24 January 2022, 05:00 WIB

Memitigasi Ketidakpastian di Tahun 2022


Agus Sugiarto Kepala OJK Institute | Kolom Pakar

SELAMAT tinggal 2021 yang baru saja telah kita lalui bersama, dan selamat datang 2022. Di 2021 tersebut kita telah melihat cukup banyak peluang dan gangguan yang menyebabkan kondisi perekonomian global mengalami pasang surut. Di tengah-tengah covid-19 yang masih belum berakhir, ternyata ramalan ekonomi global membaik di 2021 memang telah terbukti. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan akan tumbuh positif di angka 5,4%-5,6%, tetapi ternyata realisasinya diperkirakan akan mencapai angka 5,9%-6%.

Pemulihan ekonomi itu tidak terlepas dari keberhasilan kebijakan ekonomi makro, yang dilakukan secara serentak oleh hampir semua negara maju dan berkembang di seluruh dunia. Kebijakan moneter ekspansif telah diadopsi untuk mengalirkan likuiditas yang cukup ke pasar, guna tetap menggerakkan perekonomian. Pemberian berbagai insentif fiskal juga telah diberikan untuk mendukung kelangsungan dunia usaha dan menggerakkan sektor-sektor ekonomi yang terdampak pandemi. Kebijakan-kebijakan tersebut berhasil menghidupkan kembali mesin-mesin produksi sehingga dampaknya bisa kita rasakan saat ini.

Selain itu, membaiknya ekonomi tersebut disebabkan mulai bergairahnya tingkat konsumsi masyarakat. Hal itu terbukti dengan meningkatnya permintaan dan investasi, serta melonjaknya angka inflasi di negara-negara maju, yang selama ini menjadi penggerak ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok, Amerika Serikat, dan anggota Uni Eropa yang menjadi tulang punggung pertumbuhan global, ternyata jauh melebihi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang. Termasuk, di antaranya pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN-5 yang diproyeksikan hanya mencapai 2,9% untuk 2021 ini.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2021 mencapai 8,1%, suatu angka yang spektakuler, walaupun mengalami perlambatan pada semester 2/2021. Adapun pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat di 2021 diperkirakan akan menyentuh angka 5,5%-6%. Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa juga akan menikmati pertumbuhan ekonomi positif, diperkirakan mencapai 5,1% pada akhir 2021.

 

Pertumbuhan ekonomi global 2022

Memasuki 2022, diramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan mengalami penurunan. Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan proyeksi pertumbuhan sebesar 4,9%, sedangkan Bank Dunia (World Bank) mengindikasikan pertumbuhan sebesar 4,3% dan proyeksi dari OECD sebesar 4,5%. Penurunan tersebut ditengarai karena adanya penurunan pertumbuhan ekonomi dari negara-negara maju.

Pertumbuhan raksasa ekonomi dunia seperti Tiongkok dan Amerika Serikat diramalkan akan mengalami penurunan dan masing-masing akan mencapai 4%. Begitu halnya dengan pertumbuhan ekonomi dari negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, diperkirakan hanya mencapai 5,5% dan 4,3%. Namun, untuk negara-negara yang tergabung dalam ASEAN-5 justru diramalkan perekonomian mereka akan mengalami pertumbuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan 2021, yaitu di kisaran 5,8%.

Menarik untuk dipelajari, mengapa para ekonom justru meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi global di 2022 justru berpotensi lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di 2021. Walaupun diproyeksikan menurun, masih terbuka peluang bahwa nantinya realisasi pertumbuhan ekonomi global bisa saja menyamai atau bahkan lebih tinggi dari angka yang diraih pada 2021.

Kita berharap, nantinya di 2022 terjadi banyak perubahan positif, yang bisa menambah optimisme terhadap kelanjutan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun demikian, kita juga perlu menyadari sepenuhnya, bahwa banyak sekali faktor-faktor ketidakpastian yang bisa mengubah prospek dan arah perjalanan ekonomi global di 2022 tersebut. Faktor-faktor itu memiliki pengaruh besar dalam memberikan kontribusi baik terhadap pertumbuhan ekonomi global maupun regional.

 

Ancaman inflasi dan stagflasi

Membaiknya ekonomi global di 2021, di satu sisi merupakan bukti nyata bahwa resesi ekonomi sudah hampir berakhir, dan ekonomi global telah menuju pintu gerbang pemulihan. Namun di sisi lain, fakta menunjukkan tingkat konsumsi yang naik begitu pesat memunculkan potensi inflasi yang cukup tinggi. Kita bisa melihat angka inflasi di Amerika Serikat pada 2021 melaju hingga 7%. Inflasi di negara-negara anggota Uni Eropa diproyeksikan mencapai 5% di 2021, sedangkan di Tiongkok justru inflasinya mengalami penurunan dari 2,3% di November 2021 menjadi 1,5% di akhir 2021.

Meningkatnya laju inflasi tersebut disebabkan adanya beberapa faktor.

Pertama, peningkatan konsumsi yang begitu cepat menyebabkan tidak semua mesin-mesin pabrik siap memproduksi barang dalam jumlah besar dengan waktu yang begitu cepat. Pembatasan pergerakan sosial manusia, yang terjadi di 2020, memang membatasi belanja dan konsumsi rumah tangga. Namun, setelah pandemi covid-19 mulai mereda, mereka beramai-ramai membelanjakan uangnya yang selama ini lebih banyak tersimpan di saku mereka.

Kondisi inilah yang telah memicu terjadinya lonjakan konsumsi yang luar biasa. Selain itu, faktor belum siapnya jaringan supply chain, untuk memasok bahan baku yang dibutuhkan dalam proses produksi dalam waktu cepat, juga menjadi kendala lambannya mesin-mesin pabrik meningkatkan kapasitas produksinya.

Kedua, adanya kelangkaan suplai energi yang terjadi beberapa waktu yang lalu, memaksa pabrik-pabrik harus mengimpor bahan bakar energi dengan harga yang lebih mahal. Pada akhirnya, produsen meneruskan kenaikan biaya produksi itu kepada konsumen pembeli barang. Faktor-faktor di atas telah memicu inflasi yang cukup tinggi, dan bahkan beberapa ekonom memprediksikan kemungkinan munculnya stagflasi.

Kenaikan harga-harga barang dikhawatirkan akan menggerogoti laju pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung. Dengan adanya stagflasi, pertumbuhan ekonomi cenderung menurun, tetapi disertai dengan angka inflasi yang cukup tinggi. Kemungkinan itu sepertinya sangat berlebihan. Namun, bukan berarti potensi terjadinya stagflasi menjadi tertutup sama sekali.

 

Potensi tapering

Memanasnya ekonomi Amerika Serikat mulai telah mengancam laju inflasi di negara tersebut sehingga The Federal Reserve atau The Fed sebagai bank sentral mulai berpikir untuk mengurangi likuiditas di pasar. Perlunya mengurangi likuiditas itu sangat beralasan sekali untuk mengerem melonjaknya konsumsi yang disebabkan karena pemulihan ekonomi telah berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan.

Bank sentral mereka sepakat untuk mengerem aliran likuiditas ke pasar, dengan mengurangi pembelian treasury bonds milik pemerintah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan ke angka yang lebih tinggi, untuk menyedot likuiditas yang berlebihan dari pasar. Oleh karena itu, jalan menuju tapering masih terbuka, dan apabila mereka melakukan tapering, dampaknya sangat luas. Sangat mungkin sekali bank sentral negara-negara lain akan mengikuti langkah The Fed tersebut, dengan menaikkan suku bunga acuannya masing-masing untuk mencegah capital outflow dan menjaga stabilitas sistem keuangan mereka.

 

Munculnya varian baru

Ancaman ketidakpastian yang sangat sulit diprediksi di 2022 ialah munculnya jenis baru dari virus covid-19, yang terus bermutasi membentuk varian-varian baru, seperti varian delta dan omikron. Para epidemiolog tidak serta-merta bisa memastikan keganasan dari varian-varian baru tersebut dengan cepat. Di tengah-tengah masih absennya obat pembunuh virus covid-19 itu, upaya pencegahannya masih mengandalkan vaksinasi.

Muncul pertanyaan baru, seberapa efektifkah vaksin yang sudah ada sekarang ini telah cukup mujarab untuk mencegah penularan dari varian-varian baru tersebut. Mutasi virus covid-19, yang melahirkan varian baru dan tidak bisa diramalkan datangnya, ibaratnya seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Hadirnya varian baru tersebut tidak bisa diremehkan karena bisa mengganggu supply chain, mengancam mobilitas manusia, dan mengurangi konsumsi, yang pada akhirnya akan mengurangi jam kerja dari mesin-mesin pabrik. Satu hal lagi ialah varian baru itu juga bisa memaksa pemerintahan di semua negara menutup kembali perbatasan negaranya lagi seperti di 2020, yang tentunya akan memperburuk situasi.

 

Mengatasi ketidakpastian

Pandemi covid-19 yang terjadi di hampir semua negara telah memberikan sebuah pelajaran berharga bagi kita semua. Pertama, kita tidak siap menerima kehadiran pandemi yang datang begitu cepat sehingga melahirkan resesi ekonomi global. Kedua, berbekal pengalaman tersebut, tentunya kita perlu menata kembali infrastruktur kesehatan global guna mengantisipasi munculnya kembali pandemi-pandemi lainnya. Indonesia yang ditunjuk menjadi presidensi G-20 di 2022 sudah sangat tepat melontarkan solusi mengenai penataan kembali arsitektur kesehatan global.

Ketiga, bauran kebijakan ekonomi makro, yang dilakukan hampir semua negara dalam menghadapi pandemi, telah meninggalkan defisit fiskal yang cukup dalam. Banyak negara harus membiayai dampak pandemi covid-19 dengan membuat utang yang sangat besar karena terbatasnya keuangan mereka. Oleh sebab itu, reformasi kebijakan fiskal perlu segera dimulai secara bertahap, untuk mengatasi utang pemerintah yang semakin menggunung. Momentum pertumbuhan ekonomi yang positif di 2021 dan juga 2022 harus bisa dimanfaatkan untuk memperkuat reformasi fiskal.

Melonjaknya tingkat konsumsi masyarakat yang mendongkrak ekspansi ekonomi, tanpa dibarengi dengan kesiapan faktor supply chain, perlu diatasi dengan kebijakan ekonomi lanjutan. Oleh sebab itu, berkaca dari pelajaran berharga itu, tentunya kebijakan ekonomi makro yang bersifat akomodatif dan responsif tetap diperlukan, guna memastikan momentum pertumbuhan ekonomi global dapat terus berlanjut dan mengurangi potensi ekses negatif yang akan muncul.

Kebijakan ekonomi yang bersifat countercyclical masih perlu terus dipertahankan di 2022, guna memastikan pertumbuhan ekonomi bisa terus berlanjut di jalur yang benar. Momentum pertumbuhan ekonomi positif, yang sekarang berjalan harus terus dijaga dan dipertahankan walaupun pandemi covid-19 belum sepenuhnya berakhir. Pertumbuhan ekonomi positif dan berkelanjutan tersebut sangat dibutuhkan untuk mengembalikan posisi ekonomi dalam kondisi normal seperti sebelum terjadinya pandemi. Di 2021 kemarin, momentum pertumbuhan positif sudah terjadi dan kondisi ini harus terus dilanjutkan di 2022 dengan beberapa cara.

Setiap negara tentu memiliki cara-cara yang berbeda satu dengan lainnya. Kecepatan pemulihan ekonomi antara negara yang satu dan lainnya tidaklah sama. Namun, setidak-tidaknya ada beberapa kebijakan ekonomi makro yang memiliki kesamaan. Pertama, kebijakan fiskal yang bersifat stimulus perlu dipertahankan, untuk mendorong sektor riil kembali bekerja seperti sebelum pandemi terjadi. Kita bisa melihat belum semua sektor industri 100% mengalami pemulihan, masih ada beberapa sektor yang memerlukan dukungan insentif fiskal, agar mereka bisa berlari kencang lagi. Sektor-sektor pariwisata, angkutan, konstruksi, dan otomotif merupakan beberapa contoh yang masih belum pulih sepenuhnya sehingga perlu dukungan dari pemerintah.

Kedua, kebijakan moneter longgar, juga perlu dilanjutkan agar likuiditas tetap melimpah di pasar. Tujuannya sangat jelas, agar kredit dan pembiayaan terus mengucur baik ke pelaku usaha maupun mendorong konsumsi masyarakat. Tanpa dukungan likuiditas yang cukup di pasar, sangat sulit bagi para pelaku usaha untuk menggerakkan mesin-mesin pabriknya dengan cepat. Sebaliknya, bagi negara-negara maju yang saat ini sedang mengalami booming ekonomi, disertai dengan lonjatan angka inflasi, tentunya sudah saatnya mulai mengurangi likuiditas sedikit demi sedikit, guna mencegah terjadinya stagflasi.

Ketiga, pemberian vaksinasi ketiga atau booster, harus mulai dijalankan bagi negara-negara yang telah melaksanakan vaksinasi secara lengkap, untuk mempertahankan herd immunity masyarakat. Fakta menunjukkan per 30 Desember 2021 kemarin, baru sebanyak 3,77 miliar manusia yang sudah mendapatkan vaksinasi dua kali, artinya baru 48,3% saja dari seluruh populasi dunia. Oleh karenanya, negara-negara maju harus memberikan vaksin gratis lebih banyak lagi kepada negara-negara miskin yang tidak sepenuhnya mampu membeli vaksin. Tidak meratanya vaksinasi tersebut menyebabkan ketimpangan dan sulitnya menghentikan penyebaran varian baru dari covid-19.

 

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

 

BERITA TERKAIT