01 August 2019, 18:22 WIB

Atasi Polusi, Dishub Sebut Bisa Lewat Aturan Kendaraan Pribadi


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta menegaskan telah mengembangkan angkutan umum ramah lingkungan sejak 2006 yakni melalui program pengadaan bus TransJakarta menggunakan bahan bakar gas. Kebijakan ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah No 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Namun, Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DKI Jakarta Masdes Arroufy mengatakan, penekanan pengurangan pencemaran udara bukanlah pada angkutan umum tetapi pada kendaraan pribadi.

Sebab, secara populasi jumlah angkutan umum di Jakarta baik TransJakarta, bus mikro Jak Lingko, taksi, bajaj, angkutan kota, hingga angkutan bus sedang dan bus besar jumlahnya tidak lebih dari 60 ribu unit.

"Sementara angkutan pribadi 13 juta. Jadi semisal angkutan umum kita buat gas semua, atau listrik semua, jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan dengan angkutan pribadi. Tidak akan terlalu signifikan mengurangi pencemaran udara," kata Masdes ditemui di Balai Kota, Kamis (1/8).

Masdes pun menegaskan pemerintah baik pusat maupun daerah harus mendorong konversi mesin angkutan pribadi baik menggunakan gas maupun listrik. Jika pemerintah melakukan penekanan dan Pasar mulai tumbuh, produsen pun tidak akan ragu menjual unit bertenaga listrik.

Baca juga : Tidak Hanya Bus Listrik, Dishub Juga Akan Kaji Taksi Listrik

"Karena sekarang produsen juga melihat keadaan. Kita masih belum berminat. Jadi ya mereka pun belum mau jual. Lihat saja di pameran industri otomotif yang baru selesai kan mobil hybrid atau listrik semuanya tidak dijual di Indonesia, hanya dipamerkan saja disini purwarupanya," imbuhnya.

Dari sisi angkutan umum ramah lingkungan, Masdes mengungkapkan, jauh sebelum menghangatnya isu polusi udara dan saran terkait angkutan umum berbahan bakar ramah lingkungan, pihaknya sudang mengimplementasikannya.

"Kami bukan cuma merencanakan tapi sudah jalan lho bus berbahan bakar gas. Jadi dari 2006, 13 tahun lalu kami sudah mulai," kata.

Selain itu pada saat yang sama Dishub DKI juga melakukan program peremajaan bajaj berbahan bakar solar menuju gas. Program ini berhasil mengonversi 3.500 unit Bajaj berbahan bakar solar yang khas dengan warna oranye ke Bajaj bahan bakar gas berwarna biru yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu terdapat pula angkutan taksi berbahan bakar gas. Namun, jumlahnya berkurang seiring minimnya produsen angkutan berbahan bakar gas. Saat ini armada TransJakarta yang menggunakan bahan bakar gas hanya mencapai 300 unit. (OL-7)

BERITA TERKAIT