09 June 2021, 10:46 WIB

Prokes di Pasar Bendungan Hilir Mengendur


Rahmatul Fajri | Megapolitan

PASAR Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Rabu (9/6) pagi, tampak ramai. Pasar yang berada di sudut barisan gedung pencakar langit di Jakarta Pusat itu dipenuhi puluhan warga yang berbelanja kebutuhan dapur seperti beras, telur, daging, dan sayur mayur.

Namun, di balik keramaian pada pagi itu, tidak tampak penerapan protokol kesehatan. Dari pantauan Media Indonesia, tampak sejumlah pedagang dan warga yang berinteraksi tanpa memakai masker.

Selain itu, tak tampak petugas keamanan dari Polri, TNI, dan Satpol PP yang biasanya melakukan razia masker di ibu kota.

Salah satu warga, Helmy, 45, mengaku cukup khawatir melihat sejumlah orang yang masih abai terhadap protokol kesehatan. Helmy yang dua hingga tiga kali sepekan berbelanja kebutuhan dapur di Pasar Bendungan Hilir itu mengatakan seharusnya masyarakat tidak menganggap remeh covid-19 yang saat ini masih menjadi momok bagi kesehatan.

"Harusnya lebih sadar, ya. Mungkin karena tidak ada yang ngawasin. Orang kita kan memang patuh kalau ada petugas," kata Helmy sambil merapikan maskernya.

Warga lainnya, Susi, 35, juga mengaku khawatir. Ia mengaku hanya mengantisipasi penularan covid-19 dengan melakukan bersih-bersih sepulangnya dari pasar.

"Di rumah langsung ganti baju, cuci belanjaan juga. Semoga aman-aman saja, lah," ungkapnya.

Baca juga: Wapres Imbau Perketat Prokes, Covid-19 Mulai Naik Lagi

Seperti diketahui, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus terkonfirmasi covid-19 paling banyak di kawasan Asia Tenggara, yaitu 1.869.325 dan berada di urutan ke-18 dunia. Sementara itu, ada penambahan 6.294 kasus pada Selasa (9/6), sehingga saat ini ada 99.663 kasus aktif.

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) RSUP Persahabatan Erlina Burhan mengatakan penyebab utama bertambahnya angka covid-19 ialah penerapan protokol kesehatan (prokes) yang mengendur.

“Yang mengakibatkan terjadinya klaster-klaster baru,” kata Erlina, beberapa waktu lalu.

Erlina menyebut tracing dan testing juga kurang optimal saat libur Idulfitri 1442 Hijriah. Sehingga, butuh antisipasi dan penanganan serius dari pemerintah daerah (pemda).

Menurut Erlina, pemda berperan penting dalam upaya tracing, testing, dan treatment (3T). Apalagi, pemda memiliki satuan dinas kesehatan (dinkes) yang bisa dimanfaatkan.

Erlina mengimbau masyarakat tak bereuforia karena ada vaksin covid-19. Vaksin tidak menjamin 100% tubuh kebal dari virus berbahaya itu.

“Harus tetap menjaga protokol kesehatan,” tegas dia.(OL-5)

BERITA TERKAIT