10 May 2021, 05:00 WIB

Antisipasi Kasus Covid-19 Pascalibur Lebaran


Tjandra Yoga Aditama Guru Besar FKUI, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara serta Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes | Kolom Pakar

HARI-HARI ini banyak dibicarakan tentang berbagai kemungkinan kerumunan massa dalam liburan kali ini, yang bukan tidak mungkin memicu kenaikan kasus covid-19. Pengalaman sebelumnya menunjukkan, sesudah tiap liburan panjang, di negara kita selalu ada peningkatan kasus dan bahkan pernah cukup tinggi sampai lebih dari 14 ribu kasus baru per hari dan membuat pelayanan kesehatan cukup kewalahan.

Hal seperti ini juga terjadi di negara-negara lain. Kalau berkaca dari kejadian di India misalnya, selain ada beberapa faktor lain seperti melemahnya kepatuhan pada protokol kesehatan serta adanya varian dan mutasi baru, berbagai kejadian pengumpulan massa yang besar di negara itu diduga menjadi salah satu faktor pentingnya kenaikan kasus sampai 40 kali lipat lebih tinggi walaupun tadinya India sudah berhasil menurunkan kasusnya 10 kali lipat lebih rendah.

Sejak awal 2021, di India ada kegiatan pemilihan umum di beberapa negara bagian, yang tentu melibatkan banyak orang, juga pasar sudah kembali penuh, dan juga ada beberapa acara keagamaan dan adat budaya pula. Di negara kita belum lama ini media juga diramaikan dengan berita penuhnya orang di pasar-pasar dan mal. Kita juga mengetahui aturan larangan mudik di satu sisi dan anggota masyarakat yang juga tetap bepergian sebelum masa larangan mudik, atau berbagai kemungkinan lainnya.

Di tambah lagi, kemungkinan kegiatan wisata di hari-hari libur dalam minggu ini yang kendati dijaga aturan protokol kesehatannya, tetapi bukan tidak mungkin memang ada potensi kerumunan massa. Semua kegiatan ini memang perlu diantisipasi sebagai kemungkinan kenaikan kasus covid-19, dalam beberapa minggu mendatang. Sesuatu yang tentunya tidak kita harapkan terjadi dan harus dicegah serta diwaspadai.

 

Pencegahan

Ada tiga hal utama yang dapat kita lakukan dalam beberapa hari ini, untuk mencegah kemungkinan kenaikan kasus yang tidak terkendali. Pertama tentu ialah pengaturan ketat beserta implementasinya.

Kita sudah ketahui, adanya larangan mudik sesuai Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik, pada Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah, yakni selama 6-17 Mei 2021, yang kemudian dilakukan addendum yang mengatur aturan perjalanan yang dimulai 22 April sampai 24 Mei 2021.

Dalam implementasinya, antara lain, dilakukan pembatasan operasional kendaraan umum dan juga pemeriksaan, penyekatan di daerah tertentu. Kita masih harus melihat nanti, bagaimana hasil aturan ini dan implementasinya, serta peran kita semua untuk tidak perlu mudik dulu tahun ini, yang kita harapkan dapat mencegah terjadinya penularan di masyarakat di kampung halaman, dan juga pada sepanjang perjalanan.

Kita ketahui juga, sudah ada Surat Edaran Menteri Agama, Nomor 07 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Salat Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah/2021 di saat pandemi covid-19. Disebutkan bahwa edaran ini mengatur kegiatan malam takbiran dan salat Idul Fitri yang diselenggarakan di masjid dan lapangan terbuka.

Kita harapkan implementasinya akan berjalan baik pula dalam beberapa hari ini. Di pihak lain, juga sudah ada aturan tentang penggunaan objek wisata lokal pada saat libur Lebaran kali ini. Dari pengalaman yang lalu, tidak semua aturan di tempat wisata dapat dipatuhi. Pengelola tempat hiburan terkadang tidak cukup disiplin, pengunjung datang melebihi kapasitas yang diperbolehkan, serta penggunaan masker dan keharusan menjaga jarak tidaklah dipatuhi. Ini sangat kita sayangkan. Apalagi, sudah beberapa kali terjadi.

Tentu kita berharap, kali ini kita semua dapat menjaga diri dengan lebih baik, agar jangan sampai terjadi kerumunan tidak terkendali di berbagai objek wisata, di berbagai tempat di negara kita. Perlu juga dijaga, agar jangan lagi ada kerumunan tidak terkendali, di pasar dan mal dalam pekan ini.

Aspek pencegahan ke dua, yang justru paling utama, ialah membangun kesadaran di kita semua, para anggota masyarakat bahwa upaya 3M beserta upaya lain ialah amat bermanfaat untuk kita sendiri. Dengan menerapkan pemakaian masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilisasi, akan melindungi diri kita dari kemungkinan tertular covid-19, dan juga melindungi keluarga serta orang terdekat yang kita cintai.

Karena itu, marilah kita selalu menerapkan protokol kesehatan demi kita sendiri, bukan semata-mata mengikuti aturan yang ada. Dalam masa liburan mendatang ini, memang jelas anjurannya ialah agar lebih baik di rumah saja. Kita dapat melakukan berbagai kegiatan bersama keluarga di rumah, bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga. Melakukan komunikasi secara virtual dengan kerabat di daerah lain, belanja dari rumah, memasak bersama, atau memesan makanan misalnya, dan berbagai kegiatan lain.

Terbinanya kedekatan hubungan dalam keluarga bukan saja akan membuat bahagia. Namun, kedekatan emosional juga secara tidak langsung akan meningkatkan daya tahan kita terhadap berbagai penyakit, termasuk covid-19 tentunya. Ingat sekali lagi, semua ini ialah demi kita sendiri, demi keluarga, dan orang-orang yang kita cintai.

Upaya pencegahan ke tiga ialah kalau-kalau saja karena berbagai sebab dan alasan, kita harus terpaksa berada di luar rumah, apalagi kalau dalam suatu bentuk kumpulan orang. Laman WHO yang diperbarui pada 4 Mei 2021 menyampaikan, secara umum tiga anjuran yang seyogianya dilakukan kalau seseorang harus berada bersama anggota masyarakat lain.

Pertama, tetaplah patuh untuk jaga jarak, sedikitnya 1 meter dengan orang lain di sekitar kita, atau lebih dari itu lebih baik lagi khususnya bila kita berada di dalam ruangan. WHO menyebutnya sebagai ‘farther away from others safer than close together’. Ini tentu maksudnya untuk mencegah penularan, karena bukan tidak mungkin di sekitar kita ada yang batuk, bersin, atau bernyanyi/berbicara keras. Kita ketahui sudah ada laporan penularan di Amerika Serikat di suatu ruangan tertutup setelah latihan paduan suara, atau kejadian di negara kita ada satu orang yang sakit dan batuk-batuk lalu membuat beberapa orang yang berdekatan dalam satu ruangan menjadi tertular, serta banyak contoh-contoh lain.

Kedua, laman WHO ini menuliskan ‘open air spaces safer than enclosed spaces’, yang secara jelas mengungkapkan kalau toh harus berkumpul, memang akan jauh lebih baik kalau dilakukan di udara terbuka saja karena mungkin penularan jadi lebih kecil. Kalau betul-betul terpaksa harus di dalam ruangan, anjurannya ialah jendela dibuka agar ada ventilasi terbuka dengan udara luar. Kalau ruangan itu didesain memang tidak ada jendela terbuka, perlu dilakukan pengaturan sistem udara dengan baik dengan menerapkan tehnologi sirkulasi udara dengan tepat, juga harus dijamin jumlah orang dalam ruangan tidaklah terlalu penuh.

Ketiga, WHO dalam hal ini ialah mengurangi lamanya waktu harus berada dalam ruangan tertutup bersama orang lain, yang jelasnya disebut “shorter time periods with others are safer”. Tentu saja lebih pendek waktu seseorang dalam kerumunan, akan lebih kecil kemungkinan tertular covid-19, dan kalau berlama-lama, makin besar kemungkinan penularannya. Akan jauh lebih baik agar kalau memang terpaksa harus berada dalam kerumunan, direncanakan sejak awal tentang apa yang akan dilakukan sehingga dalam waktu singkat dapat diselesaikan dan kembali ke rumah.

Ke tiga anjuran ini tentu harus dijalankan sejalan dengan penggunaan masker yang tepat dan baik. Baik jenis maskernya maupun cara memakainya, serta selalu menerapkan kebiasaan mencuci tangan, baik dengan air mengalir dan sabun maupun dengan menggunakan hand sanitizer.

 

Antisipasi

Sesudah melakukan tiga upaya pencegahan di atas secara maksimal, kita berharap agar peningkatan kasus yang mungkin terjadi tidaklah terlalu besar, sekali lagi kalau upaya pencegahan dapat berjalan dengan baik. Namun, bagaimanapun kita tentu perlu siap-siap antisipasi kalau peningkatan kasus memang terjadi.

Ada tiga hal yang perlu disiapkan sejak sekarang untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan kasus. Pertama, tentu kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, baik tenaga kesehatan, ketersediaan ruang perawatan, peralatan kesehatan, maupun sistem rujukan yang cermat.

Kini sebagian rumah sakit sudah mengalihkan bangsal isolasi covid-19 untuk mengatasi pasien dengan penyakit lain. Hal ini punya dua aspek, pertama ini baik dilakukan karena memang walaupun sekarang sedang pandemi covid-19, penyakit-penyakit lain tetaplah perlu ditangani. Dan bukan mungkin agak terbengkalai waktu fasilitas perlayanan kesehatan berkonsentrasi penuh menangani lonjakan kasus covid-19 yang lalu.

Namun, di pihak lain, harus ada sistem kesiapan segera untuk mengubah kembali bangsal itu menjadi bangsal isolasi covid-19 kalau-kalau diperlukan. Walaupun tidak kita harapkan, bukan tidak mungkin perlu dicek kesiapan kalau-kalau diperlukan bangsal perawatan darurat, katakanlah dalam bentuk tenda misalnya.

Ketersediaan alat kesehatan dan obat juga perlu disiapkan sejak sekarang, paling tidak tentu sudah diketahui bagaimana jumlah yang tersedia sekarang dan bagaimana upaya memperoleh tambahan secara cepat kalau-kalau nanti diperlukan. Kesiapan petugas kesehatan juga harus dianalisis dengan amat cermat, orang per orang, serta persiapan untuk menjamin keamanan petugas dalam bekerja harus terjaga baik. Peningkatan kasus bukan hanya diikuti perlunya pertambahan jumlah tempat tidur, oksigen, atau obat, melainkan juga alat pelindung diri (APD) untuk petugas dan menjaga agar petugas kesehatan tidak tumbang karena kelelahan bekerja.

Secara umum rumah sakit kita sudah punya sistem yang mumpuni untuk antisipasi kemungkinan peningkatan kasus. Ada baiknya tentu kalau sekarang dilakukan latihan dan kegiatan simulasi, baik table top maupun langsung di lapangan untuk menjamin bahwa semua sisi siap menghadapi apa pun kemungkinan yang ada, sambil tentu terus berdoa dan berupaya agar skenario terbaiklah yang terjadi.

Antisipasi ke dua ialah kemampuan untuk terus melakukan surveilans dengan cermat. Dengan kegiatan ini, kita dapat mengetahui pola kecenderungan kasus yang ada di masyarakat dan di rumah sakit serta fasilitas pelayanan kesehatan lain sehingga kalau saja ada kecenderungan mulai meningkat, harus waspada untuk tindakan selanjutnya. Salah satu masalah kini ialah sudah adanya varian dan mutasi baru maka surveilans ini harus juga melibatkan data genomik dengan jumlah sampel yang memadai, jangan terlalu sedikit.

Harus diingat bahwa kegiatan surveilans bukan hanya pengumpulan data yang terus-menerus, melainkan juga harus diikuti dengan tindak lanjut yang tepat. Kalau pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan baik, keputusan yang diambil bersifat evidence based, berdasar bukti ilmiah sehingga akan memberi hasil yang memuaskan.

Antisipasi ke tiga ialah kesiapan sektor nonkesehatan, termasuk antisipasi dampak sosio ekonomi. Pengalaman berbagai negara menunjukkan peningkatan kasus tidak terkendali punya dampak langsung pada keresahan masyarakat, kesulitan mendapat bahan pokok, dan dampak sosio psikologis lainnya.

Kesiapan untuk mengatasi hal ini, tentu perlu dibuat dengan saksama dan rinci. Termasuk, juga aspek komunikasi risiko yang cermat serta penentuan kebijakan publik yang konsisten di berbagai tingkatan.

Kita berharap, agar libur di akhir pekan ini dapat kita nikmati dengan baik, dan dengan kesadaran kita bersama maka situasi covid-19 dapat terkendali.

BERITA TERKAIT