20 August 2021, 17:41 WIB

Kawal Perairan Indonesia untuk Cegah Penyelundupan Narkoba


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Megapolitan

PENYELUNDUPAN narkoba semakin marak dalam beberapa hari terakhir. Teranyar, Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 324,3 kg sabu yang dilakukan jaringan Thailand dan Aceh.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS), I Nyoman Adi Peri, menyebut adanya lingkaran setan jadi penyebab masalah narkoba di Indonesia tak kunjung usai.

Baca juga: Polrestabes Palembang Sita Puluhan Benih Lobster Bernilai Miliaran Rupiah

"Iya, masalahnya ini kan lingkaran setan. Lingkaran setan itu, pertama, adalah disparitas harga, antara sumber produsen dengan daerah tujuan untuk penyebaran narkoba," ungkap Nyoman kepada Media Indonesia, Jumat (20/8).

Hal itulah yang membuat Indonesia menjadi favorit jaringan internasional menyebarkan barang haram tersebut. "Kita tahu sendiri, kurang lebih di Malaysia atau Singapura pasaran jenis sabu 1 kg Rp300 juta," terangnya.

Maka, lanjut Nyoman, ia mengimbau agar seluruh stake holder yang bertugas mengawal peredaran narkoba dari perbatasan laut Indonesia untuk bekerjasama.

"Artinya di perairan laut,  ada 6.000 kapal melewati laut Indonesia. Apakah pemantauan kapal-kapal itu oleh Bakamla, Bea Cukai, BNN, Bareskrim mempunyai alat terintegrasi atau tidak?," ungkapnya.

"Yang kedua, disparitas harga terlalu mencolok dengan harga narkoba di Malaysia dan negara sekitar. Indonesia ini mahal sehingga cenderung permintaan banyak, otomatis penawaran banyak," tambahnya.

Intinya, instansi-instansi yang bertugas menjaga laut Indonesia dari penyelundupan narkoba sudah seharusnya memiliki alat integrasi yang bisa diakses masing-masing.

"Apalagi, garis pantai kita terpanjang kedua di dunia. Kalau gak dilakukan kontrol teknologi, keluar masuknya kapal, pasti jaringan internasional bisa mudah masuk ke Indonesia."

Belum lagi, kata Nyoman, sistem hukum di Indonesia memungkinkan untuk oknum lebih mudah diajak kompromi. "Ya, mungkin ada oknum di darat maupun di laut yang mungkin bermain sehingga jaringan internasional itu sudah memahami kondisi di Indonesia," pungkasnya. (J-2)

BERITA TERKAIT