15 May 2017, 06:00 WIB

Marga Betawi Tetap Lestari


Gana Buana | Megapolitan

UNGKAPAN 'Anak Betawi ketinggalan zaman' dalam lirik lagu sinetron fenomenal Si Doel Anak Sekolahan tidak terlalu mengena bagi anak-anak asli Betawi dari Kampung Sawah, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi.

Bagi mereka, nama ialah jati diri, dan hingga kini tetap menjunjung tinggi identitas sebagai anak Betawi.

Warga kampung Sawah tidak merasa ketinggalan zaman meski sebagian besar rakyat Indonesia telah memakaikan nama luar negeri kepada keturunan mereka.

Kebanyakan warga asli Kampung Sawah menyebut wilayah mereka sebagai Indonesia kecil.

Mereka sadar datang dari berbagai etnik berbeda sejak abad ke-19.

Tidak heran bila penduduk setempat kental dengan toleransi dan terbuka kepada pendatang.

Orang asli Kampung Sawah, kebanyakan berasal dari Banten, yang menurut ceritanya merupakan sisa-sisa prajurit Mataram yang menyerang Batavia pada abad ke-17. Ada pula yang datang dari Pedurenan dan Cakung Payangan.

Kedua daerah itu kini masuk wilayah Bekasi.

Sebagian lagi merupakan etnik Tionghoa yang telah lama bermukim di Kampung Sawah. Kedatangan warga Citereup, Gunung Putri, Bogor, ke Kampung Sawah, semakin meramaikan perbedaan di sana.

Namun, untuk bahasa, warga Kampung Sawah menganut satu ragam dialek Betawi.

Bahasa yang mereka gunakan merupakan perpaduan aneka bahasa di Batavia dan sekitarnya.

Warga Kampung Sawah mengidentifikasi diri dengan konsisten menjaga adat istiadat.

Seperti yang diungkapkan Nalih Ungin, 52, putra asli Kampung Sawah.

"Kami lestarikan budaya Betawi dengan melekatkan nama khas atau marga dari generasi ke generasi. Nama tersebut menjadi ciri warga Betawi dari Kampung Sawah," jelas Nalih, Sabtu (13/5).

Di Kampung Sawah, penyertaan nama khas Betawi sudah turun-temurun.

Sejak nenek moyang mereka hidup di Kampung Sawah, nama anak cucu tetap berdasarkan keturunan.

Nama-nama itu ialah marga bagi warga Kampung Sawah.

Bagi warga yang memperoleh nama baptis sekalipun, nama khas tetap tak boleh hilang.

Seperti halnya Nalih yang menjalani pembaptisan oleh Robertus Bakker, pendeta asal Belanda pada 1971 di Gereja Antonius Padua atau yang dikenal saat ini sebagai Gereja Servatius.

Dirinya mendapatkan nama baptis Matheus dengan pengharapan Santo Matheus masuk ke dirinya dan selalu melindungi setiap langkahnya. Setelah nama Matheus, ia tetap melekatkan nama Nalih Ungin.

"Kalau orang-orang Medan punya marga, kami pun punya, ya marga Kampung Sawah dengan khas Betawi," kata dia bangga.

Sedikitnya ada 20 marga khas Kampung Sawah.

Marga itu akan dibawa terus oleh setiap keluarga dalam penamaan keturunan mereka.

"Sekalipun nama depannya kebarat-baratan akan selalu disertai marga Kampung Sawah di belakangnya," imbuh Nalih.

Marga di Kampung Sawah

Beberapa nama atau marga warga Kampung Sawah, yakni Noron, Napiun, Nalih, Natael, Niman, Kaiin, Baiin, Tibin, Sarin, dan Samad.

Beberapa marga itu, menurut Nalih, sering terdengar.

"Kalau disebutkan satu-satu, ya saya tidak hafal," imbuh dia.

Senada diungkapkan Mikael Niman, 35. Mikael merupakan putra Niman generasi keenam.

Pada zamannya, moyang Mikael itu merupakan jawara di wilayah Kampung Sawah.

Sekalipun perkembangan zaman sangat melesat maju, nama sang moyang tetap lestari pada generasi keenam sekarang ini.

"Hubungan antargenerasi di kami tidak akan punah karena nama keturunan moyang kami melekat pada identitas diri," cetus Mikael.

Bagi warga setempat, marga warga Kampung Sawah amat terciri sehingga sekalipun mereka sudah meninggalkan Bekasi dan hidup di kota lain tetap diketahui bahwa keluarga itu rumpun Kampung Sawah.

"Ada yang pindah kembali ke wilayah Gunung Putri Bogor, kami tetap mengetahui bahwa keluarga tersebut dulunya dari Kampung Sawah berdasarkan namanya," lanjut dia.

Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, menyampaikan upaya warga Kampung Sawah melestarikan budaya Betawi dari namanya perlu diapresiasi.

Kecintaan mereka terhadap Betawi jelas terlihat dengan terus melekatkan nama leluhur kepada generasi penerus.

Menurut dia, penamaan nama-nama Betawi di setiap daerah relatif sama. Nama-nama itu tadinya muncul akibat nama panggilan.

Karena generasi penerus dari keluarga mereka merasa bangga, nama tersebut terus diikutkan pada generasi berikutnya.

Ali Anwar berharap kebanggaan itu berlaku tidak hanya pada satu hingga dua generasi lagi.

"Semoga pemuda yang ada sekarang tetap melestarikan budaya Betawi sebagaimana adanya, bukan hanya sekadar memperlihatkan identitas lewat nama semata," tukas dia. (J-2)


BERITA TERKAIT