa pihak untuk merombak direksi Trans-Jakarta guna perbaikan kinerja BUMD transportasi itu.  Terlebih, setelah adanya kecelakaan di Cawang yang menewaskan dua orang serta melukai puluhan penumpang, terdapat sederet kecelakaan lainnya yang melibatkan armada.

"Kami pikir itu kan bagian dari proses. Seandainya kalau dilihat orang itu tidak kompeten ya saya pikir memang harus di-rolling, karena memang bisa menangani hal hal yang seperti ini," kata Abdul Aziz saat dihubungi, Senin (1/11).

Baca juga: Sertifikat Vaksin Covid Wajib Ditunjukkan Penumpang KRL Jabodetabek

Ia mengatakan, pihaknya menyayangkan terjadi sederet kecelakaan pada armada Trans-Jakarta beberapa hari terakhir. Ia pun meminta ada perubahan besar, khususnya terkait pengecekan kesehatan para pramudi.

"Kemarin, rekomendasi kami, kami sempat tanya walapun belum final. Hasil investigasi ada kemungkinan besar terjadi karena human error, jadi kami mengkhususkan dari sisi pengemudi. Jadi pengemudi sebelum melakukan operasional harus ada pemeriksaan kesehatan dari dokter, bukan hanya surat pernyataan. Selama ini hanya memberikan surat pernyataan bahwa saya sehat begitu, kita minta ada dokter setiap depo untuk memeriksa bukan hanya kesehatannya tapi juga kebugarannya," jelasnya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu juga mengimbau agar PT Trans-Jakarta bisa lebih optimal dalam mengawasi sopir seperti membuka kanal pengaduan dari penumpang serta menindaklanjutinya dengan maksimal.

"Kedua, kami minta di setiap bus ada stiker pengaduan. Jadi kalau ada sopir ugal-ugalan, penumpang bisa langsung mengadukan, diberikan peringatan. Ini fungsi kontrolnya jadi langsung pada saat itu bisa langsung diingatkan. Dua rekomendasi itu kami berikan untuk mencegah kejadian tidak berulang," tukasnya.

Sebelumnya, terjadi kecelakaan pada 25 Oktober lalu saat bus Trans-Jakarta menabrak dari belakang bus Trans-Jakarta lainnya yang tengah berhenti menurunkan penumpang di Halte Cawang Ciliwung.

Kemudian, di hari berikutnya, bus Trans-Jakarta kembali terlibat kecelakaan tunggal yakni menabrak separator di Pondok Indah. (OL-1)

BERITA TERKAIT