07 December 2020, 13:31 WIB

Komunitas Single Parent Hadapi Pandemi


Dede Susianti |

SAPU lidi jika disatukan dan diikat bisa menjadi kuat, bisa menyapu dengan baik. Dan bagaikan sapu lidi, jika kita bersama akan menciptakan sesuatu keindahan, kenyamanan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kekuatan sapu lidi yang disatukan itu menggambarkan keberadaan Sehati di masa-masa sulit ini, masa pandemi covid-19. Itulah prinsip kerja sama yang digaungkan oleh komunitas Sehati yang berangotakan perempuan-perempuan tangguh di Kota Bogor, yang bergerak gesit memberikan sokongan, baik materi maupun non materi, bagi orang-orang tak mampu yang terdampak covid-19

Para perempuan tangguh ini rata-rata berusia di atas 50 tahun. Mereka adalah orangtua tunggal yang sehari-harinya menghidupi keluarganya. Namun 15 perempuan di komunitas Sehati ini masih meluangkan waktu untuk membantu orang tidak mampu yang terdampak pandemi covid-19.

Komunitas ini terlahir di masa pandemi tepatnya Juni lalu. Citra Hasandin, 54 adalah penggerak komunitas Sehati. Ia juga mendirikan komunitas Cahaya Hati. Ibu tiga anak ini sudah menjadi orangtua tunggal sejak delapan tahun lalu setelah suaminya meninggal. Pensiunan perusahaan BUMN ini memang sudah berkiprah di kegiatan sosial sejak 20 tahun lalu. Citra mengungkapkan terbentuknya Sehati berawal  dari obrolan sejumlah ibu yang masih di lingkungan tetangga memalui obrolan whatsapp grup dan terbentuk komunitas Sehati pada Desember 2019.

“Jadi saya dengan ibu-ibu kumpul. Saya banyak kegiatan, banyak ide. Bikin grup dong, kita yang single- single parent. Cuma saya bilang gini, ibu -ibu kalau cuma bikin grup wa mah, gampang. Kita enggak ngerumpi, kita enggak ngomongin politik, tapi kita di sini ngapain-lah yang bermanfaat," tuturnya, Senin (7/12).

Setelah sebulan, dua bulan, lanjutnya, muncullah ide kegiatan donasi beras. Tepatnya di bulan Maret. Saat itu, warga di sana mengumpulkan beras, dan dapatlah 3 ton beras yang kemudian dibagi menjadi 600 kantong. Oleh Citra (Cahaya Hati) disalurkan ke warga di Kelurahan Menteng.

"Saya sih sudah niat, donasi beres (Cahaya Hati) ini, saya mau lanjutin. Sekarang pandemi masih nih. Saya lanjutin, saya alihkan ke Sehati. Dan ibu-ibu di grup setuju. Kita mulai dari bulan Juni. Sebulan sekali di minggu keempat," kata Citra berkisah. 

Di awal-awal, fokus Sehati memang di Kelurahan Menteng terlebih dahulu. Dengan alasan ingin menyentuh saudara terdekat, yang ada di depan mata. 

"Jadi, pertama seputar RW-RW di sini. Masyarakat yang kurang mampu, kami bantu beras. Terus muter. Kita sudah banyak RW. Kita setiap bulannya beberapa RW, anak yatim kita suaikan,"ungkapnya.

Pihaknya juga sengaja fokus pada pemberian beras. Karena di kondisi pandemi, itu kebutuhan paling pokok. Karena banyak orang-orang yang terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) dan kehilangan daya juang, yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau kita kasih uang, uang gak kelihatan. Saya pengalaman, dulu anak asuh. Nih kasih uang bayaran untuk setahun. Pas kita cek, cuma dibayar enam bulan. Jadi sejak saat itu saya tidak mau,"katanya.

Citra juga menuturkan, sekarang ini di setiap daerah ada juga kegiatan bagi-bagi sayuran. Sayuran itu digantung- gantung, dimana nanti warga kurang mampu tinggal mengambilnya.

"Saya sudah datangi RW-RW mana yang ada kegiatan itu. Kami melengkapi. Mereka dapat sayur dan dapat beras dari kita."                   

Dia memastikan bahwa beras yang dibagikannya adalah beras dengan kualitas sangat baik. Citra menyebutnya kualitas super. Asal berasnya, ada dari anggota yang masing-masing 10 kilo gram. Itu bentuk urunan rutin per bulan. Kemudian ada juga donasi dari berbagai sumber.

"Donasi itu, saya sendiri banyak teman komunitas, teman saya dulu di Pertamina. Saya memang aktif. Saya cuma bisa ngasih beras sekantong, dua kantong. Itu suport saya. Saya ajak saudara-saudara saya untuk bangkit bersama," ungkapnya.

Kampanye protokol kesehatan

Tak terasa, sejak digagas hingga November ini, kegiatan itu sudah berjalan 6 bulan. Sudah puluhan RW, ratusan KK(kepala keluarga), bahkan ribuan orang disentuh mereka. Karena untuk satu RW saja, mereka menyiapkan 70 paket beras atau 70 KK.

Saat pelaksanaan pemberian paket sembako kepada warga dIlakukan dengaan sangat hati-hati dan memperhatikan protokol kesehatan. Sehati menyadari betul siapa mereka dan kondisi. Mengingat semua anggotanya sudah berumur, yang turun ke lapangan hanya dua orang yajni hanya Citra dan sang bendahara yang memang usianya 50-an dan masih memungkinkan.

baca juga: Pemkot Depok Optimistis Target PAD Tercapai

Keduanya hanya melibatkan putra dan putrinya untuk membantu. Kampanye taat protokol kesehatan covid-19 benar-benar mereka lakukan.

"Yang turun, keluar rumah haanya saya dan bendahara karena yang lain rentan. Takut karena lansia. Jadi saaya ajak anak saya untuk membantu saat pemberian. Saya berharap suapaya nanti bisa ikuti kita, melanjutkan apa yang sudah kita rintis. Yang namanya peduli sesama, ada rejeki ya kita harus," tutur Citra.

Anak lelaki dan anak perempuan Citra memang begitu menyokong apa yang dilakukan ibunya. Itu terlihat ketika Citra dan dua orang aanggota sehati penyerahan bantuan di RW 14 dan RW 7, Gang Muha, Jalan Merdeka, beberapa waktu lalu. Mereka begitu bersemangat. Bahkan mereka juga dilibatkan dalam pendataan. Karena setiap paket yang diberikan pada warga by data atau berdasarkaan data.

“Kita ingin tepat sasaran. Mereka yang menerima memang orang-orang yang membutuhkan. Sebelumnya dilakukan survey terlebih dahulu. Alhamdulillah berjalan lancar. Selain tepat sasaran kita tidak ingin menimbulkan kerumunan. Jadi dipanggil satu-satu sesuai kupon. Kita itu berbagi tidak harus kaya. Siapapun itu. Kita gak harus nunggu kaya. Ada yang mampu, tapi hatinya. Kalau hati gak tergerak susah. Segala sesuatu yang kita berikan berkahnya kembali ke kita," tutupnya.

Apa yang dilakukan sehati, searah dengan apa yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor. Untuk menghadapi pandemi covid-19 ini memang dibutuhkan kerja sama semua pihak.

Wali Kota Bogor Bima Arya dalam berbagai kesempatan selalu menyerukan bahwa menghadapi covid-19 adalah perang bersama. Pihaknya pun sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk membangkitkan gairah masyarakat dari keterpurukan akibat pandemi. Upaya pemulihan ekonomi dengan berbagai pemberian stimulan terus digulirkan. Pada saat menyampaikan pendapat dan memberikan penjelasan empat rancangan peraturan daerah (raperda), di rapat paripurna, di Gedung DPRD Kota Bogor, Senin (9/11) lalu, Bima mengatakan APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah ) Kota Bogor, tahun 2021, tanggap dan adaptif terhadap penanganan covid-19.

Bima menyebut, estimasi pendapatan yang adaptif sebesar Rp2,2 triliun. Dengan rincian, estimasi PAD (pendapatan asli daerah) sebesar Rp936 miliar dan estimasi pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi sebesar Rp1,2 triliun. Hal itu sesuai dengan perkiraan bahwa tahun 2021, kondisi perekonomian masih terdampak covid-19.

Sedangkan untuk belanja, Bima menyampaikan estimasi belanja tanggap covid-19, sebesar Rp2,4 triliun. Belanja tersebut fokus kepada 5 program prioritas sebagai stimulan untuk bangkit dari pandemi covid-19. Termasuk kegiatan pencegahan dan penanganan covid-19. Untuk program penguatan kesehatan sebesar Rp 18,4 miliar, fokus pada penguatan lenyelenggaraan sistem layanan kesehatan dan protokol kesehatan, serta perwujudan kota sehat.

Kedua, program pemulihan ekonomi sebesar Rp36 miliar, fokus pada jaring pengaman sosial, insentif dan stimulus ekonomi, serta penguatan potensi ekonomi lokal untuk lapangan kerja. Ketiga, program penguatan pendidikan sebesar Rp21,9 miliar. Anggaaran ini untuk fokus pada penguatan penyelenggaraan sistem layanan pendidikan, penyediaan infrastruktur daring dan bantuan koneksi, penyesuaian konten, kurikulum, modul dan skema kegiatan belajar mengajar, serta bantuan pendidikan bagi siswa miskin.

Kemudian keempat adalah program prioritas RPJMD yang merupakan stimulus investasi sebesar Rp621 miliar. Fokus program ini pada penataan transportasi publik dan infrastrukturnya, penataan kawasan Suryakencana, alun-alun dan stasiun kereta api Bogor, serta naturalisasi Ciliwung, Dan kelima adalah program janji kampanye. Termasuk mengakomodir aspirasi warga melalui pokok-pokok pikiran DPRD, sebesar Rp 94 miliar.

Fokus program inu lebih pada perwujudan Bogor mernah, Bogor kasohor, Bogor motekar, Bogor samawa, dan abdi Bogor deengan estimasi pembiayaan sebesar Rp227 miliar.

"Sehingga RAPBD tahun 2021, yang kami sampaikan ini sudah berada pada posisi berimbang atau tidak defisit. Namun demikian, DPRD dan Pemkot masih harus membahas bersama untuk memperkuat postur anggaran yang lebih efektif, efisien dan akuntabel," pungkasnya. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT