15 April 2019, 10:30 WIB

Sungai di Jakarta Barat Lebih Parah


MI | Megapolitan

TINGGAL di Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, membuat Eni, 45, tahu persis kondisi Kanal Banjir Barat (KBB). Meski bukan rumah sendiri, pedagang kaki lima di sekitar Stasiun Manggarai itu, sudah beberapa tahun terakhir mengontrak tidak jauh dari Kanal Banjir Barat.

"Saya hanya dengar soal naturalisasi karena banyak dibicarakan di media. Kalau maksudnya sih belum paham," tutur Eni.

Dia hanya menduga-duga naturalisasi yang diprogramkan Gubernur Anies Baswedan tidak jauh berbeda dengan normalisasi sungai di zaman Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. "Saat Pak Ahok sungai dilebarkan kan?".

Ketika normalisasi diluncurkan Gubernur Ahok, Eni mengaku sangat mendukung, meski harus menggusur banyak rumah warga. Alasannya, program itu terbukti mampu mengentaskan lingkungan dari banjir.

"Ya memang sih kasihan sama yang digusur. Namun, kan dikasih rusun. Tinggal di rumah-rumah pinggir kali, mereka ngontrak juga," terangnya.

Baca Juga : Normalisasi Sungai masih Terkendala Pembebasan Lahan

Seperti diungkapkan Pejabat Pembuat Komitmen pada Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Yoserizal, tahun ini program naturalisasi akan dilakukan pada dua sungai, yakni Kanal Banjir Barat dan Kali Ciliwung. Di Kanal Banjir Barat, naturalisasi dilakukan pada area bantaran sepanjang 635 meter. "Naturalisasi itu menata sungai dengan membersihkan sekaligus menghijaukan bantaran sungai," tandasnya.

Namun, bagi Eni, kondisi Kanal Banjir Barat saat ini sudah cukup baik. Karena itu, tidak perlu penataan khusus lagi. Dengan lebar mencapai 50 meter, kanal itu sudah ideal dan dapat menampung volume air yang besar saat puncak musim hujan. Kondisi dinding kanal juga tidak mengkhawatirkan karena kukuh dengan dinding beton yang dibangun sejak era Gubernur Fauzi Bowo.

"Pohon dan rumput sudah ditanam juga. Jadi, sebetulnya mau dibikin apalagi ya? Kalau mau dibikin taman ya mending seperti RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) karena di sini memang kurang," ujarnya.

Eni pun memberi saran, pemerintah provinsi menata sungai lain yang penuh polutan dan bau tak sedap. "Misalnya kali-kali yang di Jakarta Barat, di Grogol. Ampun baunya." (Put/J-3)

BERITA TERKAIT