14 June 2021, 05:00 WIB

Pengendalian Peningkatan Kasus Covid-19


Tjandra Yoga Aditama Guru Besar FKUI, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes | Kolom Pakar

ANGKA kasus covid-19 di Indonesia dalam hari-hari ini terus bergerak naik. Menteri Kesehatan bahkan menyampaikan bahwa puncak kasus mungkin baru akan terjadi pada akhir bulan Juni ini dan kasus mungkin masih akan tinggi pada Juli mendatang. Tentu, kita mengharapkan bahwa peningkatan kasus tidaklah akan berlebihan dan tetap dapat dikendalikan. Kalau toh nanti akan naik, tentu perlu dilakukan upaya maksimal agar kasus dapat diturunkan dengan cepat, agar tidak mengambil korban terlalu banyak.

Untuk itu, perlu dilakukan persiapan untuk mengantisipasi kenaikan kasus dan upaya-upaya yang perlu dilakukan yang harus disiapkan sejak sekarang. Tentu, kita dapat juga melihat pengalaman negara lain yang menghadapai masalah serupa.

Dalam hal ini, kita mengetahui bahwa kasus harian covid-19 di India pernah naik amat tinggi, dari 9.121 kasus pada 15 Februari 2021 melonjak naik lebih 40 kali lipat, menjadi 414.188 kasus sehari pada 6 Mei 2021. Keadaan India ketika itu cukup memprihatinkan dan menjadi perhatian dunia, termasuk kita di Indonesia.

Sesudah kenaikan yang amat tinggi dalam waktu 2-3 bulan saja, berbagai upaya maksimal dilakukan di India dan angka kasus baru terus turun dengan tajam. Data pada 11 Juni 2021 menunjukkan 84,332 kasus baru dalam seharinya turun lima kali lipat dalam waktu sebulan saja.

Setidaknya ada tiga hal yang dilakukan India untuk menurunkan jumlah kasus dengan waktu relatif cepat ini dan tiga hal ini memang merupakan kaidah umum mengendalikan peningkatan kasus yang tinggi. Sebagian dari upaya ini mungkin dapat dipertimbangkan dilakukan di negara kita apabila diperlukan.

 

Pembatasan kegiatan sosial

Upaya pengendalian pertama tentu memutus mata rantai penularan di masyarakat. Kalau kembali kita ambil ilustrasi di India, begitu kasus meningkat tajam, maka beberapa daerah/negara bagian di India melakukan berbagai tingkat pembatasan sosial.

Ada yang sebagian dengan amat memperketat 3M (yang di India disebut dengan 3W, wear a mask, wash your hand, watch the distance), ada yang membatasi kegiatan dengan pemberlakuan jam malam, dan ada juga yang lockdown penuh sampai beberapa waktu. Kegiatan ini jelas memberi dampak penting pada penurunan kasus karena kontak antarorang menjadi terbatas sehingga penularan di masyarakat dapat ditekan.

Analisis data lengkapnya dilakukan dalam bentuk Movement Restriction and Mobility Change, yang menghubungkan pola pergerakan penduduk pada saat pembatasan kegiatan (bahkan sampai lockdown) dengan penurunan jumlah kasus dari hari ke hari. Suatu analisis yang tentu baik dilakukan di berbagai daerah kita, yang sedang mengalami peningkatan kasus cukup tinggi.

Ketika jumlah kasus mulai terkendali di India, pembatasan kegiatan mulai dilonggarkan secara bertahap. Ibu Kota India New Delhi misalnya, mulai menerapkan lockdown total pada 17 April 2021 dan lalu dalam 1,5 bulan mengendalikan kasus dengan cukup baik.

Pada 31 Mei 2021 penerintah New Delhi mulai melakukan pelonggaran dalam bentuk unlocking process, yakni pekerjaan konstruksi bangunan dan pabrik mulai dibuka sehingga buruh harian mulai dapat bekerja kembali. Ini menunjukkan perhatian aspek ekonomi pada mereka yang amat terdampak, yaitu yang mendapat upah harian yang pekerjaan dan penghasilannya berhenti ketika lockdown total.

Lalu, tahap berikutnya dimulai seminggu kemudian, yaitu pada 7 Juni 2021, yakni beberapa kegiatan sudah boleh dilakukan. Toko-toko di mal dan pasar mulai dibuka bergiliran, sebagian buka di tanggal genap dan sebagian lain buka di tanggal ganjil saja, dan sementara hanya buka sampai pukul 20.00 saja.

Transportasi umum utama Kota New Delhi, yaitu kereta Delhi Metro mulai beroperasi dengan kapasitas 50%. Kantor-kantor swasta baru boleh bekerja dengan 50% staf saja, sementara kantor pemerintah ada yang bekerja dengan 50% staf dan ada juga yang harus bekerja semua, khususnya yang melayani publik. Yang masih tetap harus tutup ialah bioskop, teater, serta tempat hiburan lain, tempat kebugaran, salon kecantikan, cukur rambut, spa, dan yang sejenisnya. Dalam perkembangan waktu nantinya, tentu proses pelonggaran (unlock) ini akan disesuaikan dengan situasi epidemiologi yang ada.

Mekanisme lockdown dan unlock seperti di New Delhi ini menunjukkan bagaimana dinamika lapangan akan amat memengaruhi kebijakan publik yang diambil dan ini memang merupakan kaidah umum yang biasa dipakai dalam penanggulangan wabah.

Salah satu parameter yang menjadi patokan ialah analisis indikator risiko covid-19 yang menghubungkan antara tingkat penularan di masyarakat dan kemampuan respons di lapangan, seperti juga digariskan oleh World Health Organization (WHO). Kita juga sepatutnya juga melakukan analisis indikator risiko ini dengan amat tajam. Berdasar bukti ilmiah yang valid, apa pun keputusan yang akan diambil memang betul-betul berbasis bukti (evidence-based decision making process).

 

Tes dan vaksinasi

Hal kedua yang dilakukan di India ialah meningkatkan jumlah tes secara amat bermakna. Pada Februari 2021 sebelum ada peningkatan kasus, jumlah tes yang dilakukan per hari pernah berkisar antara 700 dan 800 ribu.

Begitu ada peningkatan kasus, jumlah tes dinaikkan secara amat besar-besaran dan mencapai lebih dari 2 juta tes seharinya pada Mei 2021. Kita tahu bahwa kalau dilakukan tes dengan amat masif, kita akan menemukan semua, atau setidaknya sebagian besar, orang yang positif covid-19.

Mereka yang positif ini lalu ditangani dan diisolasi sehingga tidak menularkan kepada orang lain. Artinya, rantai penularan dapat diputuskan. Kalau jumlah tes masih terbatas, akan masih banyak anggota masyarakat yang positif covid-19 yang tidak diisolasi dan terus menularkan penyakit ke lingkungan disekitarnya sehingga pandemi tetap tidak terkendali.

Dalam hal ini, amat penting untuk kita menjaga jumlah tes di negara kita dapat terus ditingkatkan di semua daerah. Kalau angka nasional sudah cukup baik misalnya, ini dapat saja terjadi karena ada sebagian daerah yang amat tinggi jumlah tes nya, sementara daerah lain masih kurang. Jadi, semua daerah harus meningkatkan jumlah tes nya dan melakukan penelusuran kontak (tracing) dengan maksimal, apalagi pada keadaan peningkatan kasus pascaliburan sekarang ini.

Hal ketiga yang juga amat ditingkatkan di India ialah jumlah vaksinasi. Sebelum peningkatan kasus pada Februari 2021, baru kurang dari 1% penduduk India yang divaksin. Begitu ada peningkatan kasus, India memaksimalkan jumlah vaksinasi bagi rakyatnya secara amat besar-besaran dan jumlahnya meningkat amat tajam hampir 15 kali lipat dalam 4 bulan sehingga pada 11 Juni 2021 sudah ada 14,31% rakyat India yang sudah divaksin dengan jumlah hampir 250 juta dosis. Sehari dapat sampai 3 juta orang yang divaksin.

Dalam rangka meningkatkan jumlah vaksinasi ini, India menggunakan semua produksi vaksinnya untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu dan mereka juga membuka luias kemungkinan mendapat tambahan vaksin dari negara produsen lainnya. Kebijakan terbaru di India ialah sejak 21 Juni 2021 maka setiap orang di India di atas usia 18 tahun akan mendapat vaksinasi.

Pemerintah kita juga tentunya terus berupaya meningkatkan jumlah vaksinasi dan direncanakan akan dapat memvaksin sampai 1 juta orang dalam seharinya, mudah-mudahan dapat terlaksana. Tentu masih banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya ialah cakupan pada lansia ita masih relatif rendah. Padahal, risiko sakitnya jauh lebih tinggi.

Untuk terus meningkatkan cakupan vaksinasi, setidaknya ada empat upaya yang dapat dipertimbangkan. Pertama, tentu bagaimana mendapat jaminan bahwa vaksin akan tersedia sepanjang tahun. Pemerintah harus terus berupaya melakukan dipolomasi kesehatan maksimal untuk mendapat vaksin dari pasar dunia, sambil juga terus mengupayakan penelitian untuk produksi dalam negeri.

Kedua ialah upaya memperluas lokasi vaksinasi. Semua rumah sakit, puskesmas, dan klinik yang sudah biasa melakukan vaksinasi pada anak selama ini dapat diperasionalkan untuk menjadi tempat vaksinasi covid-19, tentu dengan manajemen persiapan yang baik. Kalau ini dilakukan, itu akan amat mempermudah masyarakat yang akan di vaksin, bukan saja karena jumlah tempat di vaksin jadi lebih banyak, tapi juga akan lebih dekat dari rumah dan atau tempat kerja masyarakat.

Tentu akan baik juga, kalau vaksinasi juga dilakukan di tempat umum seperti mal dll, yang tampaknya sudah direncakanan juga. Upaya ke tiga ialah segera melonggarkan vaksin untuk semua usia di atas 18 tahun, tentu saja kalau hal pertama di atas tentang jaminan ketersediaan memang sudah terpenuhi.

Upaya keempat ialah pelayanan untuk Kejadian Ikutan Pasca-Imuniasai (KIPI) harus terjamin penuh. Kalau ada keluhan sesudah divaksin, perlu diberi prioritas pelayanan penting. Di sisi lain maka juga baik kalau secara berkala disampaikan laporan keadaan KIPI secara rinci, baik untuk konsumsi masyarakat luas maupun juga dipublikasikan di jurnal ilmiah.

 

Covid orphans

Selain pembatasan sosial, peningkatan jumah tes dan vaksinasi maka tentu upaya yang lebih hilir juga dilakukan, yaitu menyediakan fasilitas perawatan bagi mereka yang sakit, beserta obat dan alat kesehatannya. Kita ketahui bahwa ketika jumlah kasus sedang tinggi-tingginya maka cukup banyak kasus meninggal di India, termasuk beberapa orang kenalan saya sewaktu saya bertugas di kantor WHO Asia Tenggara di New Delhi. Hari-hari, ini yang banyak dibahas ialah anak-anak yang terpaksa kehilangan ayah dan ibunya yang meninggal karena covid-19, dan mereka disebut Covid orphans.

Menurut berita CNN yang di-update 12 Juni 2021, data pemerintah menyebutkan setidaknya ada 577 anak India yang kedua orang tuanya meninggal karena covid-19 dalam periode waktu antara 1 April sampai 25 Mei 2021. Beberapa lembaga swadaya masyarakat setempat menduga angkanya jauh lebih besar lagi. Beberapa pihak menyebut hal ini sebagai dampak membekas yang amat menyedihkan akibat pandemi ini atau tragic legacy of India's pandemic.

Pandemi memang memorakpandakan dunia kita, bukan hanya dampak epidemiologi, kesehatan masyarakat, sosial ekonomi, transportasi, politik dll, tetapi juga menyentuh aspek humanisme yang dalam seperti halnya anak-anak yang terpaksa menjadi yatim, piatu atau bahkan yatim piatu, dan menjalani kehidupan selanjutnya tanpa orang tuanya yang meninggal karena covid-19. Marilah kita terus berupaya maksimal untuk mengendalikan pandemi ini, di negara kita dan juga di dunia.

BERITA TERKAIT