25 April 2022, 05:00 WIB

Berlebaran sambil Mewaspadai Varian XE


Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair, Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim |

SETELAH dua tahun tidak merayakan Lebaran karena pandemi, akhirnya sepekan lagi umat Islam akan bisa merayakan Idul Fitri lagi, hari raya berakhirnya puasa di bulan suci Ramadan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, momen hari raya ini dirayakan begitu menggema dengan tradisi lokal yang kita kenal dengan Lebaran. Sebagai tradisi dan bagian dari budaya Nusantara, Lebaran sangat kental dengan suasana lokal.

Lebaran ditandai salah satunya dengan arus besar mudik. Jutaan orang berbondong-bondong balik ke kampung halaman asalnya menggunakan beragam moda transportasi. Setelah salat id di lapangan, kita menikmati beragam hidangan yang serbanikmat. Dilanjutkan dengan tradisi saling berkunjung ke kerabat dan tetangga, bermaafan, bahkan sungkem pihak yang muda ke yang sepuh. Sementara itu, anak-anak sibuk memilih suguhan aneka camilan dan menerima uang hadiah Lebaran dari para orangtua dan kerabatnya. Suasana lebaran penuh persaudaraan dan makan enak, sungguh membahagiakan penuh berkah.

Itulah kebahagiaan yang terbayang setelah dua tahun kita lalui Lebaran tanpa mudik, tetapi dengan tetap mendoakan saudara serta kerabat kita yang meninggal karena pandemi covid-19. Hingga 22 April 2022, di Indonesia ada 6.043.246 orang yang terpapar covid-19, 5.866.169 orang yang sembuh dan 156.040 orang yang meninggal.

Syukurlah sekarang situasinya semakin membaik. Data 22 April, hanya ada penambahan 651 kasus positif, sudah sangat jauh menurun jika dibandingkan dengan 16 Februari 2022 saat puncak gelombang ketiga, yakni ada 64.718 kasus baru.

Membaiknya kondisi tidak hanya jumlah kasusnya yang semakin menurun, tetapi juga dibarengi dengan tetap disiplin melaksanakan ‘peduli lindungi’ dan semakin tingginya angka vaksinasi. Pemerintah menargetkan vaksinasi pada 208.265.720 penduduk. Sampai 22 April 2022, vaksinasi dosis pertama mencapai 198.739.666 orang (95,43% dari target), sedangkan dosis kedua mencapai 63.709.692 (78,61%) dan dosis ketiga 34.280.741 orang (16,46%). Menurut parameter epidemiologi, dengan angka ini sudah tercapai herd immunity atau kekebalan kelompok.

Dengan dua modal utama itulah akhirnya pemerintah memutuskan membolehkan mudik untuk merayakan Lebaran tahun ini, dengan syarat yang relatif fleksibel. Bagi yang baru divaksin dosis 1, harus menunjukkan hasil negatif pada tes PCR. Bagi yang sudah divaksin dosis 2, harus menunjukkan hasil negatif pada tes antigen. Yang sudah mendapatkan vaksin dosis 3 atau booster, boleh langsung mudik tanpa tes lagi. Dengan syarat ini, mendadak terjadi antrean vaksin di berbagai wilayah, utamanya di Jabodetabek. Para calon pemudik semangat mengejar vaksin dosis ketiga demi bisa Lebaran di kampung halaman mereka.

Masyarakat langsung menyambut dengan kegembiraan luar biasa. Tiket mudik kereta api dan bus habis ludes. Paket mudik gratis yang disediakan Pemprov DKI dan berbagai instansi lainnya juga ludes. Itu menggambarkan betapa besar hasrat masyarakat untuk segera merayakan mudik Lebaran yang dua tahun tertunda.

 

Menjaga kewaspadaan

Namun, di tengah kegembiraan nasional itu, kita perlu menaruh kewaspadaan sebab pada suasana kegembiraan massal seperti ini biasanya membuat kita gampang lengah. Janganlah kegembiraan Lebaran nanti, sampai berpotensi menyebabkan melonjaknya kasus positif. Ada pengalaman berharga satu tahun lalu, kejadian di India dan di kita-Indonesia.

Di India, ada acara tahunan ritual tadisional Kumbh Mela, yakni jutaan warga tumpah ruah mandi beramai-ramai di Sungai Gangga. Saat itu, tepatnya satu tahun lalu India belum mencapai kondisi herd immunity. Akibatnya, bisa diduga. Jutaan orang ini saling menulari dan dalam waktu singkat kasus positif covid-19 melonjak, rumah sakit penuh pasien dengan banyak korban yang tak tertolong, dan membawa India ke situasi darurat nasional.

Hal yang sama, pengalaman India ini hampir sama sebangun terjadi di Indonesia. Satu pekan setelah Lebaran 2021, di saat masih diterapkan larangan berkerumun, warga Kudus nekat merayakan Lebaran Ketupat dengan saling mengunjungi, bergerombol, berkerumun dengan gembira ria. Akibatnya, dalam waktu singkat kasus positif di Kota Kudus melonjak drastis, membuat Provinsi Jawa Tengah memecahkan rekor dengan penambahan 10 ribu kasus baru per hari.

Tidak seberapa lama kejadian yang sama muncul di warga Bangkalan, Madura. Para diaspora Madura berbondong mudik Lebaran melewati jembatan Suramadu sampai macet. Hasilnya, Bangkalan meledak penularan covid-19, kasus baru melonjak. Selanjutnya kasus di Kudus dan Bangkalan menjadi pionir meledaknya gelombang kedua secara nasional, yakni puncak rekornya sampai ada penambahan 65 ribu kasus baru per hari dengan angka fatalitas demikian tinggi.

Itulah pengalaman menyesakkan Lebaran tahun lalu, yang pasti tidak ingin kita ulangi lagi. Tentu saja, sekarang situasinya berbeda (berbeda dalam angka vaksinasi maupun sifat virusnya), baik di India maupun di Indonesia. Kondisi India sudah membaik, kasus covid-19 sudah menurun, vaksinasi dosis pertama mencapai hampir 90% dan dosis kedua mencapai sekitar 80%.

Maka, pemerintah India percaya diri mengizinkan perayaan Holi, yang tahun lalu masih dilarang. Holi atau festival warna, berlangsung selama beberapa hari dan puncaknya pada 18 Maret. Salah satu acaranya yang terkenal ialah saat jutaan orang melemparkan atau mengolesi aneka cat dan pewarna ke orang lain dengan suasana sangat riuh berdesakkan gembira. Para ahli di India bisa menerima keputusan pemerintah yang membolehkan perayaan Holi tahun ini. Namun, tetap menyarankan kewaspadaan tinggi.

Menurut Dr Ravi Shekher Jha, konsultan senior Pulmonologi di Rumah Sakit Fortis Escorts, perayaan Holi tahun ini kecil kemungkinannya mengakibatkan lonjakan kasus korona. Namun, harus tetap berhati-hati dengan tetap bermasker, sedapat mungkin menghindari kerumunan massal. Itu karena masih ada kemungkinan virus tersisa yang masih dibawa sebagian di antara orang yang berkerumun.

Demikian juga kondisi di Indonesia sudah semakin membaik. Vaksinasi sudah menghasilkan herd immunity sehingga pemerintah mengizinkan mudik Lebaran, seperti dijelaskan di atas. Baik di India maupun di Indonesia pendapat para ahli relatif sama, yaitu kita harus tetap waspada dan hati-hati.

Keriuhan suasana Lebaran di kampung halaman nanti boleh-boleh saja, tapi dengan tetap saling meminimalkan potensi kejadian klaster penyebaran baru seperti yang terjadi tahun lalu. Seperti kata epidemiolog di India, di sini bisa kita katakan, “Mudik Lebaran mungkin tidak akan menyebabkan lonjakan kasus covid-19, tetapi kita harus tetap berhati-hati dan menghindari kerumunan massal. Itu karena mungkin masih ada sisa virus yang masih terbawa oleh orang yang berkerumun.” Oleh karena itu, ada baiknya kita perhatikan hal-hal berikut untuk menjaga kewaspadaan, terutama berkaitan dengan munculnya varian mutasi baru, generasi penerus omikron.

 

Munculnya varian baru XE

Awal Maret lalu, para ahli mendeteksi munculnya varian baru, rekombinan dari mutasi varian BA1 (omikron asli) dengan subvarian BA2. Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSCA) mencatat, hingga 22 Maret ada 637 kasus varian baru yang ditemukan di Inggris dan memberi nama varian baru itu sebagai varian XE. Karena baru satu bulan, belum cukup waktu untuk mengamati karakter XE ini secara rinci. Namun, dilaporkan bahwa tingkat pertumbuhannya tidak jauh berbeda dengan karakter subvarian BA2.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru mengonfirmasikan varian XE ini pada 31 Maret meski telah mendeteksi kemunculannya sejak 19 Januari lalu. Perkiraan awal WHO menyebut, varian XE ini 10% lebih menular jika dibandingkan dengan subvarian BA2 meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Jika benar perkiraan WHO ini, bisa dikatakan XE sedikit lebih berbahaya jika dibandingkan dengan varian omikron.

Dikutip CNBC Indonesia, Erica Johnson, dokter penyakit dalam di Johns Hopkins Bayview Medical Center di Baltimore mengatakan gejala varian XE ini mirip dengan gejala akibat omikron asli. Gejala utama BA1 dan BA2 adalah batuk, demam, kelelahan, dan kemungkinan hilangnya rasa atau penciuman. Sejumlah pasien juga mengalami pilek, masalah pencernaan, sakit kepala, dan ruam kulit. Zoe Covid-19 Study juga melaporkan, gejala varian XE mirip dengan yang terlihat pada pasien BA2, yakni sakit kepala, sakit tenggorokan, nyeri otot, demam, diare, mual, muntah, dan sakit perut.

Sebelum ditemukan varian baru XE, para ahli sudah mengkhawatirkan penyebaran subvarian BA2 yang disebut sebagai varian ‘siluman’. Itu karena lebih sulit dilacak daripada varian lainnya yang sudah ada sebelumnya. Subvarian siluman ini juga disebut sebagai penyebab melonjaknya kasus baru di Tiongkok. Shanghai, kota perdagangan terbesar di Tiongkok, saat ini sedang berusaha mengatasi penyebaran covid-19 yang bisa dikatakan mengkhawatirkan. Ada hampir 25.000 kasus baru dilaporkan per hari dan diterapkan kebijakan karantina lokal.

Kebijakan karantina kota ini sempat dikritik karena memisahkan anak-anak dari orangtua dan mencampurkan kasus tanpa gejala dengan mereka yang memiliki gejala. Dikutip CNBC Indonesia, otoritas kesehatan setempat mengakui, pencegahan dan pengendalian epidemi di Shanghai berada pada tahap yang paling sulit dan paling kritis. Hal ini tentu mengejutkan sebab Tiongkok sebelumnya sudah menyatakan berhasil melewati pandemi.

Selain di Tiongkok, varian siluman ini menginfeksi penduduk kawasan Eropa. Dalam dua pekan terakhir, beberapa negara Eropa dilaporkan telah mengalami penurunan kasus, meskipun secara umum wilayah Eropa masih melaporkan ada penambahan lebih dari 1 juta kasus baru tiap dua hari. Secara umum, kasus baru menurun di Jerman, Inggris, dan Italia, sementara di Prancis masih stabil. Namun, data saat ini menunjukkan penurunan angka kejadian covid-19 di wilayah Eropa dengan jumlah kasus baru mencapai 250 ribu per hari.

Tidak hanya melanda Eropa, di Korea Selatan kasus baru juga tiba-tiba melonjak dan dilaporkan ada lebih dari 182 ribu kasus infeksi baru dalam sehari. Namun, angka itu sudah menurun dan saat ini pertambahan kasus baru di Korea Selatan mencapai 70-80 ribu per hari. Menurut analisis Reuter, satu dari empat kasus infeksi global akhir-akhir ini berasal dari Korea Selatan. Secara umum, ada sekitar 20 negara yang mengalami kenaikan kasus, termasuk Taiwan, Thailand, dan Bhutan.

Secara keseluruhan, kasus covid-19 di Amerika Serikat (AS), juga telah turun tajam setelah mencapai level puncak rekor pada Januari lalu. Namun, melonjaknya kasus di beberapa negara di Asia dan Eropa, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa gelombang ini akan menyebar ke AS. Menurut WHO, dari melonjaknya kasus baru secara global, varian ‘siluman’ BA2 memberi kontribusi sekitar 86%. Memang BA2 lebih menular, tetapi bukti sejauh ini menunjukkan subvarian BA2 ini tidak menyebabkan penyakit parah.

Karena itu, kewaspadaan lebih diarahkan untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya varian XE. Apakah varian XE sudah masuk ke Indonesia? Sampai 21 April, menurut keterangan jubir Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, belum ada laporan masuknya varian XE di Indonesia. Tentu kita patut bersyukur dan berharap jangan sampai muncul di Indonesia, dengan selalu waspada, sebagai bagian program antisipasi jika varian baru ini suatu saat masuk ke Indonesia. Semoga nanti kita bisa bersyukur melewati Idul Fitri dengan kegembiraan dan penuh berkah sambil tetap menjaga kehati-hatian. Allahu akbar, walillahil hamd.

 

 

 

BERITA TERKAIT