30 August 2020, 05:18 WIB

Kapasitas RS Covid-19 Tersisa 30% di DKI


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

MASYARAKAT diminta lebih disiplin mematuhi protokol kesehatan. Ketersediaan tempat perawatan di rumah sakit (RS) bagi penderita covid-19 semakin menipis.

Kapasitas keterisian ICU sudah lebih 74%. Sementara itu, keterisian ruang rawat isolasi lebih 60%, itu pun data pada 25 Agustus, yang kemungkinan besar telah berubah.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti telah melakukan sejumlah upaya untuk mengantisipasi jumlah peningkatan orang yang harus diisolasi ataupun dirawat.

Salah satu langkah yang diambil ialah menyerahkan pasien isolasi ke RS Darurat Wisma Atlet. “Kalau orang tanpa gejala (OTG) atau ringan, kita kerja sama dengan Wisma Atlet yang punya kapasitas cukup besar,” ungkap Widyastuti, kemarin.

Sesuai prosedur tetap yang dibuat pemerintah pusat, pihaknya sebisa mungkin menghindari OTG dirawat di RS dan menganjurkan menjalani isolasi mandiri di rumah, terkecuali tempat tinggal orang bersangkutan tak memungkinkan menjadi tempat isolasi.

Menurutnya, ruang isolasi, terutama RS rujukan yang dikelola DKI ataupun swasta diutamakan bagi OTG dengan memiliki penyakit penyerta. “Kita akan layani yang betul memerlukan RS. Kan ada juga yang komorbid atau penyerta dengan kebutuhan perawatan memadai,” ujarnya.

Selain itu, Dinkes DKI juga terus memantau permintaan tambahan kapasitas pera- watan dan isolasi di RSUD ataupun 67 RS swasta. Pihaknya berencana menambah kapasitas perawatan dan isolasi dengan lebih dahulu menambah jumlah tenaga kesehatan melalui rekrutmen tenaga kontrak.

“Penambahan-penambahan ini, kalau sarananya cukup, kita juga harus meningkatkan SDM. Kita sedang melakukan penguatan SDM dengan merekrut yang profesional untuk membantu layanan kita,” paparnya.

Lebih jauh Widyastuti memaparkan keterisian kapasitas di RS meningkat karena gencarnya pemeriksaan covid-19 oleh Pemprov DKI. Kapasitas itu akan terus ditingkatkan meski saat ini jumlahnya sudah di atas standar WHO, yakni 1.000 orang per 1 juta penduduk per pekan.

Dengan standar WHO itu, Pemprov DKI harus memeriksa 11 ribu orang per pekan dan yang terjadi malah pemeriksaan rata-rata lebih dari 40 ribu orang per pekan. “Kita akan tingkatkan lagi lebih dari itu. Anggaran masih cukup,” imbuhnya.

Aplikasi pelacakan

Saat ini, Dinkes DKI menghadapi kendala dalam melacak orang-orang yang kemungkinan besar sudah terjangkit pasien covid-19. Guna mempermudah pelacakan, Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan aplikasinya.

Tim surveilans memerlukan aplikasi tersebut sebab saat mewawancarai pasien covid-19, mereka kerap lupa telah bertemu siapa saja dalam 14 hari terakhir. “Kelupaan pasien menyulitkan tim mencari kontaknya,” cetus Widyastuti.

Sehubungan dengan itu, aplikasi yang dibuat bertujuan meningkatkan kemampuan penelusuran kontak orang-orang yang telah berhubungan dengan pasien covid-19 dalam 14 hari terakhir.

Seiring dengan meningkatnya penelusuran kontak nanti, Widyastuti menyadari dan mempersiapkan langkah meningkatkan jumlah warga yang harus dites usap.

Seperti saat ini, naiknya angka positivity rate atau tingkat positif di Jakarta disebabkan penelusuran kontak dan tes usap yang sudah sangat baik di Jakarta. (N-1)

BERITA TERKAIT