03 January 2022, 05:10 WIB

Memasuki 2022 dengan Memacu Riset Nasional


Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair | Kolom Pakar

BARU saja kita meninggalkan 2021 dan memasuki 2022. Kita semua berharap semoga pandemi covid-19 bisa semakin terkendali, ekonomi tumbuh merata, dan kita raih kemajuan di semua bidang. Kita juga berharap agar para akademisi dan ilmuwan terus melakukan riset di segala bidang untuk mengatasi ketertinggalan kita.

Riset ialah fondasi kemajuan bangsa dan salah satu benchmark kemajuan riset ialah pencapaian hadiah Nobel. Meraih hadiah Nobel ialah kehormatan besar bagi ilmuwan, satrawan, dan pejuang kemanusiaan. Sejauh ini, untuk penghargaan Nobel untuk bidang fisika, kimia, biologi, kedokteran, dan ekonomi selalu didominasi ilmuwan dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS). Baru belakangan, mulai disusul ilmuwan dari negara Asia yang maju, seperti Jepang, Korea Selatan (Korsel), atau Israel.

Sejak pertama kali 1902 sampai 2018, hadiah Nobel sudah diberikan kepada 904 individu dan 24 organisasi. Tercatat, ada 59 orang Asia yang memenangi Nobel, yakni Jepang mendominasi dengan 29 orang, Israel 12 orang, India 9 orang, Tiongkok 8 orang. Fisikawan India Chandrasekhara Venka Rahman, menjadi ilmuwan Asia pertama yang memenangi Nobel Fisika 1930.

Untuk Nobel Fisika, Jepang menempatkan 9 ilmuwannya, disusul Tiongkok 2 orang, India dan Pakistan masing-masing 1 orang. Hebatnya, Pakistan, negara yang selama ini iklim politiknya tidak stabil, dapat menempatkan fisikawannya, Abdus Salam, memenangi Nobel Fisika 1979. Abdus Salam ini dikenal sebagai Bapak Nuklir yang menjadikan Paskistan memiliki senjata nuklir.

Untuk Nobel Kimia, Jepang juga mendominasi dengan menempatkan 8 pemenang. Disusul Israel menempatkan 6 pemenang, Taiwan dan Turki masing-masing 1 orang. Untuk Nobel Kedokteran, Jepang lagi-lagi mendominasi dengan 5 pemenang, disusul Tiongkok 1 orang. Untuk Nobel Ekonomi, India dan Israel sama-sama menempatkan 2 pemenang.

Untuk Nobel Sastra, Jepang menempatkan 2 pemenang, disusul India, Turki, dan Tiongkok dengan masing-masing 1 pemenang. Pujangga India terkenal Rabrindranath Tagore menjadi orang Asia pertama yang memenangi Nobel Sastra 1913.

Menariknya, Nobel Perdamaian penyebarannya lebih merata. Nobel Perdamaian bukanlah penilaian terhadap hasil riset ilmuwan, tetapi penghargaan pada tokoh yang dinilai memberikan sumbangan pada upaya perdamaian dunia. Karena itu, kebanyakan pemenangnya ialah tokoh pejuang kemerdekaan, pejuang hak asasi manusia (HAM), pejuang kemanusiaan, demokrasi, kebebasan pers, dan sebagainya.

Termasuk di sini kepala negara yang bersedia menjalin perdamaian dengan bekas musuhnya. Sejauh ini, Nobel perdamaian dimenangi tokoh dari Vietnam, Jepang, India, Israel, Tibet, Palestina, Iran, Irak, Timor Leste, Myanmar. Lalu, Korsel, Filipina, Bangladesh, Tiongkok, Yaman, dan Pakistan. Namun, ada satu orang yang di luar mainstream, yaitu seorang pelopor kredit murah bagi kaum miskin di Bangladesh, Muhammad Yunus.

Hebatnya, Israel yang dikenal sebagai negara kontroversial, menempatkan tiga perdana menterinya sebagai pemenang Nobel. Timor Leste menempatkan dua orang, pejuang kemerdekaan Jose Ramos Horta dan Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo. Sayangnya, orang Indonesia belum ada yang mampu meraih Nobel.

 

Kapan ilmuwan kita menembus Nobel?

Banyak yang mengatakan, Nobel ialah mimpi yang masih terlalu jauh untuk ilmuwan Indonesia saat ini. Ekosistem, budaya riset, kelembagaan, dan dukungan dana pemerintah belum maksimal. Ilmuwan kita masih terbenam dalam kungkungan birokrasi dan kerumitan prosedur administrasi dan pelaporan keuangan sehingga masih sulit untuk bisa menghasilkan riset kelas dunia yang potensial dinominasikan Nobel.

Ujung tombak riset dan inovasi, ada di perguruan tinggi dan pusat-pusat riset di luar perguruan tinggi, seperti di perusahaan swasta, lembaga riset nasional (Badan Tenaga Nuklir Nasional / Batan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, dll), atau di industri militer.

Ekosistem dan budaya riset yang dibangun pada lembaga-lembaga inilah yang akan menjadi pemacu kemajuan. Masih minimnya anggaran riset dan pengembangan pada lembaga-lembaga yang dikelola pemerintah dengan dana APBN, secara umum menunjukkan masih rendahnya dukungan pemerintah. Para ilmuwan, akademisi, dan periset sekarang ini mayoritas ialah aparatur sipil negara (ASN), yang meriset dengan dana APBN. Prosedur administrasi dan pelaporan keuangan riset jauh lebih rumit daripada substansi risetnya.

Periset sering kali pusing memikirkan pelaporan keuangannya agar tidak menjadi temuan pemeriksaan dan kurang fokus pada substansi risetnya. Masih kita ingat kejadian sekian tahun lalu, ada beberapa pakar yang diajak Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan untuk merancang purwarupa mobil listrik. Purwarupanya jadi, tapi para pakar yang merancang pada akhirnya tersangkut kasus hukum, dengan tudingan menyalahgunakan dana negara.

Kerumitan pelaporan keuangan ialah salah satu momok yang ditakuti periset. Di ranah kelembagaan, banyak sekali tumpang-tindih dan duplikasi riset dengan topik yang sama, yang terjadi pada puluhan atau mungkin ratusan lembaga pemerintah. Ada lagi yang mengatakan banyak produk riset kita yang hanya mandek di laporan prosiding. Itu karena tidak terkait dengan mata rantai kebutuhan riil di sektor industri.

 

Berkaca pada Jepang

Negara-negara Eropa dan AS sudah membangun budaya dan ekosistem riset sejak ratusan tahun lalu, yang membuatnya menjadi maju dan unggul. Sementara itu, Jepang menjadi negara Asia paling maju sejak Restorasi Meiji di akhir 1860-an.

Sejak Restorasi Meiji, Jepang terus mengejar kemajuan. Sebagian besar inovasi di Jepang ialah usaha untuk mengatasi keterbatasan negaranya, seperti minimnya sumber daya alam (SDA) dan rawan bencana alam. Maka, Jepang menjadi ekspansionis untuk mencari bahan baku dan bahan bakar bagi mesin industrialisasinya.

Jepang mengejar teknologi industri militernya sehingga memiliki angkatan bersenjata yang sangat kuat hingga bisa mengalahkan Rusia pada 1905. Menjelang Perang Dunia II, Jepanglah satu-satunya negara Asia yang memiliki industri otomotif dan militer yang bisa memproduksi kapal perang, kapal induk, pesawat tempur dan artileri, hingga nekat berani menyerang Pearl Harbour milik AS.

Setelah kalah karena dibom AS, Jepang dengan cepat mengejar riset dan inovasi. Bangkit lagi, hingga kembali menjadi negara maju yang menguasai dunia bukan lewat invasi militer, melainkan lewat produk kemajuan teknologinya. Disiplin dan mental baja menjadi unggulan budaya Jepang. Kereta api cepat Shinkansen, misalnya, sejak diresmikan 1964 hingga sekarang nyaris tidak ada kecelakaan yang serius. Rata-rata keterlambatannya juga hanya 36 detik.

Walaupun dalam dua dekade terakhir ini posisi Jepang dikejar Tiongkok dan Korea Selatan, hal ini tidak mengubah posisi Jepang sebagai negara pusat penelitian dunia. Jepang meningkatkan kolaborasi internasional melalui sektor pendidikan tingginya. Termasuk meningkatkan minat mahasiswa internasional untuk berkuliah di universitas ternama Jepang, seperti University of Tokyo, Kyoto University, dan Tokyo Institute of Technology.

Saat ini, telah dibuat program studi berbahasa Inggris di berbagai universitas untuk mengatasi permasalahan bahasa, masalah yang sering menghambat kolaborasi internasional di Jepang. Sampai dengan saat ini, publikasi di bidang kesehatan yang terdaftar di National Library of Medicine milik AS (PUBMED), dengan satu atau lebih author terafiliasi dengan universitas Jepang atau menyangkut topik mengenai Jepang ada lebih dari 1,4 juta publikasi atau 40 kali lebih banyak ketimbang Indonesia.

 

Korea Selatan dan Israel

Sejak akhir abad ke-20, Korea Selatan menyusul kemajuan Jepang. Merek Korsel seperti Samsung, Hyundai, KIA, Daewoo ialah contoh merek yang sudah mendunia, mengiringi budaya K-pop yang menyebar ke berbagai negara.

Demikian juga dengan Israel, negara kecil di Timur Tengah yang dikelilingi negara-negara Arab, menjadi negara yang paling unggul ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)-nya. Israel merupakan negara ranking kelima pada Bloomberg Innovation Index, yang mengukur performa penelitian dan pengembangan teknologi global. Israel, secara peringkat bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan AS yang berada di urutan keenam. Padahal, Israel relatif minim SDA, dan populasinya juga hanya 9 juta orang, lebih sedikit dari populasi penduduk Jakarta yang mencapai 10 juta an orang di 2020.

Israel menjalin kemitraan yang kuat dengan AS. Banyak perusahaan asal AS dan multinasional ternama, yang membuka cabang riset dan pengembangan mereka di Silicon Wadi di Israel, seperti Intel, Apple, Microsoft, Medtronic, Philips, IBM, Cisco, Google, HP, Oracle, GE, Qualcomm, Motorola, dan sebagainya.

Forbes menyebut kesuksesan Israel ini tidak lepas dari pola pikir, mentalitas dan moral dari warganya. Mereka telah bertahun-tahun terlatih untuk mempertahankan tanah mereka dalam keterbatasan ekonomi dan SDA, memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) mereka melalui pendidikan tinggi, dan penggunaan bahasa Inggris yang luas. Di bidang kedokteran, lebih dari 1.000 perusahaan telah mengekspor lebih dari US$6 miliar obat-obatan dan alat-alat medis.

Riset dan pengembangan tidak hanya dilakukan di perusahaan, tapi juga di universitas, pusat penelitian milik pemerintah dan swasta, rumah sakit, dll. Lebih dari 80% penelitian layak publikasi Israel bersumber dari universitas. Dana penelitian mayoritas (>50%) berasal dari pemerintah dan organisasi publik yang dialokasikan secara nasional dan melalui masing-masing universitas lewat General University Fund, yang diberikan Council of Higher Education (kalau di Indonesia Kementerian Pendidikan Tinggi/Kemendikti).

Dana penelitian juga dikelola Israel Science Foundation (ISF), badan independen yang mendanai penelitian yang sifatnya kompetitif. Per tahun, ISF sebagai sumber utama pendanaan penelitian dasar mengalokasikan US$60 juta untuk mendanai lebih dari 1.300 grants dan lebih dari 10 ribu ahli dari dalam dan luar negeri dilibatkan, untuk menilai kualitas proposal yang diajukan.

Demikianlah sekilas beberapa contoh negara Asia yang sukses membangun ekosistem dan budaya risetnya sehingga bisa menjadi negara maju dan ilmuwannya banyak meraih Nobel.

Bagaimana peluang Indonesia? Apakah SDA, SDM, ekosistem, dan budaya riset kita bisa mendukung ke arah pencapaian ke arah Nobel? Pasti banyak pihak akan menganggap ini mimpi di siang hari. Di Indonesia terlalu banyak lembaga yang melakukan riset, tapi hasilnya masih minim. Kelembagaan, dan pekerjaan riset tidak hanya dimiliki oleh perguruan tinggi, tetapi juga dimiliki tiap kementerian dan lembaga negara.

Di sebuah kementerian, misalnya, pekerjaan riset tidak hanya ditangani litbang. Bisa dikatakan semua direktorat di bawah Dirjen, juga Setjen, tiap tahun menganggarkan kegiatan penelitian, kajian, riset, dan semacamnya sejak masih di Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKAKL) hingga sudah berwujud daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA), lengkap dengan alokasi anggarannya.

Belum lagi, pusat-pusat riset, seperti LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT, Batan, perguruan tinggi, juga lembaga riset di lingkungan TNI/Polri, dan masih banyak yang lain. Dengan demikian, ada ribuan lembaga riset, ada ratusan ribu pekerja riset, tapi tidak ada payung besar yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan semuanya.

Kita tahu, mayoritas dari ratusan ribu riset dengan dana APBN itu lebih bersifat sebagai proyek. Bahkan, duplikasi proposal hingga hasil riset, dengan hanya dengan mengganti judul riset adalah hal yang biasa. Dengan gambaran seperti ini, mungkinkah ilmuwan kita bisa mencapai Nobel?

 

BRIN dan tantangannya

Pada 28 April 2021, pemerintah memecah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristek-Dikti). Diktinya dicopot, dan digabungkan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Sementara itu, risetnya dimasukkan ke wadah baru, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama antara lain LIPI, Batan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional/Lapan, dan badan-badan riset yang sebelumnya bernaung di bawah beberapa kementerian. Dengan demikian, BRIN menjadi lembaga super body di bidang riset dan inovasi.

Dengan anggaran Rp26 triliun, BRIN diharapkan bisa memacu riset dan inovasi sehingga bisa mengejar kemajuan negara seperti Korsel. Tentu saja ini mimpi besar, yang pasti akan menghadapi banyak tantangan. Kemampuan mengejar kemajuan ini, tidaklah semata karena besarnya anggaran riset. Namun, juga tergantung pada kesiapan SDM dan etos kerjanya, infrastruktur, dan yang tak kalah penting ialah membangun ekosistem dan budaya riset.

Jika BRIN mampu mengelola tantangan di atas dengan baik, diharapkan dapat menjadi fondasi yang bagus untuk membawa Indonesia yang lebih maju. Keluhan para akademisi dan periset kita yang selama ini sering direpotkan dengan urusan administrasi pertanggungjawaban keuangan daripada substansi risetnya, semoga dapat diurai BRIN. Mari kita memasuki 2022 dengan tekad terus membangun ekosistem dan budaya riset yang unggul dan kompetitif demi meraih Indonesia yang lebih maju.

 

BERITA TERKAIT