24 August 2021, 12:01 WIB

Jakarta Masuk 50 Besar Kota Teraman Di Dunia


Putri Anisa Yuliani |

BERDASARKAN studi dari The Economist Intelligence tahun ini, Jakarta berhasil masuk ke 50 besar indeks kota teraman di dunia atau Safe Cities Index (SCI) dari total 60 negara yang disurvei.

Jakarta berhasil menduduki peringkat ke-46 secara keseluruhan. Sementara itu, lima besar negara teraman di dunia dari skor keseluruhan adalah Copenhagen (Denmark), Toronto (Kanada), Singapura (Singapura), Sydney (Australia), dan Tokyo (Jepang). Singapura adalah satu-satunya perwakilan Asia Tenggara di 30 besar.

Peringkat Bangkok (Thailand) dan Ho Chi Minh (Vietnam) sedikit lebih baik dari Jakarta yakni berada di peringkat 43 dan 45. Lalu ada Manila (Filipina) di peringkat ke-51 dan Yangoon (Myanmar) di peringkat terakhir 60.

Terdapat lima indikator besar yang menjadi topik penilaian.

Pertama, keamanan digital yang mana pada indikator ini, Jakarta menduduki peringkat 58. Kedua, untuk keamanan kesehatan, Jakarta berada di peringkat 46.

Untuk indikator kesehatan ini, The Economist Intelligence juga melihat bagaimana pemerintah beraksi atas adanya pandemi dan bagaimana sudut pandang warga di kota tersebut terhadap wabah covid-19.

Beberapa negara seperti Thailand, Jepang, dan India disebut sebagai negara yang beraksi cepat dalam menangani pandemi.

Ketiga, untuk indikator keamanan infrastruktur, Jakarta berada di peringkat 40. Keempat, keamanan individual, Jakarta berada di peringkat 52.

Berbeda dengan peringkat keseluruhan, Singapura yang berada di peringkat kedua secara keseluruhan justru berada di peringkat 13. Begitu juga Toronto yang ada di peringkat kedua secara keseluruhan justru berada di peringkat 8.

The Economist menyebutkan bahwa pada level urban, keamanan individual berkaitan dengan level pendapatan. Namun demikian, tetap tidak dapat dipastikan bahwa kota yang miskin belum tentu aman.

Kelima, keamanan lingkungan. Di indikator inilah Jakarta meraih peringkat tertinggi yakni 30. Jakarta berada di atas Madrid (Spanyol), Seoul (Korea Selatan, Singapura, Paris (Prancis), hingga Brussel (Belgia). Sementara itu, kota-kota di Asia Tenggara lainnya seperti Bangkok, Ho Chi Minh, Manila, dan Yangoon harus puas di peringkat 50 besar.

Namun, Jakarta masih kalah dengan Kuala Lumpur (Malaysia) yang berada di peringkat 10. Dalam setiap pilar, level pembangunan ekonomi berkorelasi erat dengan skor keamanan lingkungan.

Ada perbedaan penting yang menunjukkan bahwa kota dengan pendapatan per kapita menengah memiliki kebijakan lebih baik daripada yang lain di indikator ini. Ada tiga kota yang secara khusus melakukannya yakni Bogota (Kolombia), Rio de Janeiro (Brazil), dan Kuala Lumpur.

Beijing yang menjadi kota dengan pendapatan per kapita menengah tertinggi berada di peringkat 19. The Economist mengatakan, agenda resiliansi lingkungan lebih menjanjikan di belahan bumi selatan dibandingkan di belahan bumi utara (Eropa).

Namun demikian, tidak selalu kota dengan pendapatan per kapita yang tinggi memiliki kebijakan lingkungan yang baik. Hal ini disebabkan oleh sumber ekonomi kota itu sendiri. Seperti Abu Dhabi (UEA) yang justru berada di peringkat 51 dan Riyadh (Arab Saudi) di peringkat 52. Mereka memiliki kesamaan yakni sumber kekayaan berasal dari bahan bakar fosil.

Untuk itu, dalam indikator lingkungan ini, pendapatan per kapita tidak terlalu berkorelasi erat dengan kebijakan lingkungan. (OL-13)

Baca Juga: DPRD Minta BUMD DKI Berinovasi untuk Dongkrak Keuntungan

 

BERITA TERKAIT