11 July 2021, 17:55 WIB

Ada PPKM Darurat, BOR ICU Covid-19 di Jakarta Malah Naik


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

Pemprov DKI Jakarta telah mengikuti kebijakan pemerintah pusat dengan menerapkan PPKM darurat untuk menahan laju penyebaran covid-19 di Ibu Kota. PPKM darurat resmi dijalankan pada 3 Juli hingga 20 Juli mendatang. Namun, setelah sepekan lebih pelaksanaannya, justru keterisian tempat atau bed occupancy rate (BOR) tidur ICU covid-19 di Jakarta naik menjadi 95%.

Sementara itu, keterisian tempat tidur isolasi naik menjadi 92%. Pada pekan sebelum dilaksanakan PPKM darurat, keterisian tempat tidur isolasi berada di angka 91%. Sementara untuk keterisian tempat tidur ICU 94%. Tingkat kesembuhan pasien covid-19 di Jakarta juga menurun dari sebelumnya selalu di atas 90% menjadi 86%. Namun, sisi positifnya, angka kematian di Jakarta menurun menjadi 1,4%.

Baca juga: Polres Jakpus Bekuk Lima Pemasok Sabu untuk Artis dan Kalangan Jetset

"Ini angkanya sudah luar biasa, sudah mencapai 95% ruang ICU, tempat tidur sudah 92%," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Jakarta, Minggu (11/7).

Pria yang akrab disapa Ariza itu mengatakan, pihaknya pun meminta agar masyarakat meningkatkan disiplin protokol kesehatan. Pelaksanaan PPKM Darurat yang ditetapkan pemerintah dan membuat aktivitas masyarakat sangat minim menandakan kondisi yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.

"Harap seluruh warga Jakarta patuh, taat, jangan main main, jangan abai, jangan anggap enteng. Kita semua sedang berperang. Pilihannya tinggal dua, hidup atau mati. Jadi pakai masker harga mati, tidak pakai masker bisa mati. Jangan dianggap enteng, sekarang yang kena covid-19 bukan lagi teman jauh, tapi sahabat Kita, yang kena. Bahkan ada yang meninggal," ungkapnya.

Ia pun menegaskan, meskipun angka vaksinasi covid-19 sudah tinggi di Jakarta, saat ini 'herd immunity' masih belum tercapai. Hingga saat itu, masyarakat masih harus menegakkan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan ditambah prokes lain yakni mengurangi mobilitas serta menghindari kerumunan.

"Betapapun bagusnya disiapkan fasilitas oleh pemerintah termasuk nakes, obat-obatan, vitamin atau apapun itu sekali lagi tidak artinya, kalau masyarakat tidak disiplin," imbuhnya. (H-3)

BERITA TERKAIT