12 September 2020, 19:38 WIB

Tolak PSBB Anies, Orang Tertajir RI Kirim Surat ke Jokowi


Abdillah Muhammad Marzuqi | Megapolitan

PENGUSAHA bereaksi negatif terkait rencana Gubernur DKI Jakarta yang bakal memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSB8) mulai 14 September 2020. 

Bos Djarum Budi Hartono alis orang terkaya di Indonesia melayangkan surat pada Presiden Joko Widodo. Surat itu diunggah Peter Gonta di akun Instagram @petergontha (12/9).

Surat tertanggal 11 Sepetember itu berisi masukan agar pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan PSBB.

"Menurut kami, keputusan untuk memberlakukan PSBB Kembali itu tidak tepat," begitu yang termuat dalam surat.

Surat itu juga menyajikan bandingan atas alasan penerapan PSBB. PSBB di Jakarta dinilai terbukti tidak efektif di dalam menurunkan tingkat pertumbuhan infeksi di Jakarta. Surat itu juga berisi lampiran data untuk menguatkan argumen tersebut.

"Di Jakarta meskipun pemerintah DKI Jakarta telah melakukan PSBB tingkat pertumbuhan infeksi tetap masih naik," terang surat itu.

Terkait dengan alasan kapasitas rumah sakit (RS) di DKI Jakarta akan mencapai maksimum kapasitasnya dalam jangka dekat, surat itu juga mengajukan bantahan. Kapasitas RS di DKI Jakarta tetap akan mencapai maksimum kapasitasnya dengan atau tidak diberlakukan PSBB lagi. Seharusnya, pemerintah menyiapkan tempat isolasi mandiri.

"Hal ini disebabkan seharusnya Pemerintah Daerah/Pemerintah Pusat harus terus menyiapkan tempat isolasi mandiri untuk menangani lonjakan kasus," lanjut surat itu.

Surat itu juga mengetengahkan beberapa rekomendasi yakni penegakan aturan dan pemberian sanksi atas tidak disiplinnya sebagian masyarakat dalam kondisi normal baru. Selain itu pemerintah harus meningkatkan kapasitas tempat isolasi masyarakat dan melaksanakan pelacakan dan perawatan pada pasien covid-19.

Alasan ekonomi juga disebut dalam surat itu. Perekonomian disebut harus tetap terjaga, sehingga dapat terus menjaga kesinambungan kehidupan bermasyarakat.

"Melaksanakan PS8B yang tidak efektif berpotensi melawan keinginan masyarakat, yang menghendaki kehidupan new normal baru, hidup dengan pembatasan, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan lain lain. Masyarakat lebih takut kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta kelaparan daripada ancaman penularan covid-19," pungkas surat itu. (OL-8)

BERITA TERKAIT