13 March 2023, 05:00 WIB

Rumah Sakit Internasional, Menambal Kebocoran Devisa?


Iqbal Mochtar Pengurus PB IDI dan PP, IAKMI, anggota Dewan Pakar PAKKI |

PEMERINTAH gusar. Banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri. Katanya, setiap tahun 1 juta orang berobat ke Malaysia dan 750 ribu ke Singapura. Gara-gara ini, Indonesia kehilangan devisa Rp175 triliun. Karena kegusaran ini, mereka berencana buat rumah sakit internasional. Rumah sakit (RS) ini, katanya, digadang-gadang akan menjadi world class hospital. Alat-alatnya nanti canggih. Dokternya pun nanti dari luar negeri; mungkin dokter asing atau dokter diaspora. Pokoknya, sampai di sini, semua terlihat keren.

Apakah mendirikan rumah sakit internasional bagus? Ya, baguslah. Kan membanggakan kalau Indonesia punya sebuah rumah sakit internasional dengan dokter-dokter bernas. Apalagi, dengar-dengar rumah sakit ini digadang-gadang menjadi world class hospital, RS kelas dunia. Semoga memang benar demikian meski ada keraguan. Masalahnya, rumah sakit sekelas Mayo Clinic, Cleveland Clinic, dan Massachusset General Hospital saja belum pernah mengklaim dirinya world class hospital. Kita berani; artinya kita memang cool.

Namun, terlepas dari keren-kerenan, tentu saja perlu diulik-ulik beberapa isu. Pertama, apa memang figur di atas benar? Kalau benar, masyarakat mana yang selalu berobat keluar negeri? Pemerintah menyebut jumlah yang berobat ke Singapura 750 ribu, sementara Assosiasi Medis Turis Singapura sendiri dalam website-nya menyebut jumlahnya cuma sekitar 250 ribu per tahun. Ini figur yang amat beda.

Kemudian, angka Rp175 triliun juga entah diperoleh dari mana. Apa bisa pemerintah tahu biaya yang dikeluarkan individu saat berobat luar negeri. Padahal, pembiayaannya dari kocek individu? Tapi sudahlah; anggap saja memang benar demikian. Statistik memang diperlukan untuk meyakinkan orang.

Selanjutnya, masyarakat mana yang paling sering berobat ke luar negeri? Tentu saja yang paling utama ialah para pejabat, pelaku bisnis dan public figure. Mereka ini yang paling banyak jalan-jalan ke luar negeri. Masyarakat biasa mana punya duit jalan-jalan, apalagi berobat keluar? Artinya, jika tujuan pemerintah mendirikan RS internasional ini ialah untuk mengurangi masyarakat berobat ke luar negeri maka target rumah sakit internasional ini sebenarnya bukan masyarakat biasa, tetapi para pemilik cuan.

Kasarnya, yang akan mendapat manfaat dari RS ini hanyalah kaum the havest, bukan the common people. Makanya, kecil kemungkinan RS ini akan menerima layanan BPJS. Di sini akan berlaku prinsip bisnis; you have the money, you have services. 

Kedua, apakah adanya RS internasional akan membuat masyarakat tidak lagi berobat keluar negeri? Tunggu dulu. Di sini, tampaknya pemerintah gelagapan. Mereka memakai prinsip konvensional, bahwa bila ada permasalahan, akar penyebabnya pasti terkait isu kekurangan atau lacking. Alasan klisenya: kita kurang alat, kurang dokter super-spesialis dan kurang rumah sakit internasional. Makanya, jalan keluarnya ialah menyediakan alat, mendatangkan dokter superspesialis dan mendirikan rumah sakit internasional. Ini sudut pandang sangat konvensional.

Issu berobat keluar negeri sangat kompleks. Alasan masyarakat mencari pengobatan luar negeri sangat beragam. Pertama, terkait reputasi; bisa reputasi negara, insitusi atau tenaga kesehatannya. Reputasi ini dibangun bukan hanya karena adanya ketersediaan alat, fasilitas atau dokter. Namun, hasil komitmen pelayanan profesional dan beretika yang dibangun oleh semua elemen rumah sakit dalam jangka waktu lama.

Reputasi tidak dicapai secara ujug-ujug. RS Mount Elizabeth di Singapura dibangun sekitar setengah abad yang lalu. Sejak dibangun sampai saat ini, mereka terus mempertahankan standar pelayanan profesional yang sangat tinggi. Saking kredibelnya, ia menjadi satu dari tiga rumah sakit di Asia yang terpilih sebagai jaringan Mayo Clinic Network, sebuah jaringan rumah sakit terbaik dunia.

Contoh lain, Mayo Clinic. Rumah sakit ini didirikan tahun 1864. Dalam periode 150 tahun lebih ini, mereka membangun dan mempertahankan standar pelayanan profesional yang sangat tinggi dan beretika. Mereka punya lebih 4.000 dokter dan peneliti, serta punya hampir 60 ribu staf. Punya kampus juga di banyak tempat. Mereka sangat elegan dan luar biasa.

Di rumah sakit ini ada trust dan profesionalisme yang dibangun lebih satu abad. Makanya, orang buru-buru berobat kesana. Artinya, mempersiapkan fasilitas dan sarana, atau mendatangkan dokter asing ke Indonesia tidak serta merta membuat rumah sakit Indonesia menjadi reputable dan kredibel. Dan tidak serta-merta membuat orang mau berobat ke sana.

Kedua, kedekatan jarak. Walau Indonesia, Malaysia dan Singapura adalah tiga negeri berbeda, ketiga negara ini jaraknya dekat. Ini memudahkan pasien bergerak dari satu negara ke negara lain dalam mencari pengobatan. Apalagi, pergerakan ini tidak membutuhkan pengurusan visa yang berbelit. Jarak Batam ke Singapura sekitar 20 kilometer dan dapat ditempuh dengan boat atau feri kurang dari satu jam. Sementara, jarak Batam ke Jakarta lebih 1.000 km dan membutuhkan hampir 2 jam menggunakan pesawat. Karena perbedaan ini, masyarakat di daerah Batam dan Riau lebih dekat mencari pengobatan ke Singapura daripada ke Jakarta.

Hal yang sama dengan Medan dan Kuala Lumpur. Jarak keduanya sekitar 875 km; setengah jarak Medan ke Jakarta. Dari Medan ke Kuala Lumpur hanya membutuhkan penerbangan kurang dari 90 menit, sementara ke Jakarta butuh sekitar 2 jam. Banyak studi mendukung ini, termasuk yang dilakukan Ahn di Korea Selatan. Studinya menunjukkan pengaruh ini, terutama pada masyarakat yang tinggal jauh dari rumah sakit negeri.

Ketiga, sebagian masyarakat berobat keluar negeri sambil jalan-jalan. Kadang mereka ke luar bahkan dengan keluarganya. Family picnic. Makanya, istilah yang digunakan adalah medical tourism. Apalagi, di beberapa negara, biaya pengobatan operasi dan perawatan relatif lebih murah. Di Thailand, beberapa RS terkenal menawarkan paket pemeriksaan kesehatan lengkap dengan biaya di bawah Rp5 juta. Dengan biaya demikian, orang memilih berobat keluar.

Selain biayanya comparable atau bahkan lebih rendah dibanding di Indonesia, mereka juga bisa jalan-jalan keluar negeri. Sekali merangkuh dayung, dua-tiga pulau terlampau. Bila RS Internasional Indonesia sudah ada, apakah bisa menyiapkan layanan murah dan berkualitas? Kelihatannya sulit.

Persoalannya, mereka menggunakan dokter asing atau dokter diaspora yang gajinya tentu cukup tinggi. Belum lagi, mereka menggunakan alat-alat canggih. Semua ini memerlukan pengembalian modal. Maka, jangan berharap biaya pengobatan atau pelayanan akan murah. Sekali lagi, BPJS mungkin tidak akan berlaku. Bila tidak murah, orang mending keluar negeri. Relatif lebih murah dan sambil jalan-jalan.

Keempat, tidak sedikit masyarakat kita yang terkena penyakit self-loathing mentality. Nama lainnya colonial mentality. Mereka mengagung-agungkan budaya, pelayanan atau produk luar negeri dan menyepelekan hasil bangsanya. Ironisnya, mentalitas seperti ini justru menghinggapi pejabat, pelaku bisnis dan public figure. Ada pejabat yang menderita bisul atau ambeien saja mau ke Singapura berobat.

Bahkan, ada pejabat yang pernah keluarkan pernyataan: kalau ia sakit, ia akan langsung ke Singapura dan tidak akan menemui dokter Indonesia.

Cool banget mentality seperti ini. Makanya, sebelum pemerintah gusar dengan masyarakat yang berobat keluar negeri, tertibkan dulu para pejabat dan pelaku bisnis ini. Larang mereka berobat keluar negeri.

Seperti politik swadeshi yang pernah dipakai Mahatma Gandhi dan Lala Lajpat Rai. Presiden gampang membuat aturan ini. Misalnya, diminta saja semua pejabat negara, anggota DPR, ASN dan bahkan para pelaku bisnis untuk tidak berobat ke luar negeri, dan memanfaatkan fasilitas kesehatan dalam negeri. Semoga saja mereka patuh, walau tidak ada jaminan.

Intinya, jangan berharap sepenuhnya pendirian RS Internasional akan menyetop orang berobat keluar negeri. Alasannya tidak sesederhana terkait alat dan fasilitas. Banyak faktor lain yang menyebabkan masyarakat memiliki special preference terhadap negara atau rumah sakit tertentu. Yang tidak kalah penting, kita jangan dihinggapi penyakit ‘easy come, easy go’; sebuah penyakit yang mudah merencanakan dan menginisiasi, tetapi sulit melanjutkan dan mempertahankan.

Dulu kita promosi kiri kanan sudah membuat pesawat CN235 yang akan digunakan sebagai maskapai nasional. Namun, kisah ini gugur di tengah jalan. Ada juga kisah mobil Timor dan Esemka yang digadang-gadang menguasai pasar mobil nasional. Toh kini tersendat-sendat tidak jelas. Kelihatannya, memang kita sudah terinfeksi parah penyakit ‘easy come, easy go’ ini. Yang penting ada dulu, urusan nanti eksis atau tidak, itu urusan belakangan. Jangan-jangan drama kisah RS internasional ini juga ending-nya ke sana.

BERITA TERKAIT